Gus Par Buktikan Komitmen, Air Mengalir dan Petani Subak Samuh Panen di Musim Kemarau

gus-par-buktikan-komitmen-air-mengalir-dan-petani-subak-samuh-panen-di-musim-kemarau
Bupati Karangasem I Gusti Putu Parwata (Gus Par) bersama para petani panen bawang di lahan seluas 20 hektar di Subak Abian Samuh Banjar Dinas Paleg, Desa Adat Paleg Kaje, Desa Ban, Kecamatan Kubu, Senin (31/8).

KARANGASEM, Balifactualnews.com – Musim kemarau tak lagi identik dengan lahan pertanian yang menganggur bagi petani Subak Abian Samuh, Banjar Dinas Paleg, Desa Adat Paleg Kaje, Desa Ban, Kexamatan Kubu, Hadirnya aliran air sejak Juni lalu membuat sekitar 20 hektare lahan pertanian tetap produktif.

Bahkan, Senin (31/8), para petani mulai memanen bawang yang ditanam di tengah musim kemarau. Panen tersebut menjadi catatan penting bagi 45 kepala keluarga (KK) yang menggarap lahan di Subak Abian Samuh. Untuk pertama kalinya, mereka bisa bercocok tanam hingga panen pada musim kemarau dengan dukungan aliran air yang sebelumnya menjadi persoalan utama.

Momen panen itu turut disaksikan langsung Bupati Karangasem I Gusti Putu Parwata, yang akrab disapa Gus Par. Kehadiran orang nomor satu di Karangasem tersebut sekaligus untuk melihat secara langsung dampak masuknya aliran air terhadap produktivitas lahan pertanian.

Persoalan air sebelumnya disampaikan para petani kepada Bupati Gus Par ketika dirinya menghadiri panen bawang pada musim penghujan, sekitar April lalu. Saat itu, petani mengeluhkan keterbatasan air sebagai kendala utama untuk mempertahankan aktivitas pertanian ketika musim kemarau tiba.

Gus Par kemudian mendorong agar persoalan tersebut dicarikan solusi. Hasilnya, mulai Juni aliran air sudah dapat masuk dan dimanfaatkan untuk mengairi kawasan pertanian Subak Abian Samuh.

“Waktu bulan April saya datang, petani menyampaikan bahwa kendala utamanya adalah air. Saya sampaikan, bagaimana caranya supaya musim kemarau tetap bisa menanam. Puji syukur, mulai Juni air sudah bisa mengalir dan hari ini kita melihat sendiri hasilnya,” ujar Gus Par saat menghadiri panen.

Menurut Gus Par, ketersediaan air bukan sekadar persoalan teknis pengairan, tetapi menjadi kunci untuk menjaga keberlanjutan dan produktivitas pertanian. Dengan air yang tersedia, petani memiliki peluang memperpanjang masa tanam tanpa sepenuhnya bergantung pada curah hujan.

“Kalau biasanya dalam setahun bisa dua sampai maksimal tiga kali tanam, dengan adanya air ini kita berharap bisa meningkat menjadi empat bahkan lima kali. Artinya, lahan tetap produktif dan pendapatan petani juga bisa ikut meningkat,” katanya.

Tak hanya bawang, petani mulai memanfaatkan peluang tersebut untuk mencoba sejumlah komoditas lain. Timun dan kacang panjang menjadi tanaman yang mulai dikembangkan untuk melihat potensi produksi lahan pada musim kemarau.

Bagi petani Subak Abian Samuh, air yang mengalir kini membuka harapan baru. Kemarau yang sebelumnya membatasi aktivitas bercocok tanam justru mulai diubah menjadi kesempatan untuk meningkatkan produksi.

Gus Par menegaskan, pemerintah daerah akan terus mendorong penguatan sektor pertanian, terutama dalam memenuhi kebutuhan dasar petani berupa ketersediaan air.

“Kita tidak ingin lahan pertanian hanya produktif saat musim hujan. Kalau airnya tersedia, mari kita manfaatkan lahan ini sebaik-baiknya. Pemerintah akan terus berupaya agar kebutuhan air untuk pertanian bisa semakin baik,” tegasnya.

Subak Abian Samuh memiliki lahan sekitar 20 hektare yang digarap 45 KK. Dengan tersedianya aliran air sejak Juni, petani kini tidak hanya memiliki kesempatan mempertahankan produktivitas lahan saat kemarau, tetapi juga membuka peluang meningkatkan frekuensi tanam dan mengembangkan komoditas yang memiliki nilai ekonomi. (tio/bfn)