Tujuh Kilometer Demi Pasien

Kisah Dokter Anak Menembus Krisis BBM demi Pengabdian di RSUD Karangasem

tujuh-kilometer-demi-pasien
dr. Ni Wayan Kurnia Wati, M.Biomed., Sp.A.,

KARANGASEM, Balifactualnews.com – Pagi itu, jalan kaki bukan sekadar pilihan. Ada tanggung jawab yang harus ditunaikan dan pasien yang menunggu.

Dari rumahnya di Desa Bungaya, Kecamatan Bebandem, dr. Ni Wayan Kurnia Wati, M.Biomed., Sp.A., memilih berjalan kaki (tepatnya berlari, Red) menuju RSUD Karangasem, Kamis (15/10).

Jarak sekitar tujuh kilometer harus ditempuhnya dengan memakan waktu sekitar satu jam.
Biasanya, perjalanan tersebut ditempuh dengan kendaraan. Namun, di tengah krisis bahan bakar minyak (BBM) yang memicu antrean panjang di sejumlah SPBU, perjalanan menuju rumah sakit menjadi persoalan tersendiri. Dan, dr. Kurnia memilih tidak menunggu. Ia berjalan.

“Daripada nunggu antrean bensin, lebih cepat sampai kalau jalan kaki,” ujarnya singkat.
Pilihan itu membuat perjalanan menuju rumah sakit berubah menjadi kisah kecil tentang pengabdian. Jalan yang biasanya dilalui dengan kendaraan harus ditaklukkan dengan langkah kaki.

Tujuh kilometer. Satu jam berjalan kaki. Bukan jarak yang ringan. Namun bagi dokter spesialis anak yang telah mengabdi di RSUD Karangasem sejak 2015 tersebut, ada sesuatu yang lebih penting daripada rasa lelah, karena ada pasien yang menunggu.

Langkah demi langkah dilaluinya hingga akhirnya tiba di rumah sakit. Tidak ada kendaraan yang mengantar. Tidak ada waktu yang dihabiskan untuk menunggu antrean BBM.

Hanya langkah kaki yang terus bergerak menuju tempat pengabdian.

Kisah dr. Kurnia menjadi gambaran bagaimana kelangkaan BBM mulai menyentuh pelayanan kesehatan. Persoalan yang awalnya terlihat sebagai masalah antrean kendaraan perlahan merembet pada mobilitas tenaga kesehatan.

Kabid Pelayanan RSUD Karangasem, dr. I Gusti Lanang Udiyana, mengatakan dampak kelangkaan BBM mulai terasa di lingkungan rumah sakit. Kunjungan pasien mengalami penurunan. Sejumlah pegawai juga terlambat datang karena harus mengantre BBM.
Meski demikian, pelayanan tetap diupayakan berjalan.

“Kami sangat mengapresiasi dedikasi dokter Kurnia, semoga bisa menjadi inspirasi bagi nakes yang lain,” kata Udiyana.

Menurutnya, apa yang dilakukan dr. Kurnia menunjukkan bahwa keterbatasan di tengah situasi sulit tidak semestinya menghentikan semangat tenaga kesehatan dalam menjalankan tugas pelayanan kepada masyarakat.

Di sisi lain, pelayanan rujukan pasien di RSUD Karangasem masih berjalan aman. Persediaan BBM untuk kendaraan ambulans juga masih mencukupi, meski kondisi kelangkaan tersebut sedikit mengganggu operasional rumah sakit.

Pihak rumah sakit tetap mewaspadai kemungkinan kelangkaan BBM berlangsung lebih lama. Sebab, jika kondisi tersebut berlanjut, mobilitas tenaga kesehatan maupun pelayanan kepada masyarakat berpotensi ikut terdampak.

Namun, Kamis pagi itu menyisakan sebuah cerita yang sederhana. Seorang dokter berjalan kaki sejauh tujuh kilometer untuk sampai ke rumah sakit. Bukan karena perjalanan itu mudah.

Bukan pula untuk mencari perhatian. Ia hanya memilih cara yang menurutnya paling cepat agar bisa tiba dan menjalankan tugas.

Tujuh kilometer mungkin hanya angka di atas kertas. Tetapi ketika ditempuh dengan berjalan kaki selama satu jam, jarak itu menjadi gambaran tentang sebuah pengabdian. (Ketut Parwata)