KARANGASEM, Balifactualnews.com – Kelangkaan BBM mulai menggerus waktu dan aktivitas warga. Di Karangasem, masyarakat harus rela menghabiskan hampir setengah hari hanya untuk mendapatkan bahan bakar. I Nyoman Wijana, warga Lingkungan Jasri,
Karangasem, harus mengantre selama 11 jam hanya demi mendapatkan BBM senilai Rp50 ribu.
Wijana mulai mengantre sejak pukul 05.00 WITA, Jumat (16/10/2026). Setelah bertahan selama berjam-jam di tengah antrean kendaraan yang mengular, ia baru berhasil mendapatkan BBM sekitar pukul 16.00 WITA.
“Bayangkan, dari pukul 05.00 WITA saya sudah mengantre, baru sekitar pukul 16.00 WITA bisa mendapatkan BBM. Sebelas jam waktu saya habis hanya untuk membeli bensin Rp50 ribu. Ini bukan hanya soal capek, tetapi pekerjaan dan aktivitas kami juga ikut terganggu. Kami berharap kondisi ini segera normal. Jangan sampai masyarakat harus menghabiskan setengah hari hanya untuk mendapatkan BBM,” tegas Wijana, Jumat (16/10/2026).
Penantian selama 11 jam tersebut menjadi gambaran beratnya dampak gangguan pasokan dan distribusi BBM. Waktu yang seharusnya digunakan untuk bekerja dan menjalankan aktivitas sehari-hari justru tersita di antrean SPBU.
Situasi di lapangan juga semakin sensitif. Antrean kendaraan yang memanjang hingga mengganggu arus lalu lintas sempat diwarnai ketegangan ketika sejumlah pengendara diduga berusaha menyerobot antrean. Pengendara lain yang telah menunggu berjam-jam langsung memprotes hingga situasi nyaris memicu keributan.
Jajaran Polres Karangasem turun melakukan pengamanan dan pengaturan lalu lintas di sekitar SPBU. Petugas memastikan antrean tetap tertib sekaligus mengantisipasi potensi gesekan antar-pengendara.
Tak hanya mengatur lalu lintas, polisi juga membagikan air minum kemasan kepada warga yang bertahan dalam antrean panjang. Bantuan tersebut menjadi bentuk kepedulian kepada masyarakat yang harus menunggu berjam-jam di tengah kondisi pasokan BBM yang belum normal.
Panjangnya antrean menunjukkan persoalan BBM bukan sekadar menyangkut ketersediaan stok. Ketika distribusi tersendat, masyarakat menjadi pihak yang paling merasakan dampaknya, mulai dari kehilangan waktu produktif, terganggunya pekerjaan hingga meningkatnya potensi gesekan di lapangan.
Warga berharap pemerintah bersama Pertamina segera mempercepat pemulihan pasokan dan distribusi BBM di Bali. Sebab, bagi masyarakat, BBM bukan sekadar bahan bakar kendaraan, tetapi penopang aktivitas dan penghidupan sehari-hari. (ger/bfn)













