Baku Tembak di Papua, Satu Balita Tewas, Ribuan Warga Mengungsi

 

Kelompok TNPB-OPM (foto ist)

TIMIKA, Balifactualnews.com – Kelompok  pemberontak  yang menamakan dirinya Tentara Nasional Papua Organisasi Papua Merdeka (TNPB-OPM) kembali baku tembak  dengan pasukan pemerintah 31 Oktober 2021.  Media Francis AFP merilis, pemberontakan yang menewaskan seorang balita itu,  membuat ribuan warga  Timika di Wilayah Papua,  mengungsi.

Wilayah di ujung paling timur kepulauan Asia Tenggara itu, dinilai menjadi tempat bentrokan selama beberapa dekade dan menjadi salah satu pemberontakan terlama di dunia.

Pekan ini, seorang anak laki-laki berusia dua tahun tewas dalam baku tembak. Sedangkan seorang anak berusia enam tahun dirawat di rumah sakit karena luka tembak diderita  dalam baku tembak yang terjadi di Kabupaten Intan Jaya. Menurut pihak tertentu, pemberontak kemudian mencoba menguasai setempat.

Pastor Dominikus Hodo di Keuskupan Katolik di Timika, kepada wartawan menuturkan,  baku tembak  antara pasukan pemerintah dengan kelompok separatis itu, membuat  sekitar 2.000 orang Timika mengungsi dan berlindung di gedung-gedung yang dikelola gereja.

“Kami kedua pihak yang bertikai untuk segera mengerahkan senjata dan memulai dialog untuk mewujudkan perdamaian abadi,” kata Hodo kepada AFP.

Juru bicara Kepolisian Papua, Faizal Ramadhani, mengakui dalam baku tembak tersebut militer  lebih mengutamakan penyelamatan yang bersifat vital. “Situasinya menjadi jauh lebih baik,” katanya

Dipihak lain, juru bicara TPNPB-OPM Sebby Sambom mengatakan baku tembak  yang dilakukan itu merupakan pertempuran yang sah.

“Sikap kami sangat jelas dalam membela hak rakyat Papua untuk mewujudkan negara yang dijamin oleh hukum internasional,” katanya melalui pesan singkat.

Seperti diketahui, Papua merupakan wilayah bekas jajahan Belanda  dan memiliki  kekayaan mineral yang melimpah. Wilayah di ujung paling timur kepulauan Asia Tenggara itu mendeklarasikan dirinya merdeka pada tahun 1961.

Indonesia mengambil alih negara boneka bentukan Belanda ini dua tahun kemudian menjanjikan referendum kemerdekaan yang didukung PBB. Namun, pihak yang kalah tidak menerima dana menolak hasil itu  hingga memicu konflik  berkepanjangan. (tim/tio/bfn)