Bangli-Karangasem Diguyur Hujan Es, BBMKG Sebut Fenomena Alamiah

banner 120x600
Fenomena hujan es di Desa Adat Bukit Galah dan Desa Sebudi, Kecamatan Selat

KARANGASEM, Balifactualnews.com —Hujan lebat yang terjadi di lereng Gunung Agung, memunculkan fenomena hujan es di sejumlah wilayah di Karangasem. Terparah terjadi di Desa Adat Bukit Galah dan Desa Sebudi, Kecamatan Selat.

Bendesa Adat Bukit Galah, I Putu Suyasa, mengatakan, hujan es yang permukaanya menyerupai es batu melanda wilayahnya sekitar pukul 15.30. “Durasi waktunya tidak begitu lama, sekitar 5 menit. Sekarang hujanya sudah normal dan tidak lagi ada butiran es nya,” ucap Suyasa.

Hujan es, kata Suyasa tidak hanya terjadi di wilayah Desa Adat Bukit Galah saja, namun wilayah lain yang ada disekitarnya juga terjadi hal serupa.

“Ukuran es yang jatuh dari langit tidak terlalu besar, sebesar mutiara. Es yang jatuh ada yang diambil warga dan berserakan di halaman hingga ke lantai rumah warga,” terangnya.

Dipihak lain, Kepala Pelaksana BPBD KArangasem, IB Ketut Arimbawa, mengatakan, hujan Es hanya terjadi di di Desa Adat Bukit Galah dan Sebudi saja. “Kabarnya di wilayah Batur, Kintamani juga sempat terjadi hujan es yang sama percis dengan yang di Bukit Galah,” ucapnya.

Sementara itu, Kepala BBMKG Wilayah III Denpasar, Cahyo Nugroho, dalam keterangan tertulisnya mengatakan, fenemomena hujan es yang terjadi di Bukit Galah, Kabupaten Karangasem dan Desa Batur, Kabupaten Bangli, merupakan fenomena cuaca yang alamiah dan termasuk dalam kejadian cuaca ektrim.

“Bisanya fenomena hujan es diawali hujan lebat disertai petir dan angin kencang berdurasi singkat lebih banyak terjadi pada masa transisi atau musim pancaroba, dari musim kemarau ke musim hujan atau sebaliknya,” terangnya.

Hal atau fenomena hujan, kata Cahyo Nugroho, disebabkan adanya awan cumulonimbus (CB) yang terdapat tiga macam partikel, yakni, butir air, butir air super dingin, dan partikel es.

“Jadi hujan lebat yang masih berupa partikel padat, baik es atau hail dapat terjadi tergantung dari pembentukan dan pertumbuhan awan Cumulonimbus (CB) tersebut,” ungkapnya.

Menurut Nahyo Nugroho, tidak semua awan cumulonimbus menimbulkan hujan es atau hail. Kemungkinannya terjadi kembali di tempat yang sama juga sangat kecil karena waktu yang dimiliki sangat singkat.

“Berdasarkan pantauan citra radar cuaca wilayah Bali tanggal 1 Februari 2022 terjadi hujan sedang – lebat disertai kilat di beberapa titik di wilayah Kintamani, Bangli dan Wilayah Kecamtan Selat, Karangasem pukul 12.10 Wita – 16.00, hingga memicu fenomena hujan es di Desa Batur Kecamatan Kintamani dan Desa Bukit Adat Galah di Kecamatan Selat,” pungkasnya.(tio/bfn)