Bertema ‘Karangasem Jani Wii, Karangasem Jana Kerthi’, Bupati Gede Dana Pimpin Apel Peringatan HUT Kota Amlapura ke-384

bertema-karangasem-jani-wii-karangasem-jana-kerthi-bupati-gede-dana-pimpin-apel-peringatan-hut-kota-amlapura-ke-384
Bupati Karangasem, I Gede Dana, memimpin Apel Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Kota Amlapura ke-384 yang bertemakan "Karangasem Jani Wii, Karangasem Jana Kerthi" di lapangan Tanah Aron, Sabtu (22/6/2023) pagi.
banner 120x600

KARANGASEM, Balifactualnews.com – Bupati Karangasem, I Gede Dana, memimpin Apel Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Kota Amlapura ke-384 yang bertemakan “Karangasem Jani Wii, Karangasem Jana Kerthi” di lapangan Tanah Aron, Sabtu (22/6/2023) pagi. Acara tersebut diawali dengan pembacaan sejarah Kota Amlapura.

Kota Amlapura, pusat pemerintahan, ekonomi, sosial, dan kebudayaan Kabupaten Karangasem, memiliki sejarah panjang sejak era Kerajaan Karangasem. Berdirinya kerajaan ini erat kaitannya dengan Ida I Dewa Karang Amla sebagai raja vasal Kerajaan Gelgel pada 1640 dan Dinasti Arya Batan Jeruk yang dipelopori oleh Gusti Pangeran Oka.

Sejak pindah dari Gelgel, Ida I Dewa Karang Amla mulai menata Karangasem dengan membangun Puri Batuaya dan Puri Amlarajya. Ia mewariskan tahtanya kepada putra angkatnya, I Gusti Pangeran Oka. Penerusnya, Ida Anglurah Nyoman Karangasem, melaksanakan upacara abhiseka di Puri Amlarajya pada 1611 dan resmi menggunakannya sebagai pusat pemerintahan pada 22 Juni 1640.

Pada 17 Agustus 1970, Bupati Anak Agung Gede mendeklarasikan Amlapura sebagai ibu kota Kabupaten Karangasem. Nama “Amlapura” dipilih berdasarkan tiga dokumen sejarah yang menyebut kata “Amla”: Puri Amlarajya, naskah lontar Negarakertagama yang menyebut Karangasem sebagai Amlanegantun, dan Babad Dalem yang merujuk wilayah timur Bali yang diperintah oleh Ida I Dewa Karang Amla.

Secara formal, Kota Amlapura ditetapkan sebagai ibu kota Kabupaten Karangasem melalui Keputusan Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia Nomor 284 pada 28 November 1970. Pada 17 Agustus 1971, monumen lambang daerah diresmikan sebagai simbol kebanggaan Kabupaten Karangasem, yang menjadi awal perayaan HUT Kota Amlapura yang disinkronkan dengan HUT Kemerdekaan RI.

Setelah penelitian panjang dari 2013 hingga 2015, pada masa pemerintahan Bupati I Wayan Geredeg dan I Made Sukerana, ditetapkan bahwa hari jadi Kota Amlapura jatuh pada 22 Juni 1640, sebagaimana diatur dalam Peraturan Daerah Kabupaten Karangasem Nomor 1 Tahun 2015. Tanggal ini dipilih berdasarkan sejarah eksistensi Ida I Dewa Karang Amla dan Dinasti Arya Batan Jeruk sebagai perintis berdirinya Karangasem. Setiap tahun, 22 Juni diperingati sebagai hari jadi Kota Amlapura.

Bupati Gede Dana, selaku Inspektur Upacara, di hadapan ratusan peserta yang terdiri dari jajaran pegawai ASN di lingkungan Pemerintah Kabupaten Karangasem, pasukan TNI POLRI, dan pelajar, membacakan sambutan PJ Gubernur Bali S.M. Mahendra Jaya. “Saya mengapresiasi pelaksanaan perayaan HUT Kota Amlapura yang bersamaan dengan peringatan Bulan Bung Karno,” katanya.

Dalam sambutan PJ Gubernur menyampaikan selamat Hari Jadi Kabupaten Karangasem yang ke-384, disertai doa agar pembangunan di Karangasem terus maju dan masyarakatnya semakin sejahtera.

Tema peringatan kali ini adalah “Karangasem Jani Wi (Jana Kerthi Wikrama)”, yang bermakna pemuliaan hidup manusia secara sakala-niskala melalui sumber daya manusia yang unggul dan bermartabat untuk pembangunan.

PJ Gubernur Bali menekankan pentingnya kemampuan beradaptasi terhadap globalisasi untuk mempercepat kemajuan daerah dengan pembangunan berkelanjutan. Upaya bersama diperlukan untuk menyiapkan sumber daya manusia yang unggul, mengatasi persoalan kemiskinan ekstrem, pengentasan kemiskinan, dan stunting. Hal ini harus dimulai dari validasi data, pemetaan akar masalah, hingga intervensi yang tepat sasaran.

Pembangunan sumber daya manusia yang unggul harus dimulai sejak dalam kandungan, memastikan bayi lahir sehat dan tumbuh kembangnya terjaga. Selain itu, upaya meningkatkan standar kehidupan dasar, kompetensi melalui pendidikan, pelatihan, peningkatan infrastruktur, ketersediaan fasilitas kesehatan, dan pengurangan beban masyarakat harus terus dilakukan.

PJ Gubernur juga menekankan bahwa pembangunan berkelanjutan di Karangasem harus bersifat partisipatif, memperhatikan aspirasi masyarakat dan sejalan dengan rencana pembangunan Provinsi Bali dan Nasional.

Berbagai program untuk menata keharmonisan alam, manusia, dan kebudayaan melalui perlindungan, pemuliaan, dan penyucian alam semesta, serta pembangunan sumber daya manusia yang unggul dan bermartabat, harus dijalankan secara tertib, konsisten, dan berkelanjutan oleh pemerintah bersama seluruh komponen masyarakat.

Dengan demikian, diharapkan Kabupaten Karangasem dapat mencapai keadaan yang tata-titi tentram kerta raharja.

Ditemui seusai Apel, Bupati Gede Dana mengajak masyarakat di Kabupaten Karangasem untuk semakin bijak dalam menyikapi perkembangan teknologi dan informasi. “Manfaatkan secara positif untuk mendorong bisnis, investasi, dan peningkatan transaksi perekonomian di Karangasem,” ujarnya.

Turut hadir dalam acara tersebut, Bupati Karangasem dari masa ke masa, termasuk, I Wayan Geredeg, SH., MAP (Bupati Periode 2005-2015), I Gusti Ayu Mas Sumatri, S.Sos, MAP (Bupati Karangasem Periode 2016-2021), Drs. I Gusti Putu Widjera (Wakil Bupati Karangasem Periode 2000-2005), I Made Sukerana, SH (Wakil Bupati Karangasem Periode 2010-2015), I Wayan Sukadana, S.Sos (Ketua DPRD Kabupaten Karangasem Periode 2004-2009), Forkopimda Karangasem, Penglingsir Puri Karangasem termasuk Bupati/Walikota se-Provinsi Bali, para pimpinan OPD di lingkungan Pemkab Karangasem, dan undangan lainnya.

Upacara juga dimeriahkan dengan menyanyikan lagu Mars Karangasem, Hymne Karangasem dan Mars Maskot Karangasem yang dibawakan oleh regu paduan suara Gita Suara Pemkab Karangasem dan Korsik GAP(Gita Adi Praja) Karangasem dan Pengibaran Bendera Sang Saka Merah Putih oleh Pasukan Paskibra Karangasem angkatan tahun 2024. (ger/bfn)