BPBD Karangasem : Mitigasi Bencana Mandiri Sangat Penting Dipahami Masyarakat

bpbd-karangasem-mitigasi-bencana-mandiri-sangat-penting-dipahami-masyarakat
Kalaksa BPBD Karangasem, Ida Bagus Ketut Arimbawa.

KARANGASEM, Balifactualnews.com – BPBD Karangasem sebagai instansi terdepan dalam penanggulangan bencana yang merupakan perpanjangan pemerintah daerah selalu bersama masyarakat saat terjadi bencana. Namun bencana alam sering tak dapat di prediksi kapan datangnya dan kerap juga menimbulkan kerusakan bahkan korban jiwa. Untuk itu sebagai langkah awal penyelamatan saat bencana terjadi, kepada media ini Kepala Pelaksana BPBD Karangasem Ida Bagus Ketut Arimbawa pada Sabtu(13/1) menyampaikan, ada beberapa tindakan penyelamatan yang harus diambil. Langkah pertama yang harus diambil adalah penyelamatan diri, karena keselamatan jiwa adalah hal yang paling utama.

Arimbawa menambahkan, ada beberapa langkah penyelamatan pada saat bencana datang, antara lain apabila terjadi gempa bumi, bencana alam yang satu ini benar-benar belum bisa diperkirakan kapan terjadi dan dimana. Untuk itu lanjutnya, apabila terjadi gempa terlebih gempa berkekuatan besar adalah salah satunya bersikap tenang dan jangan panik agar dapat melakukan tindakan penyelamatan diri dan keluarga dengan baik. Segera keluar rumah jika berada di dalam rumah. Carilah tempat yang agak lapang agar tidak tertimpa pohon atau bangunan yang mungkin runtuh.

Apabila saat berada di dalam gedung bertingkat atau bangunan yang tinggi lanjutnya, kemungkinan untuk keluar sangat sulit dan membutuhkan waktu yang lama, tindakan yang harus diambil adalah berlindung di bawah meja atau tempat yang dapat menahan diri dari reruntuhan atau jatuhnya benda – benda. Saat berada di jalan raya, kurangilah kecepatan kendaraan atau berhentilah di pinggir jalan, namun usahakan tempat pemberhentian jauh dari pohon, papan reklame, atau bangunan yang ada di sekitar jalan. Saat berada di pusat keramaian, hindarkan diri dari berdesak-desakan untuk keluar pintu. Lebih baik cari tempat berlindung yang aman dari reruntuhan atau jatuhnya benda-benda.

Selanjutnya apabila terjadi bencana prediksi tsunami yakni diawali gempa kemudian air laut surut secara tiba – tiba, segeralah lari menjauh dari pantai dan cari tempat yang lebih tinggi karena kemungkinkan tsunami akan terjadi jika gempa terjadi pada malam hari dengan kekuatan yang besar dan kemungkinan aliran listrik dan saluran telekomunikasi akan terputus. Jika hal itu terjadi dalam keadaan darurat segeralah mencari bangunan bertingkat dan naik keatas.

“Untuk deteksi dini bencana tsunami, Pemerintah telah memasang alat pemantau tsunami di pantai. Jika terjadi gempa dan disertai dengan tsunami, atat itu akan membunyikan suara sirine. Saat terdengar suara sirine segeralah menjauh dari pantai dan mencari tempat yang tinggi,” terangnya.

Saat terjadi banjir lanjut Arimbawa, apalagi banjir sudah memasuki rumah, lebih baik mengungsi ke tempat yang lebih aman. Perhatikan kebersihan tempat, makanan, dan minuman. Saat terjadi banjir mudah sekali kuman penyakit tersebar dan berjangkit. Waspada terhadap lingkungan sekitar agar terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan, misalnya tersengat aliran listrik.

“Selain itu, untuk penanggulangan akibat kebakaran hutan atau area lahan kering lainnya, usahakan tidak terlalu banyak keluar rumah untuk menghindari asap. Jika keluar rumah, gunakanlah masker untuk mengurangi pengaruh buruk asap terhadap pernapasan kita,” jelas Arimbawa.

Bencana alam yang terjadi secara tiba-tiba kata Arimbawa terkadang menimbulkan korban luka-luka maupun meninggal dunia. BPBD selama ini selain melakukan tindakan penyelamatan juga memberikan bantuan yang dibutuhkan korban bencana. “Bantuan dapat berupa barang – barang maupun bantuan  kejiwaan atau mental untuk dapat menghadapi bencana tersebut dengan sabar dan tegar agar dapat kembali menata hidupnya,” imbuhnya.

BPBD Karangasem, dari data Sistem Informasi Kebencanaan BPBD Provinsi Bali selama bulan Januari 2022, telah menangani bencana di wilayah Karangasem, diantaranya, 20 kejadian bencana pohon tumbang, kemudian 8 bencana tanah longsor, 1 kecelakaan perahu nelayan, 1 kebakaran warung dan dapur, 1 senderan jalan kabupaten yang tergerus, 2 bangunan roboh dan 1 tembok roboh, dan 1 orang hilang, yang selanjutnya juga menyalurkan bantuan dari pemerintah secara langsung kepada korban bersangkutan.

“Untuk itu masyarakat perlu mengetahui tentang mitigasi kebencanaan, karena Disaster Risk Reduction ini merupakan bentuk pengurangan kerugian yang lebih besar akibat bencana yang sulit dideteksi kemunculannya secara tepat. Selain itu, mitigasi bencana juga dilakukan untuk menghindari maupun mencegah keberadaan bencana. Mitigasi bencana tidak dapat menghilangkan dampak buruk dari bencana secara keseluruhan, tetapi dapat menguranginya,” pungkas Arimbawa. (ger/bfn)

Exit mobile version