KARANGASEM, Balifactualnews.com – Kabar baik datang dari upaya pencegahan kebakaran lahan di Kabupaten Karangasem. Dalam tiga tahun terakhir, jumlah kejadian kebakaran lahan menunjukkan tren penurunan. Di tengah capaian tersebut, Pemerintah Kabupaten Karangasem kini memperkuat peran desa dan masyarakat sebagai benteng pertama pencegahan kebakaran, terutama di wilayah Kecamatan Kubu.
Langkah itu ditegaskan Bupati Karangasem I Gusti Putu Parwata, yang akrab disapa Gus Par, saat membuka Sosialisasi dan Edukasi Masyarakat dalam Upaya Mencegah Kebakaran Lahan di Aula Kantor Camat Kubu, Senin (31/8).
Menurut Gus Par, keberhasilan menekan angka kebakaran tidak cukup hanya mengandalkan kesiapan petugas pemadam. Kesadaran masyarakat, kesiapsiagaan desa, serta kekuatan adat menjadi bagian penting untuk mencegah api sejak sumbernya.
“Kita tidak ingin menunggu api membesar baru bergerak. Pencegahan harus dimulai dari kesadaran masyarakat dan kekuatan desa,” ujar Gus Par.
Ia menyebut Kecamatan Kubu memiliki tantangan tersendiri karena sebagian wilayahnya didominasi lahan kering yang mudah terbakar ketika musim kemarau. Karena itu, langkah pencegahan harus dilakukan lebih awal dan melibatkan seluruh unsur masyarakat.
Gus Par juga mengapresiasi keterlibatan para Perbekel, Bendesa Adat, Kelihan Desa Adat, BPD, Babinsa, Bhabinkamtibmas, Satlinmas, Pecalang hingga Relawan Pemadam Kebakaran (REDKAR).
Menurutnya, keberadaan mereka menjadi modal penting dalam membangun sistem deteksi dini berbasis masyarakat.
“Kalau kita ingin mencegah kebakaran, maka benteng pertahanan pertama ada di desa. Karena masyarakat yang paling cepat melihat, mengetahui dan merespons ketika ada potensi api,” katanya.
Optimisme itu semakin kuat melihat perkembangan angka kebakaran lahan. Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kabupaten Karangasem, Artha Negara, melaporkan jumlah kejadian terus berkurang.
Pada 2024 tercatat 92 kejadian kebakaran lahan, dengan 64 kejadian di Kecamatan Kubu. Angka tersebut turun menjadi 39 kejadian pada 2025, termasuk 31 kejadian di Kubu.
Sementara hingga 29 Agustus 2026, tercatat 23 kejadian di Kabupaten Karangasem dan 14 di antaranya terjadi di Kecamatan Kubu.
Penurunan tersebut menjadi sinyal positif bahwa kesadaran dan upaya pencegahan mulai menunjukkan hasil. Namun, pemerintah tidak ingin terlena.
Pemkab Karangasem kini mendorong penguatan tiga langkah utama, yakni edukasi Pembukaan dan Pengelolaan Lahan Tanpa Membakar (PLTB), peningkatan kemampuan masyarakat dalam menangani api sejak tahap awal, serta percepatan pembentukan dan legalisasi REDKAR di tingkat desa.
Penguatan REDKAR diarahkan di delapan desa di Kecamatan Kubu, yakni Desa Kubu, Dukuh, Tulamben, Baturinggit, Sukadana, Tianyar, Tianyar Tengah dan Tianyar Barat.
Sosialisasi juga melibatkan unsur lintas sektor, mulai dari Kodim 1623/Karangasem, Polres Karangasem, Kejaksaan Negeri Karangasem hingga Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Karangasem. Pembekalan mencakup pencegahan, kesiapsiagaan, penanganan awal, aspek hukum dan pengelolaan lingkungan.
Gus Par berharap gerakan bersama tersebut tidak berhenti pada kegiatan sosialisasi, tetapi menjadi budaya baru dalam menjaga lingkungan.
“Jangan tunggu api membesar baru kita bergerak. Mencegah satu percikan api hari ini jauh lebih mulia daripada memadamkan kobaran api besok,” tegasnya.
Dengan desa yang semakin siaga, masyarakat yang semakin peduli dan relawan yang semakin siap, Karangasem terus membangun sistem pencegahan kebakaran yang berbasis gotong royong.
Bagi Gus Par, menjaga Karangasem dari ancaman kebakaran bukan semata tugas pemerintah. Ini adalah gerakan bersama untuk memastikan lingkungan tetap aman, lestari, dan nyaman bagi generasi yang akan datang.
“Pencegahan adalah tanggung jawab kita semua. Mari kita jaga Karangasem bersama,” pungkasnya. (tio/bfn)













