Kepala BNPB : Bali menjadi inspirasi bagi daerah lain.

banner 120x600

________________________________________________________________________________

DENPASAR–Kepala BNPB Letjen Doni Monardo hadir pada acara Deklarasi KSB (Kampus Siaga Bencana), acara berlangsung di Gedung Auditorium Kampus Warmadewa. Hadir pada acara tersebut Rektor, Ketua Yayasan, Civitas Akademika, Kalaksa BPBD Prov Bali  dan instansi terkait. Deklarasi ditandai dengan pembacaan Deklarasi, penandatangan prasasti, dan tanda tangan dukungan di atas banner oleh semua pihak.

Berikut beberapa statement Kepala BNPB, dalam Deklarasi tersebut yang disampaikan saat didaulat memberi sambutan. Bali semoga bisa jadi contoh untuk jaga dan lestarikan lingkungan nya karena punya konsep TRI HITA KARANA (THK).

Kalau ada sungai kotor, atau buang sampah ke sungai, itu bukan orang Bali. Jangan menunggu aturan, ini masalah kesadaran untuk melakukan gerakan tidak menggunakan plastik, warmadewa harus menjadi pelopor.

Alam Bali tidak luas, maka di Bali tidak boleh ada sampah. Gerakan jaga lingkungan, pohon dijaga, diupacarai, dikasi kain (kamben) berangkat dari konsep THK.

Contoh lain kearifan lokal ada di tataran sunda, penamaan sungai diawali dengan ci (citarum dll) dan nama pohon diawali dengan nama ki, ini wujud cinta alam dan lingkungan. Logo harimau bagi Jawa Barat pertanda maung Bandung, tapi kalau orang sunda tidak menjaga lingkungan maung akan berubah jadi meong bandung.

Falsafah lause (filosof cina), “datangi rakyatmu, tanya apa kebutuhannya, lakukan sesuatu bersamanya”. Hal ini wujud bersinerginya pemerintah dan masyatakat.

Harapan saya seluruh sungai di Bali agar bisa untuk mandi bahkan untuk air minum, lihat contoh sungai di Jepang. Jika seluruh Universitas di Bali bergerak dan berkomitmen untuk jaga lingkungan serta melaksanakan gerakan bebas plastik, maka Bali akan makin maju dan disenani atas kelestarian lingkungannya.

Salah satu faktor pendukung pariwisata adalah kebersihan dan juga Bali memiliki THK yang tidak dimiliki oleh daerah manapun di Indonesia bahkan di dunia. Menjadikan Kampus Siaga Bencana adalah langkah cerdas, semoga akan diikuti oleh kampus lainnya di Bali dan bahkan di seluruh Indonesia.

Saat ini BNPB lebih fokus pada pencegahan, jangan ada pembiaran, misalnya penebangan pohon dan buang sampah. Alam Bali harus menjadi tempat terbaik bagi dunia nasional dan bahkan internasional.

Saya mengajak seluruh masyarakat Bali untuk tidak menggunakan plastik kemasan sekali pakai, apresiasi terhadap Pemprov. Bali dan Kota Denpasar yang sudah mengeluarkan aturan tersebut melarang penggunaan plastik, ini harus menjadi contoh bagi daerah lain.

Saya berjanji pada diri sendiri tidak minum air kemasan, maka tambler adalah solusinya. Kemanapun saya pergi tambler itu setia menemani saya, ini juga sebagai wujug keseriusan dalam menjaga alam yang dimulai dari diri sendiri.

Saya berharap deklarasi hari ini tidak hanya seremonial saja, tapi lakukan hal-hal nyata melalu Tri Dharma Perguruan Tinggi, terutama pada sisi penelitian dan pengabdian masyarakat.

Seluruh komponen kampus harus memikirkan bagaimana kita hidup harmoni dengan bencana. Untuk bisa seperti itu maka lakukan langkah preventif dan upaya pencegahan dengan edukasi kepada masyarakat.

Saya memberi apresiasi kepada Bali khususnya BPBD Provinsi Bali yang telah membangun sistem peringatan dini tsunami dan sinergi yang luar biasa dengan dunia usaha dengan adanya sertifikasi kesiapsiagaan bagi hotel. BNPB minta kepada Bali agar bersedia menjadi narasumber untuk menularkan ilmu dan strateginya kepada daerah lain bahkan ke kami di Pusat (BNPB). Pertengahan Bulan Pebruari kami sudah minta BPBD Provinsj Bali dan pihak hotel untuk berbagi cerita pengalaman baik bagi Pemprov. Sumatera Barat dan pihak hotel yang ada di padang.

Saya menginginkan KSB akan menyebar ke seluruh Indonesia. Apalagi adanya keinginan Kalaksa BPBD Provinsi Bali bahwa simulasi tidak cukup hanya di bulan april (HKB)  dan Bulan oktober (bulan PRB), tapi saya salut dan bangga pada Bali yang mencanangkan tiap tanggal 26 (tiap bulan) sebagai HARI SIMULASI BENCANA, maka contohlah Bali.

Mulai sekarang kita tanam pohon di pinggir pantai misalnya cemara udang, hal ini terbukti untuk mitigasi dan menahan ancaman tsunami. Upaya menanam berbagai jenis pohon (terutama di pantai) sudah terbukti mampu menyelamatkan manusia dari ancaman tsunami.

Kerusakan yang terjadi adalah karena prilaku kita (manusia), mulai sekarang mari lakukan pencegahan pemotongan & penebangan pohon serta cegah sampah. Mencegah adalah jauh lebih penting dibanding dengan menyatakan diri siap untuk selamat tatkala terjadi bencana.

Saya punya istilah “Gosong” global warming bukan omong kosong, ini terbukti dan telah terjadi. Sekali lagi mari kita siapkan diri dan kembangkan ke lingkungan di sekitar kita. Mari menjadi pahlawan-pahlawan kemanusiaan dengan melakukan langkah penyelamatan jiwa manusia, jangan malah menjadi pemicu & penyebab terjadinya sebuah bencana.

Kenali ancamannya dan siapkan strateginya, penta helix (pemerintah, masyarakat, dunia usaha, pakar/akademisi & media) mari terus BERSINERGI dalam upaya penanggulangan bencana.

Kita jaga alam, maka alam akan jaga kita, ini adalah implementasi konsep Tri Hita Karana, sekali lagi saya bangga pada Bali. (ani)