Utama  

Ketua SMSI Bali, Dukung Polisi Maksimalkan Penanganan Kasus Pencemaran Nama Baik di FB

banner 120x600
Emanuel Dewatan Oja/ Ketua SMSI Bali usai memberikan keterangan kepada penyidik Subdit V Siber Dit Reskrimsus Polda Bali tekait dugaan kasus pencemaran nama baik di facebook.

DENPASAR, Balifactualnews.com-Ketua Sarikat Media Siber Indonesia (SMSI) Bali, Emanoel Dewatan Oja, mendukung langkah Polda Bali  untuk memaksimalkan proses penanganan kasus  dugaan  perbuatan pencemaran nama baik dan tidak menyenangkan di facebook.

Dukungan yang diberikan Edo, demikian  wartawan senior ini disapa,  setelah memenuhi undangan pihak Penyidik Subdit V Siber Ditreskrimsus Polda Bali, Kamis 18 Februari 2021, untuk dimintai keterangan berkaitan kasus  dugaan perbuatan pencemaran nama baik dan tidak menyenangkan yang dilaporkan temannya bernama Waidhisastra, terhadap pemilik akun facebook Cristine Alexa.

“Ya, saya dimintai keterangan berkaitan kasus pencemaran nama baik  ini dalam upaya pendalaman penyidikan yang dilakukan pihak kepolisian. Intinya kita mendukung  penuh langkah kepolisian untuk memaksimalkan penanganan kasus ini,” ucap Edo.

Kehadiran Edo  ke Penyidik Subdit V Siber Ditreskrimsus Polda Bali tidak sendirian, dia ditemani beberapa pengurus SMSI Bali lainnya sebagai  bentuk dukungan dan memberi semangat.

“Ada 14 pertanyaan dari penyidik, macam-macam pertanyaannya tapi semua ada kaitannya dengan laporan ini,” ujar Edo.

Menurut Edo,  kasus dugaan pencemaran nama baik di media sosial seperti yang dilaporkan temannya itu, juga sebagai pembelajaran kepada masyarakat agar lebih dewasa  dan bijak dalam menggunakan media sosial.

“Proses penanganan kasus ini harus lebih dimaksimalkan, agar ada efek jera  bagi pelaku dalam kasus ini,” terangnya.

Seperti diketahui, Waidhisastra melaporkan pemilik akun facebook Cristene Alexa ke Reskrimsus Polda Bali.  Langkah itu dilakukan, karena   Cristine memposting foto dirinya yang disandingkan dengan Mak Lampir. Selain disandingkan dengan gambar tokoh jahat dalam serial film Saur Sepuh tersebut, Cristine juga menambahkan beberapa kalimat atau caption dalam postingan di akun pribadinya.

“Saya melapor karena dia sudah membuat postingan bernada penghinaan dan mencemarkan nama baik saya,” tutur Waidhisastra, ditemui usai melapor ke Dit Reskrimsus Polda Bali, belum lama ini.

Pelapor mengaku heran lantaran ia merasa tidak pernah mempunyai persoalan dengan Cristine yang dikenalnya sekitar delapan bulan yang lalu di sebuah sanggar senam di daerah Dalung, Kuta Utara, Badung.

Ia lalu menerangkan permasalahan ini diduga bermula ketika tengah berada di sanggar senam, Selasa 6 Oktober 2020 lalu. Saat itu , Cristine tampak keberatan saat pelapor mengambil posisi disampingnya dengan menunjukkan sikap, namun  pelapor tatap tidak menghiraukannya.

Sebelumnya, sekitar delapan bulan lalu, Cristine juga pernah menghampirinya dan bertanya apakah pelapor ada mempunyai masalah dengan anggota sanggar lainnya. Saat itu pelapor mengatakan benar ada masalah utang piutang, yakni yang bersangkutan pernah meminjam uang sama pelapor. Di sana Cristine lantas menimpali jika orang yang dimaksud perilakunya tidak baik dengan orang lain.

“Obrolan tersebut rupanya disampaikan ke orang tadi. Disitu saya jengkel,  karena merasa saya di adu domba dan faktanya diputar balikkan. Dari situ kemudian saya blokir pertemanan di facebook dengan dia,” ungkapnya.

Namun pada Rabu 7 Oktober 2020) malam, teman pelapor mengirim capture berisi postingan fotonya disandingkan dengan tokoh jahat Mak Lampir di facebook. Belakangan melalui pesan WhatsApp, Cristine justru marah-marah dan seolah menantang serta menyuruh korban melapor ke kantor polisi.

“Jadi hari ini saya datang melapor ke kantor polisi. Ini sebagai bentuk pelajaran agar kita saling menghormati privasi satu sama lain,” tuturnya.

Ketika melapor Waidhisastra membawa bukti berupa capture postingan terlapor di facebook berisi fotonya dengan isi tulisan, ‘Ada yg kenal jeleme nenek lampir ini gk… Klu teman2 knal tlng kasi tahu dia suruh nemuin saya atau saya yang cari dia…pingin di viralkan ini rupanya ratu dedemit…!!!’.

Meskipun postingan tersebut sudah dihapus,  namun pelapor yakin polisi bisa menelusuri jejak digitalnya meski terlapor berusaha menghilangkan barang bukti. “Saya ingin polisi memproses laporan ini sesuai ketentuan hukum yang berlaku agar ke depan tidak menjadi preseden buruk, yakni menghina orang seenaknya di medsos yang merupakan ruang publik,” pungkasnya. (ger/bfn)