Daerah  

Menjaga Etika Politik Caleg Gagal

banner 120x600

________________________________________________________________________________

Masyarakat Karangasem sudah berhasil memilih 45 calon wakilnya di DPRD Karangasem untuk lima tahun kedepan, dengan lancar aman dan damai. Kendati belum ada pengumuman resmi dari penyelenggara pemilu di daerah, namun gambaran siapa-siapa yang akan duduk di kursi terhormat itu sudah semakin transparan.

Catatan balifactualnews.com, sejak beberapa bulan terakhir hingga hari ini, calon legislatif yang memastikan lolos menuju kursi DPRD Karangasem mulai menunjukkan etika politiknya dengan santun. Dibalik “kemenangan” itu, sejauh ini tak ada pesta fora yang mereka tunjukkan. Sebuah penghormatan bagi caleg gagal dan patut diapresiasi positif.

Kedewasaan berpolitik juga semakin disadari para pendukung partai politik peserta pemilu. Beda dengan pesta demokrasi lima tahun lalu, pesta fora pendukung caleg sudah menghiasi sudut kota sebelum hasil final diumumkan KPU.



Menghindari “pukulan” hoax atas perjalanan pesta nan indah ini, KPU Karangasem dan Bawaslu Karangasem bekerja sesuai tugas dan fungsi mereka masing-masing. Sebagai penyelenggara, tentu KPU sudah melakukan tahapan-tahapan Pemilu dengan baik dan nyaris tanpa cela.

Sebaliknya sebagai pengawas, Bawaslu Karangasem juga sudah membawa peran pengawasan dan penindakan dengan sangat baik. Itu dibuktikan dari dua kasus pelanggaran pemilu melibatkan ASN, jauh sebelum puncak pesta ini dilaksanakan. Kasus pelanggaran pidana pemilu yang menjadi sorotan nasional, masuk ke ranah pengadilan dan sudah memiliki kekuatan hukum tetap. Satu kasus lagi menyangkut pelanggaran administrasi dari oknum ASN. Pemkab Karangasem sebagai pemangku kebijakan juga sudah mengeluarkan sanksi.

Sinergitas tanpa batas juga ditunjukan TNI/Polri. Sebagai pemangku keamanan di Gumi Lahar, kedua korp anti “huru hara” ini berhasil membawa perannya. Sinergitas personil Dandim 1623 Karangasem bersama personil Polres Karangasem, dibawah Komando Letnan Kolonel Infantri Bima Santosa dan Ajun Komisaris Besar Polisi I Gusti Ngurah Agung Ade Panji Anom dalam menjaga kondusifitas Karangasem, semakin menunjukkan taringnya. Terbukti dari tahapan demi tahapan Pemilu 2019 hingga pencoblosan, Karangasem masih dalam kondisi aman, nyaman dan damai.

Kini etika politik santun sedang menguji caleg gagal berebut kursi Dewan. Patut diakui kekalahan dalam “pertarungan” merebut suara rakyat memang menyesakkan. Ini tak terlepas dari duit yang mereka keluarkan tak sebanding dengan suara yang didapatkan.


Imbas dari kekalahan itu, oknum caleg gagal di Karangasem sudah mulai berulah. Dia acuh terhadap partai yang mengantarkannya untuk terlibat dalam pesta, dan berusaha menjadi “body guard” caleg partai lain yang dimungkinkan lolos dari pertarungan ini menuju kursi panas tersebut.

Datang ke PPK saat pleno dimulai sambil mengintip torehan suara sang “majikan”, sebuah etika politik yang tak elok. Undang-undang memang tidak ada melarang hal itu, tapi menyangkut etika politik partai, jelas ini sangat bersinggungan.

Caleg stres karena gagal merebut kursinya di DPRD Karangasem, tak hanya menjadi kerisauan keluarga mereka, juga menjadi keresahan masyarakat. Diantara mereka ada yang berusaha “mengganggu” jalannya rekapitulasi pleno di PPK, karena masih merasakan dirinya seperti punya kuasa seperti zamannya dulu.

Bukan hanya itu, caleg gagal juga mengganggu kompetitornya yang dipastikan lolos, dan menakut-nakuti caleg yang menang dengan suara tipis. Namun sayang “teror” alus yang dimainkan itu tak mempan, karena pringainya sudah ketahuan sejak awal.

Ada lagi caleg gagal yang berperilaku sangut. Oknum caleg ini berusaha mencari celah untuk mengembalikan kos politiknya yang habis tak berbekas. Konsistensi caleg gagal pada partai tempatnya bernaung mesti diuji kembali. Marwah politik pada kendaraan politik semestinya dijaga baik-baik, bukan sebaliknya keanggotaan belum dicabut malah membela kader partai lain hanya untuk mendapatkan pulus.

Semoga bermanfaat dan kedepan tidak lagi ada laku politik caleg gagal di Karangasem seperti ini. Wasalam…. (paramitha)