Utama  

Penyidik Periksa 5 Saksi Tersangka Rekanan Masker

banner 120x600
Matheos Matulessy SH

KARANGASEM, Balifactualnews.com—Penyidik Kejaksaan Negeri (Kejari) Karangasem, melakukan pemeriksaan tambahan terhadap 5  orang saksi dalam  perkara  dugaan korupsi pengadaan masker skuba Dinas Sosial dengan tersangka Direktur Duta Panda Konveksi, Ni Nyoman Yesi Anggani dan Direktur Addicted Invaders, I Kadek Sugiantara.

Kasi Pidsus Kejari Karangasem, Matheos Matulessy SH, melalui Kasi Intel I Dewa Gede Semara Putra,  Kamis (14/4/2022) mengatakan, lima orang saksi yang diperiksa itu, dua orang diantaranya rekanan pembanding harga masker scuba yang dikerjakan tersangka, pihak BPBD dan Bendahara Dinas Sosial Karangasem.

“Mereka diperiksa untuk memberikan keterangan tambahan atas keterlibatan tersangka Yesi Anggani dan I Kadek Sugiantara dalam perkara dugaan korupsi pengadaan masker Dinas Sosial yang perkaranya sudah masuk tahap pembuktian di Pengadilan Tipikor,” jelasnya.

Sebelumnya, lanjut Semara Putra, lima orang saksi itu sudah sempat dimintai keterangan, tapi keteranganya kepada penyidik masih belum final, sehingga harus dilakukan pemeriksaan tambahan.

“Keterangan tambahan  saksi-saksi ini untuk melengkapi keterangan yang sebelumnya sudah disampaikan kepada penyidik,” jelasnya.

Seperti dimediakan, Direktur Duta Panda Konveksi, Ni Nyoman Yesi Anggani dan Direktur Addicted Invader, I Kadek Sugiantara,  ditetapkan sebagai tersangka dalam perkara dugaan korupsi  pengadaan masker skuba senilai Rp 2. 617,362,507,  Senin (11/4/2022).

Penyidik sudah memiliki dua alat bukti  yang cukup atas  keterlibatan kedua tersangka dalam perkara itu dan langsung dilakukan penahanan.  Dari proyek pengadaan masker skuba Dinas Sosial sebanyak  512.797 pcs itu, tersangka Yesi Anggani mengerjakan masker sebanyak 300.000 pcs  dengan nilai sebesar Rp 1.531,227,273. Sedangkan tersangka  Kadek Sugiantara mengerjakan masker sebanyak 212.797 dengan nilai sebesar Rp 1,086,135,234.

“Hasil pemeriksaan yang dilakukan penyidik, kedua tersangka ditemukan melakukan perbuatan melawan hukum  dan mendapatkan keuntungan dari pengadaan masker Dinas Sosial tahun 2020, yang menyebabkan kerugian negara sebanyak Rp 2.617.362.507,00 (dua miliar enam ratus tujuh belas juta tiga ratus enam puluh dua ribu lima ratustujuh rupiah),” ungkap Dewa Semara Putra.

Penyidik  menilai, perbuatan dua rekanan  tersebut melanggar Pasal 2 ayat (1) jo  Pasal 18 Undang-undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dan ditambah dengan Undang-undang Nomor 20 Tahun 2001 jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP, Subsider Pasal 3 jo, Pasal 18 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dan ditambah dengan Undang-undang Nomor 20 Tahun 2001 jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP. (tio/bfn)