Raker DPRD Klungkung Terkait Bansos Terkesan Saling Menyalahkan, Sekda Ngotot Karena SK Bupati

banner 120x600
Dua orang warga masyarakat yang diundang Raker DPRD  Klungkung yaitu Kadek Agus Mulyawan dan Nengah Sumerta

KLUNGKUNG – Kasus bansos di Klungkung yang melibatkan ketua DPRD I Wayan Baru membuat masyarakat penerima bansos ketakutan. Karena itu mereka pun ramai ramai mengembalikan uang bansos. Utamanya bansos yang di fasilitasi oleh anggota DPRD. Baru sendiri sudah dilaporkan ke Polda Bali atas dugaan penyelewenangan dana bansos oleh I Wayan Muka Udiana.

Kemarin dilakukan raker dengan OPD dan juga beberapa orang tokoh masyarakat yakni Kadek Agus Mulyawan dan Nengah Sumerta untuk ikut hadir dalam raker.

Raker kali ini digelar di DPRD Klungkung pukul 09.40 wita kemarin. Raker dipimpin langsung ketua DPRD Klungkung I Wayan Baru.

Raker yang membahas khusus bantuan bansos ini berlangsung cukup a lot. Hanya saja raker ini juga terkesan tidak fokus dan simpang siur. Seperti pernyataan Komang Ludra anggota Frasi Hanura Klungkung ini malah menganalogikan kalau wakil rakyat bagikan gadis cantik yang di kerubuti pemuda brandalan. Hanya saja Ludra tidak menjelaskan maksud ungkapanya tersebut.

Raker kali ini juga kurang greget. Karena anggota Dewan yang hadir hanya 10 orang dari 30 anggota DPRD Klunglung. Sementara eksekutif sendiri yang di undang juga hanya beberapa orang saja. Sementara Bupati Klungkung tidak hadir dalam raker tersebut dan hanya di wakili Sekda Putu Gde Winastra.  Dewan sendiri minta eksekutif menjelaskan mengenani payung hukum bansos tersebut. Sementara itu Sekda tetap berpegangan pada SK Bupati.

Sementara itu I Kadek Agus Mulyawan menyatakan kisruhnya bansos ke masyarakat ini karena adanya laporan masyarakat ke Polda. Hal ini menimbulkan viral di medsos. Agus malah mengkritik sebaiknya raker tersebut di siarkan langsung untuk menghindari miss komunikasi. Ini penting untuk keterbukaan publik sesuai dengan UU 14/2008 tentang keterbukaan informasi publik. Dirinya malah menilai kalau raker kali ini terkesan saling menyalahkan.

Agus juga mempertanyakan kalau sudah ada bansos yang cukup banyak namun kondisi masyarakat Klungkung masih miskin. Untuk itu dirinya minta agar pemerintah tuntas dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat.

Sementara soal undangan ikut raker dirinya juga mengaku kaget. Karena dirinya belum paham dengan undangan tersebut. Sementara undangan hanya diterima lewat pesan Whatsapp. Dirinya di undang juga selaku warga padahal dirinya bukan penerima bansos. Mestinya menurut Agus yang diundang itu perangkat Desa. Hanya saja semua proses sekarang ini harus tetap menggunakan praduga tak bersalah. Proses hukum jalan terus namun sebelum ada keputusan hukum tetap menggunakan azas praduga tak bersalah.

Sementara itu Nengah Sumerta juga mempertanyakan alur bansos di Klungkung. Dirinya berharap ada kejujuran dan keterbukaan informasi.

Terkait kasus laporan bansos dirinya tidak mau membahas hal tersebut karena sudah masuk keranah hukum. Hanya Sebelum Raker dimulai dirinya sempat merasa aneh Dewan mengundangnya untuk hadir jam 9.00 wita malah sampai jam 9.30 wita raker belum dimulai. “ Saya sampai bangun pagi pagi dari singaraja jam setengah 5 jam 8,20 sudah ada di Gedung Dewan . Namun raker malah molor, ketusnya.(ana/ani)