Salah Paham, Berdamai di Pura Puseh Sibetan

banner 120x600
Jro Galon (tengah)  memeluk bersama Kartika (kiri) usai menggelar prosesi perdamaian di Pura Puseh Desa Sibetan, Bebandem

KARANGASEM, Balifactualnews.com-Kasus pemukulan   yang terjadi di Desa Sebudi Kecamatan, Selat, Karangasem, Bali, berakhir damai di Pura Puseh Desa Sibetan, Kecamatan Bebandem,  Kamis 20 Mei 2021.

Kasus dipicu salah paham antara Jero Galon, warga banjar Yehe, Desa Sebudi, Kecamatan Selat dengan  dengan I Wayan Kartika (33) asal  Banjar Pengawan, Sibetan, Bebandem  pada Sabtu 8 Mei 2021 sekitar pukul 08.00 Wita dan Kamis 13 Mei 2021.

Sejatinya  kasus penganiayaan  yang dilaporkan ke  Polres Karangasem pada Sabtu 15 Mei 2021, itu  tidak hanya sudah berakhir di tingkat kepolisian,    baik Kartika maupun Jro Galon juga sudah melakukan perdamaian di Kantor Desa Sibetan,  18 Mei 2021.

Ditemui usai mengelar ritual perdamaian di Pura Puseh Sibetan, Jro  Galon mengatakan, upasaksi perdamaian lengkap dengan sarana banten pejatian itu dilakukan atas niatnya sendiri.  Alasannya, langkah damai yang ditempuh tidak sebatas ucapan di bibir dan  bukti material surat, tapi  harus dijalankan dengan saksi sang pencipta.

“Kita inginkan upaya perdamaian ini dilakukan secara sekala (nyata) dan niskala (Tuhan). Perdamaian secara nyata  sudah kita lakukan di kantor kepolisian dan Kantor Desa Sibetan, sedangkan hari ini perdamaian  secara niskala kita laksanakan di Pura Puseh Desa Sibetan,” jelas  pengusaha tambang pasir itu.

Pantauan di lapangan, upaya damai secara niskala yang ditempuh Jro Galon dengan Kartika, disaksikan prajuru adat Desa Sibetan dan Perbekel Sibetan I Wayan Beru. Perdamaian di Pura Puseh, menjadi perjalanan akhir terhadap dugaan kasus penganiayaan yang  dilakukan Jro Galon kepada Kartika.

Seperti diketahui, kasus penganiayaan yang berawal salah paham itu berawal dari  kedatangan korban  untuk bekerja pada usaha galian C yang dimiliki Jro Galon di  Banjar Yehe Desa Sebudi, pada 5 Mei 2021, sebagai operator alat berat  milik  Pak Eko.  Tiga hari bekerja, tiba-tiba dia didatangi Jro Galon  sambil mengatakan  tidak puas dengan kinerja korban.

Disaksikan prajuru adat atas  niat sendiri Jro Galon (depat baju putih) bersama istri melakukan upasaksi perdamaian di Pura Puseh, Desa Sibetan, Bebandem.

Tidak terima dengan pekerjaan Kartika, Jro  Galon lantas menghubungi Jero Dono yang  menjadi penyewa alat berat Pak Eko  dengan operator korban Kartika.  Dalam percakapan melalui sambungan telepon, Galon  juga meminta agar Jro Dono mengganti operator alat berat yang bekerja di tambang galin C miliknya.

Singkat cerita,  saat itu juga Kartika langsung diganti   Jableng yang masih  ada hubungan keluarga dengan Jro Dono. Tapi karena sudah diganti, Kartika lantas menghubungi operator baru itu untuk meminta tanda tangan  terkait  tim sheet,  agar dapat mendapatkan upah dari Jro Galon. Tapi permintaanya itu tidak disanggupi. Malah sebaliknya korban diminta menemui langsung  Jro Galon.

“Saya datang  menemui Jro Galon  di rumahnya pada Kamis 13 Mei sekitar pukul 18.30 Wita.  Belum sempat bicara   panjang  kepala saya sudah dipukul.  Situasi rumah Jro Galon saat itu cukup ramai, dan saya tidak tahu siapa yang memukul saya. Saya kenal hanya Jro Galon dan Jableng, ” terang korban saat mengadukan persoalan ini ke Polres Karangasem. (tio/bfn)