Suara Rektor di Bali : Wayan Koster, Humble Leadership Salah Satu Karateristik Seorang Gubernur Bali Kedepan

Dr.Ir. Ketut Suriasih, M.App.Sc

suara-rektor-di-bali-wayan-koster-humble-leadership-salah-satu-karateristik-seorang-gubernur-bali-kedepan
Suara Rektor di Bali, Dr.Ir. Ketut Suriasih, M.App.Sc

DENPASAR, Balifactualnews.com – Salah satu rektor di Bali, Dr.Ir. Ketut Suriasih, M.App.Sc, Rektor di Bali Dwipa University mengatakan, demi memuliakan unteng alam, manusia, dan kebudayaan Bali ke depan, siapa pun yang menjadi pemimpin di Bali, baik eksekutif maupun legislatif, dengan kesadaran penuh, disiplin, dan rasa tanggung jawab memiliki kewajiban untuk melaksanakan haluan pembangunan Bali masa depan, 100 tahun Bali Era Baru 2025-2125.

“Wacana bapak Wayan Koster sebagai gubenur Bali menjadi catatan khusus bagi kami sebagai rektor Bali Dwipa University sebuah perguruan tinggi swasta di Bali,” ujar Suriasih kepada awak media Sabtu(18/bfn)

Hal ini menunjukkan komitmen tinggi, keseriusan, dan rasa tanggung jawab bapak Wayan Koster untuk membangun masa depan Bali yang lebih baik bagi generasi mendatang. Manusia, dan kebudayaan Bali yang didedikasikan untuk memuliakan generasi mendatang dalam memasuki kehidupan modern di masa yang akan datang dengan tetap berpijak kokoh pada adat-istiadat, tradisi, seni-budaya, dan kearifan lokal Bali.

Hal ini juga menunjukkan bapak Wayan Koster mempunyai kepercayaan dirinya tinggi, kemampuan berkomunikasi yang baik, kemampuan untuk mengambil keputusan yang tepat, keberanian dalam mengambil risiko, pemimpin yang visioner, kemampuan memotivasi dan memimpin tim, kemampuan dalam mengembangkan strategi, kemampuan dalam menyelesaikan konflik, dan kemampuan untuk membangun hubungan interpersonal yang baik.

“Seorang pemimpin yang baik harus memiliki kemampuan untuk memimpin dirinya sendiri terlebih dahulu sebelum dapat memimpin orang lain. Ini berarti dia memiliki keterampilan untuk mengatur waktu, menetapkan prioritas, mengambil tanggung jawab, dan mengambil keputusan yang tepat. Kemampuan untuk memimpin diri sendiri akan membantu individu untuk lebih produktif, lebih percaya diri, dan lebih disiplin dalam menjalankan tugas-tugasnya. Dalam dunia yang terus berubah, kemampuan untuk beradaptasi dengan perubahan menjadi semakin penting,” imbuhnya.

Seorang pemimpin yang baik harus memiliki kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan yang berubah, mengidentifikasi peluang baru, dan menyelesaikan tantangan yang muncul. Kemampuan untuk beradaptasi dengan cepat dan efektif dapat membantu individu untuk terus berkembang dan maju di masa depan.
Seorang pemimpin yang baik harus memiliki visi dan tujuan yang jelas untuk dirinya sendiri dan juga untuk organisasi atau timnya.

“Selain memiliki visi dan tujuan yang jelas beliau juga sebagai gubenur yang humble atau sederhana.
Humble leadership adalah pendekatan kepemimpinan yang menekankan pada sikap rendah hati, kerendahan diri, dan kemampuan untuk mendengarkan dan belajar dari orang lain. Pemimpin yang menerapkan konsep ini tidak hanya fokus pada kepentingan diri sendiri, tetapi juga menghargai kontribusi dan perspektif orang lain dalam tim atau organisasi,” lanjut Suriasih.

Selain itu, humble leadership juga melibatkan komitmen untuk melayani orang lain, memposisikan kepentingan organisasi di atas kepentingan pribadi, dan fokus pada keberhasilan kolektif. Pemimpin yang rendah hati memiliki kesadaran diri yang tinggi dan mampu memanfaatkan keahlian dan kekuatan anggota tim untuk mencapai tujuan bersama. Dengan demikian, humble leadership merupakan pendekatan yang efektif dalam memotivasi, menginspirasi, dan memimpin tim menuju kesuksesan bersama.

Suriasih mengatakan, Owens and Hekman dalam American Psychology Association mengatakan bahwa humble leadership memiliki makna leading from the ground atau menggerakan dari bawah. Pasalnya, gaya kepemimpinan ini dapat mendorong tim menjadi lebih mandiri dan independen.

“Menurut Lowe, pemimpin yang rendah hati umumnya dapat dilihat dari keterampilan interpersonal yang baik. Keterampilan tersebut ditandai dari tiga hal. Antara lain, pertama, keinginan melihat diri sendiri. Contoh, menerima batas kemampuan dalam dirinya atau mengakui kesalahan yang dilakukan. Kedua, keterbukaan dalam menerima umpan balik (feedback), bahkan kritikan. Ketiga, mengapresiasi segala bentuk kontribusi dan pencapaian anggota tim/orang lain.  Di samping itu, pemimpin yang rendah hati juga merepresentasikan banyak hal yang positip,” tutupnya.  (ger/bfn)

 

Exit mobile version