Warga Klungkung Dikejutkan dengan Guyuran Hujan Abu Akibat Letusan Gunung Agung

banner 120x600

________________________________________________________________________________

KLUNGKUNG –  Warga Klungkung pagi – pagi sudah dikejutkan dengan adanya guyuran hujan abu yang melanda KLungkung. Hal itu tampak dari memutihnya seluruh tanaman serta kendaraan milik warga masyarakat karena paparan abu yang cukup tebal terpantau oleh warga di Seputaran Semarapura.

Susisusanti Warga Banjar Jelantik Kuribatu Desa Tojan begitu terkejut ketika akan mengambil motornya akan dibawa pergi berbelanja  di pasar Galiran, Klungkung,karena  tampak diselimuti abu yang cukup tebal. Menurutnya ketika itu sekitar pukul 06.00 Wita pagi Minggu(21/4/2019)  Abu vulkanik jelas tampak menempel dimotornya.

Warga lainnya Made Ariani juga mengaku terkejut kok ketika akan menyapu halaman rumah seperti diselimuti salju warna putih saja. Paparan  abu vulkanik yang cukup tebal seperti saat ini, terakhir terjadi di Klungkung saat massa krisis letusan gunung Agung di akhir tahun 2017 silam.

” Hujan abunya cukup tebal. Seperti awal-awal letusan gunung Agung yang tahun 2017 lalu,” ungkap Putu Mirayanti,salah seorang  warga Kota Semarapura.

Laporan paparan hujan abu juga terpantau hingga wilayah Banjarangkan. Atas kondisi ini, BPBD Klungkung langsung membagikan masker kepada warga. Masker dibagikan kepada warga yang beraktivitas pasar dan di sekitaran Kota Semarapura.

” Karena paparan abu vulkanis cukup pekat, kami menghimbau masyarakat saat beraktivitas diluar rumah menggunakan masker,” ujar Kalak BPBD Klungkung, I Putu Widiada. Menurut Widiada  Letusan (21/4/2019) pukul 03.00 wita dini hari, terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 25 mm dan durasi ± 2 menit 55 detik.

Sementara itu pihak pos pemantau Gunung Agung menyebutkan melalui siara relisnya bahwa Letusan dengan itensitas kecil pun, masih kemungkinan terjadi sewaktu-waktu. Sehingga PVMBG masih mengimbau masyarakat di sekitar Gunung Agung dan pendaki / pengunjung / wisatawan agar tidak berada, tidak melakukan pendakian dan tidak melakukan aktivitas apapun di Zona Perkiraan Bahaya, yaitu di seluruh area di dalam radius 4 km dari kawah puncak Gunung Agung.

Zona Perkiraan Bahaya sifatnya dinamis dan terus dievaluasi dan dapat diubah sewaktu-waktu mengikuti perkembangan data pengamatan Gunung Agung.

Masyarakat yang bermukim dan beraktivitas di sekitar aliran-aliran sungai yang berhulu di Gunung Agung, agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar hujan yang dapat terjadi terutama pada musim hujan, dan jika material erupsi masih terpapar di area puncak.

Untuk itu dihimbau kepada warga yang tinggal dibantaran sungai yang ada di Klungkung untuk waspada jika sewaktu waktu adanya aliran aliran lahar dingin karena terbawa air hujan dihulu, yang  mengikuti aliran-aliran sungai yang di Klungkung berhulu di Gunung Agung. (ana)