China Selatan Luluh Lantak, Puluhan Ribu Orang Dievakuasi Setelah Hujan Lebat, Banjir dan Tanah Longsor

china-selatan-luluh-lantak-puluhan-ribu-orang-dievakuasi-setelah-hujan-lebat-banjir-dan-tanah-longsor
Petugas penyelamat melakukan operasi pencarian dan penyelamatan di lokasi tanah longsor akibat hujan deras di Distrik Baiyun, Guangzhou, Tiongkok, 6 Agustus 2025. CNSphoto / via Reuters

JAKARTA, Balifactualnews.com – Puluhan ribu orang telah dievakuasi akibat hujan lebat yang mengguyur Tiongkok selatan, membanjiri rumah-rumah dan memicu tanah longsor, demikian dilaporkan media pemerintah pada Rabu, 6 Agustus. Hujan deras telah mengguyur provinsi Guangdong selatan, dengan tanah longsor di ibu kotanya, Guangzhou, yang menyebabkan 14 orang terjebak, demikian dilaporkan stasiun televisi pemerintah CCTV. Satu orang kemudian dipastikan meninggal dunia, demikian dilaporkan.

Lebih dari 75.000 orang di Guangdong telah dievakuasi hingga Rabu siang, lapor CCTV dalam siaran berita malamnya. Rekaman CCTV menunjukkan orang-orang mengarungi air setinggi pinggang dan sekelompok orang berpegangan pada mobil yang terendam. Hujan deras juga membanjiri permukiman dan pertokoan di Provinsi Guangxi, kata CCTV.

Pihak berwenang mengaktifkan tanggap darurat di Guangdong pada hari Rabu karena banjir parah, menurut Kementerian Manajemen Darurat Tiongkok. Pemerintah juga mengalokasikan 100 juta yuan ($14 juta) untuk pemulihan di Guangdong, kata perencana ekonomi utama Beijing.

Hujan deras dan banjir yang terus-menerus di beberapa wilayah di provinsi tersebut telah menyebabkan “banyak korban jiwa dan kerugian harta benda”, demikian pernyataan Komisi Reformasi dan Pembangunan Nasional dalam sebuah pernyataan pada hari Rabu sebagaimana dilansir dari laman Lemonde. Dari 14 orang yang terjebak oleh tanah longsor yang melanda Desa Dayuan di Guangzhou sekitar pukul 08.30, tujuh orang telah diselamatkan dan “tidak dalam bahaya langsung”, demikian menurut CCTV.

Jenazah orang kedelapan ditemukan pada Rabu malam, menurut CCTV. Upaya penyelamatan masih terus berlanjut. Rekaman CCTV menunjukkan tim penyelamat berseragam oranye berdiri di atas tumpukan puing besar, yang tampaknya merupakan bangunan runtuh.

Hujan deras di Beijing utara menewaskan 44 orang bulan lalu, dengan wilayah pinggiran kota yang paling parah terkena dampaknya. Tanah longsor di sebuah desa di Provinsi Hebei, yang mengelilingi Beijing, menewaskan delapan orang lainnya.

Bencana alam sering terjadi di seluruh Tiongkok, terutama di musim panas ketika beberapa wilayah mengalami hujan lebat sementara wilayah lainnya terik. Tiongkok adalah penghasil emisi gas rumah kaca terbesar di dunia yang mendorong perubahan iklim dan berkontribusi pada peningkatan frekuensi dan intensitas cuaca ekstrem. Namun, Tiongkok juga merupakan pusat energi terbarukan global yang bertujuan untuk menjadikan ekonominya yang besar netral karbon pada tahun 2060. (ina/bfn)