Diet Sudah Ketat, Tapi Perut Masih Buncit, Ternyata ini Biang Kesalahannya

DENPASAR, Balifactualnews.com – Persoalan diet nampaknya kini menjadi masalah tersendiri bagi banyak orang. Mereka sudah merasa “diet mati-matian” tapi jarum timbangan tak juga turun, bahkan perut tetap buncit. Padahal sudah mengurangi makan, olahraga juga dilakukan. Salah seorang dokter wanita di Bali membedah dimana letak kesalahannya. Adalah dr. Putu Prabhawati Dwikrisna yang mencoba membedah kesalahan tersebut.

“Diet bukan sekadar mengurangi porsi makan, tapi tentang kualitas dan keseimbangan nutrisi. Banyak orang salah kaprah dengan menahan lapar ekstrem atau melewatkan makan. Tubuh yang kekurangan kalori justru mengaktifkan “mode bertahan hidup” metabolisme jadi lambat agar energi tak cepat habis. Akibatnya, lemak malah disimpan lebih banyak,’ ujar dr. Putu Prabhawati Dwikrisna saat ditemui di Denpasar, Jumat (14/11/2025).

Baca Juga : Menkes Tinjau RSUD Wangaya, Gubernur Koster Tegaskan Komitmen Perkuat Layanan Kesehatan Bali

Dijelaskannya, berdasarkan pedoman European Society for Clinical Nutrition and Metabolism (ESPEN), untuk orang dewasa yang sehat namun ingin melakukan pengurangan berat badan, angka defisit kalori harian yang direkomendasikan adalah sekitar 300 hingga 1.000 kcal per hari di bawah kebutuhan energi harian estimasi.

“Berat badan yang naik selama diet tidak selalu berarti diet anda gagal. Bisa jadi tubuh sedang membentuk massa otot baru seiring berkurangnya lemak aktif (visceral fat) terutama jika Anda rutin berolahraga, seperti latihan interval atau kardio.

Menurut penelitian dalam Journal of Cachexia, Sarcopenia and Muscle latihan fisik yang teratur terbukti meningkatkan massa otot tanpa lemak, bahkan saat berat total tubuh tampak stabil. Hal ini justru kabar baik, karena otot merupakan jaringan metabolik aktif yang membantu pembakaran kalori lebih banyak setiap hari. Semakin tinggi massa otot, semakin cepat pula laju metabolisme dan kemampuan tubuh membakar lemak.

Untuk mengetahui perubahan ini, jangan hanya terpaku pada angka berat badan. Gunakan alat ukur komposisi tubuh seperti timbangan berbasis bioelectrical impedance analysis (BIA) yang bisa menunjukkan kadar lemak, massa otot, hingga air tubuh. Dengan begitu, anda bisa melihat kemajuan yang sebenarnya bukan sekadar berat badan, tapi perubahan kualitas tubuh secara keseluruhan.

Baca Juga :  Presiden Prabowo Tegaskan Komitmen Pemerintah Tingkatkan Layanan Kesehatan Nasional

“Jadi, jika berat badan anda naik sedikit selama diet dan olahraga, jangan langsung kecewa. Bisa jadi, tubuh anda sedang membentuk versi yang lebih kuat, sehat, dan efisien dalam membakar energi,”imbuhnya.

Komposisi makanan tidak seimbang lanjutnya, misalnya, makan sedikit tapi tinggi karbo sederhana (nasi putih, roti manis, minuman boba). Gula darah melonjak cepat, insulin meningkat, dan tubuh menyimpan kelebihan energi sebagai lemak di perut. Untuk mengatasinya, perbanyak protein tanpa lemak (ikan, telur, tempe) dan serat dari sayur serta buah .

“Kurang tidur dan stres. Saat stres, hormon kortisol meningkat, memicu nafsu makan dan penumpukan lemak di perut. Kurang tidur juga membuat hormon lapar (ghrelin) naik, sementara hormon kenyang (leptin) turun. Hasilnya, kita lebih mudah “kalah” oleh camilan malam,’tegasnya.

Tak hanya itu, ditambahkannya yakni kurang gerak. Walau sudah diet ketat, gaya hidup yang terlalu banyak duduk misalnya di depan komputer seharian atau jarang jalan kaki membuat pembakaran kalori sangat sedikit.

Akibatnya, meskipun asupan makan sudah dikurangi, tubuh tetap sulit menurunkan berat badan karena energi yang dikeluarkan terlalu kecil. Penelitian dalam Exercise and Sport Sciences Reviews menunjukkan bahwa duduk terlalu lama membuat otot besar di tungkai menjadi tidak aktif, sehingga penggunaan gula darah menyebabkan lemak lebih mudah tersimpan di perut. (ena/bfn)