105 Tahun Taman Ujung, Saksi Bisu Kejayaan Kerajaan Karangasem

Pengelola Taman Soekasada Ujung, Anak Agung Made Dewandra Djelantik,
Pengelola Taman Soekasada Ujung, Anak Agung Made Dewandra Djelantik

KARANGASEM, Balifactualnews.com – Taman Soekasada Ujung di Desa Tumbu, Karangasem, memasuki usia 105 tahun. Dibangun pada masa pemerintahan Raja Karangasem terakhir, Anak Agung Anglurah Ketut Karangasem, taman seluas sekitar 10 hektare itu hingga kini menjadi salah satu destinasi wisata sekaligus peninggalan sejarah Kerajaan Karangasem.

Pengelola Taman Soekasada Ujung, Anak Agung Made Dewandra Djelantik, mengatakan pembangunan taman dimulai pada 1909 dan rampung pada 19 September 1921.

Taman tersebut pada awalnya dibangun sebagai tempat menerima dan menjamu tamu kerajaan, masyarakat, serta kolega penting Raja Karangasem.

“Mungkin memilih tempat di sini pasti ada pertimbangan dan melibatkan spiritualitas dari beliau saat itu,” ujar Dewandra.

Menurutnya, keberadaan Taman Ujung juga tidak lepas dari hubungan Kerajaan Karangasem dengan berbagai wilayah dan kebudayaan. Hal itu terlihat dari arsitektur sejumlah bangunan di dalam kompleks taman yang mendapat pengaruh Bali, Eropa, India hingga Tiongkok.

Salah satu bangunan yang menonjol adalah Bale Kapal. Bangunan yang berada di posisi tinggi tersebut memiliki karakter arsitektur yang disebut kuat dengan pengaruh India.

“Bentuk arsiteknya kental dengan nuansa India. Karena dulu tamu dari Kerajaan India pernah singgah ke sini,” tuturnya.

Bale Kapal juga memiliki fungsi strategis pada masanya. Dari bangunan tersebut, aktivitas kapal yang melintas di kawasan laut Ujung dapat dipantau. Selain itu, Bale Kapal disebut menjadi bagian dari jalur menuju areal bawah taman.

“Seperti orang turun dari kapal laut,” kata Dewandra.

Di bagian bawah terdapat Bale Gili yang menjadi salah satu bangunan utama Taman Soekasada Ujung. Bangunan tersebut berada di tengah kolam dan menggabungkan unsur arsitektur Eropa dengan Bali.

Bale Gili dulunya digunakan Raja Karangasem untuk menjamu tamu-tamu kerajaan yang datang ke Karangasem.

“Jadi arsitek bangunan ini dipengaruhi dari berbagai budaya. Bale Gili ini menjadi bangunan utama yang dipakai raja menjamu tamunya yang datang di Karangasem,” jelasnya.

Selain memiliki nilai sejarah dan arsitektur, Taman Ujung juga memiliki karakter lanskap yang berkaitan dengan tiga unsur alam, yakni laut, gunung dan sumber mata air.

Dewandra menyebut konsep tersebut juga ditemukan pada sejumlah taman peninggalan Kerajaan Karangasem lainnya, seperti Taman Tirta Gangga dan Taman Mayura di Lombok.

Seiring perjalanan waktu, sejumlah bangunan di Taman Ujung mengalami kerusakan akibat gempa. Kawasan tersebut kemudian direstorasi pada 2001 dan hingga kini terus dilakukan penataan untuk menjaga keberadaan bangunan serta lingkungan taman.

Meski menjadi destinasi wisata, pengelola menilai masih ada pekerjaan penting yang harus dilakukan, terutama dalam menguatkan kembali informasi sejarah yang berkaitan dengan Kerajaan Karangasem.

Dewandra berharap wisatawan yang datang tidak hanya menikmati keindahan taman, tetapi juga mendapatkan pengetahuan mengenai sejarah yang tersimpan di dalamnya.

“Ke depan kami berharap pengunjung tidak hanya sekadar liburan ke sini. Tapi ada edukasi sejarah yang didapat setelah mereka berkunjung,” ujarnya.

Untuk memperkuat sisi edukasi tersebut, pengelola juga berupaya menghimpun berbagai sumber yang kredibel terkait sejarah Taman Ujung. Langkah itu dilakukan agar informasi yang disampaikan kepada pengunjung memiliki dasar yang dapat dipertanggungjawabkan.

Saat ini Taman Soekasada Ujung tetap menjadi salah satu tujuan wisata di Karangasem. Keberadaan kolam, bangunan bersejarah, pepohonan rindang serta panorama laut menjadi daya tarik bagi wisatawan.

“Mereka yang berkunjung ke Taman Ujung ini merasakan kedamaian. Meski berdampingan dengan pantai, hawa di sini sejuk,” ungkap Dewandra.

Dengan usia mencapai 105 tahun, Taman Soekasada Ujung tidak hanya menjadi aset pariwisata Karangasem, tetapi juga menyimpan jejak sejarah Kerajaan Karangasem yang terus dijaga hingga kini. (ger/bfn)