Daerah  

ASN Inspiratif Karangasem 2026, Gus Par Dorong ASN Keluar dari Zona Nyaman

asn-inspiratif-karangasem-2026-gus-par-dorong-asn-keluar-dari-zona-nyaman
Bupati Karangasem I Gusti Putu Parwata (tengah) berama Sekda I Ketut Sedana Mwrta dan Kepala BKPSDM Cokorda Alit Surya Prabawa, foto bersama dengan peserta seleksi ASN Inspiratif, Senin (2/11)

KARANGASEM, Balifactualnews.com – Birokrasi kerap dituding terlalu nyaman dengan rutinitas. Datang, bekerja, menandatangani berkas, lalu pulang. Namun, Bupati Karangasem I Gusti Putu Parwata (Gus Par) ingin mengubah cara pandang tersebut. ASN tidak cukup hanya menjalankan tugas pokok dan fungsi (tupoksi), tetapi harus berani melahirkan gagasan, menciptakan inovasi, dan menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat.

Pesan itu mengemuka dalam seleksi ASN Inspiratif 2026. Lima kandidat menjalani wawancara tahap II di hadapan Bupati Karangasem dan Sekda I Ketut Sedana Merta, Senin (2/11). Dari proses tersebut, tiga nama ditetapkan melaju ke posisi tiga besar.

Berdasarkan hasil penilaian tertanggal 2 November 2026, I Gusti Agung Ayu Satwikha Dewi, S.Tr.Kes., M.Kes., dari UPTD Laboratorium Kesehatan memperoleh skor tertinggi 94,58. Disusul I Kadek Dodi Andika Pratama, S.Tr.I.P., dari Inspektorat Daerah dengan skor 85,83, serta Gede Nanda Dharmastya Utama, S.STP., M.A.P., dari BKPSDM dengan skor 79,17.
Sementara itu, Dini Febriana, S.Pd., dari SMPN 2 Amlapura memperoleh skor 78,33 dan Putu Nityantari, S.Hum., dari Dinas Perpustakaan dan Kearsipan meraih 77,92.

Namun, bagi Gus Par, seleksi ini bukan sekadar mencari siapa yang memperoleh nilai tertinggi. Lebih dari itu, ajang tersebut menjadi ruang untuk menemukan aparatur yang tidak terjebak dalam pola kerja rutin dan berani membawa perubahan dari lingkungan kerjanya masing-masing.

“Yang kita cari bukan hanya ASN yang bekerja sesuai tugasnya, tetapi ASN yang mampu memberikan inspirasi, menciptakan inovasi, dan memberikan manfaat yang nyata bagi masyarakat,” tegas Gus Par.

Ia mengingatkan, inovasi jangan hanya muncul ketika ada lomba atau penghargaan. Sebab, keberhasilan sebuah inovasi tidak diukur dari meriahnya panggung apresiasi, melainkan dari keberlanjutannya dalam pekerjaan sehari-hari.

“Saya berharap semangat inovasi ini tidak berhenti pada kegiatan ASN Inspiratif. Justru setelah ini harus semakin berkembang dan menjadi budaya dalam bekerja dan memberikan pelayanan kepada masyarakat,” ujarnya.

Sekda Karangasem I Ketut Sedana Merta menambahkan, kelima kandidat memiliki keunggulan dan inovasi masing-masing. Penilaian tidak semata-mata bertumpu pada kemampuan mempresentasikan gagasan, tetapi juga rekam jejak, kebaruan inovasi, serta dampak yang telah dihasilkan.

“Lima kandidat ini semuanya memiliki keunggulan dan inovasi masing-masing. Karena itu, proses penilaian dilakukan secara objektif berdasarkan rekam jejak, gagasan, inovasi dan kemampuan mereka menjelaskan dampak dari apa yang telah dilakukan,” jelasnya.

Sedana Merta berharap inovasi yang lahir dari para kandidat tidak berhenti sebagai prestasi individu. Gagasan yang terbukti memberi manfaat harus bisa ditularkan dan dikembangkan oleh ASN lainnya.

“Harapannya, inovasi yang sudah dilakukan tidak berhenti pada individu. Ini harus menular kepada ASN lainnya sehingga muncul budaya kerja yang lebih kreatif, adaptif dan berorientasi pada pelayanan,” katanya.

Tiga nama kini telah mengerucut. Namun, tantangan yang sesungguhnya justru dimulai setelah seleksi berakhir. Gus Par tidak sedang mencari ASN yang hanya hebat di atas panggung penghargaan, tetapi aparatur yang mampu membuktikan gagasannya di tengah pekerjaan sehari-hari.

“Keluar dari zona nyaman birokrasi bukan sekadar berani tampil berbeda. Melainkan berani mengubah cara kerja, memutus kebiasaan yang tidak produktif, dan memastikan masyarakat benar-benar merasakan hasilnya,” tandasnya. (tio/bfn)