( I Ketut Parwata/Pemimpin Redaksi Bali Factual News )
Balifactualnews.com – Di tengah dinamika politik daerah yang sering dipenuhi konflik kepentingan dan pertarungan citra, Kota Mataram menghadirkan model kepemimpinan yang menarik untuk dicermati. Sosok H. Mohan Roliskana menjadi contoh bagaimana komunikasi yang terbangun dengan baik mampu menjaga kepercayaan publik sekaligus memperpanjang legitimasi politik secara sehat.
Perjalanan politik Mohan Roliskana bukanlah sesuatu yang lahir secara instan. Ia pernah menjalani dua periode sebagai wakil wali kota, lalu kembali mendapat kepercayaan masyarakat untuk memimpin sebagai wali kota selama dua periode. Dalam politik lokal, capaian seperti ini tidak hanya ditentukan oleh kekuatan partai atau strategi elektoral, tetapi juga oleh kemampuan menjaga hubungan emosional dengan masyarakat serta membangun komunikasi yang sehat dengan media.
Didampingi TGH. Mujiburrahman, pola kepemimpinan di Mataram terlihat mampu menciptakan keseimbangan antara birokrasi, tokoh masyarakat, dan ruang publik. Kritik tidak selalu dipandang sebagai ancaman, sementara media tetap ditempatkan sebagai bagian penting dalam menjaga transparansi dan komunikasi pemerintahan.
Di titik inilah politik komunikasi menjadi sangat menentukan. Pemimpin yang mampu menjaga kedekatan dengan masyarakat biasanya tidak hanya hadir dalam agenda seremonial, tetapi juga hadir dalam percakapan publik sehari-hari. Mereka memahami bahwa membangun daerah bukan semata soal infrastruktur, melainkan juga soal membangun rasa percaya.
Hal seperti ini tentu dapat menjadi inspirasi positif bagi banyak daerah, termasuk Karangasem. Dengan potensi daerah yang besar, kekuatan budaya yang kuat, serta masyarakat yang kritis dan dinamis, Karangasem memiliki modal sosial yang sangat baik untuk membangun pola komunikasi pemerintahan yang semakin terbuka dan harmonis.
Komunikasi yang baik antara pemimpin, masyarakat, dan media akan menciptakan suasana pembangunan yang lebih kondusif. Ketika ruang dialog terbangun dengan sehat, maka kritik dapat menjadi energi perbaikan, sementara dukungan masyarakat akan tumbuh secara alami karena adanya rasa kedekatan dan keterlibatan.
Apa yang terlihat di Mataram menunjukkan bahwa keberlanjutan kepemimpinan tidak selalu lahir dari politik yang keras, tetapi dari kemampuan menjaga hubungan dengan masyarakat secara konsisten. Pada akhirnya, publik tidak hanya menilai hasil pembangunan, tetapi juga menilai cara seorang pemimpin hadir, mendengar, dan berkomunikasi dengan rakyatnya.***
