KARANGASEM, Balifactualnews.com—Tragedi longsor tebing sungai Taksu di Banjar Kemoning, Desa Buana Giri, Bebandem, Kabupaten Karangasem yang merenggut tiga korban jiwa, menjadi perhatian serius pemerintah setempat.
Tidak ingin tragedi itu terulang, Bupati Gede Dana berencana akan melakukan pembinaan kepada pengusaha tambang dan warga yang melakukan penggalian secara manual (menggunakan linggis).
“Pembinaan akan kami lakukan sesuai kebutuhan dan lebih menekankan peraturan berkaitan dengan proses penggalian. RTRW) dan pemetaan resiko bahaya sekitar penambangan. Selain pembinaan, kami juga akan memperketat pengawasan,”kata Gede Dana kepada wartawan, Rabu (13/9).
Menurut Gede Dana, pengawasan penggalian di kawasan galian C diperketat dengan harapan peristiwa serupa tak terulang lagi. Terhadap musibah menimpa tiga warga Banjar Kemoning, Gede Dana meminta agar masyarakat lebih berhati – hati dan waspada untuk melakukan penggalian.
“Kondisi tanah galian C sangat labil dan berpotensi longsor. Kami berharap, sebelum melakukan penggalian masyarakat wajib memperhatikan tekstur tanah, sehingga kejadian serupa tidak terulang,” harap Gede Dana.
Terkait pengawasan, Bupati Gede Dana menginstruksikan para camat dan instansi terkait untuk terus melakukan pemantauan. Hal itu dilakukan agar masyarakat tidak melakukan penggalian pada tanah yang teksturnya rawan longsor (labil).
“Kasus tanah galian longsor dan menimbun masyarakat sudah sering terjadi. Ini harus dicegah melalui pengawasan agar masyarakat tidak melakukan penggalian pada tekstur tanah rawan,” katanya.
Bukan itu saja, lanjut Gede Dana, Pemerintah Daerah juga terus berupaya mengedukasi masyarakat, dan memberitahu tempat-tempat yang berbahaya untuk di gali. “Untuk menutupnya, kami lihat peraturannya dulu, kalau dilanggar harus tutup, tapi kalau tidak ada melanggar, kami beri arahan masyarakat agar tidak menggali di zona rawan,”imbuh Bupati. (tio/bfn)
