BADUNG. Balifactualnews.com – Cabang olahraga (cabor) baru agar tidak memaksakan kehendak. Itulah yang disarankan Ketua Umum KONI Badung, Made Nariana terkait adanya cabang olahraga (cabor) baru yang akan masuk sebagai anggota KONI Bali, terkait dengan pembentukan pengurus di kabupaten/kota di seluruh Bali.
Pasalnya dalam Rapat Kerja Provinsi (Rakerprov) KONI Bali dua minggu lalu saat menerima tiga cabor baru sebagai anggota baru KONI Bali, yakni Hoki, Arung Jeram dan Hapkido, dalam presentasinya, ketiga pengurus cabor provinsi itu mengutarakan jika mereka siap menjadi anggota KONI Bali. Namun kepengurusan di kabupaten/kota seluruh Bali justeru masih dibentuk.
Nariana menanggapi hal itu, menyebutkan, dalam pembentukan pengurus Kabupaten/Kota ketiga cabor itu, seharusnya mereka melakukan konsultasi ke pengurus KONI kabupaten/kota setempat lebih dulu. Tidak boleh ada pengurus porvinsi melakukan “fait accompli” (memaksakan kehendak) kepada KONI di mana pengurus itu akan dibentuk. Anggota KONI Kabupaten/Kota bernaung di bawah KONI terkait.
“Saya menilai ada kesan pengurus provinsi cabor yang ingin membentuk sendiri pengurus kabupaten/kotanya sendiri. Ini kan keliru, sebab nantinya dana anggotanya diberikan KONI Kabupaten/Kota,” kata Nariana di Badung, Minggu (19/3/2023).
Diakui mantan Ketua Umum KONI Bali itu, karena ada pengurus provinsi sudah ingin memperkenalkan pengurus kabupaten kepada KONI Badung. Logikanya lanjut Nariana, pengurus provinsi cabor baru itu harusnya konsultasi dulu ke KONI, bagaimana mekanisme pembentukan pengurus cabor baru. Dengan demikian akan matching dengan keinginan pengurus kabupaten,” tambah Nariana.
Tanpa menyebut nama, Nariana mengatakan, ada pengurus cabor yang pernah disodorkan pengurus provinsi ternyata tidak mampu melakukan apa-apa. Pengalaman itu menjadi pelajaran bagi KONI Badung. Oleh karena itu, calon pengurus pengkab paling tidak dikenal lebih awal, bagaimana track recordnya sehingga dapat diajak mengembangkan olahraga di Badung.
Bahkan sempat ada sejumlah orang sudah membentuk pengurus cabor, membuat kop surat dan setempel, langsung ingin audensi dengan Ketua KONI. Dipaparkannya, mereka membentuk itu setelah menerima berita ada cabor baru. Ini terlalu semangat, tetapi tidak tahu mekanisme yang ada. “Cara ini tidak benar dan terpaksa saya tolak dulu,” tandas Nariana. (ena/bfn)
