JAKARTA, Balifactualnews.com – China meluncurkan jaringan internet broadband 10G pertamanya di Kabupaten Sunan, Provinsi Hebei, pada April lalu, menandai kemajuan signifikan dalam infrastruktur internet. Peluncuran ini merupakan kolaborasi antara Huawei dan China Unicom, dan bertujuan untuk menghadirkan kecepatan unduh hingga 9.834 Mbps, kecepatan unggah 1.008 Mbps, dan latensi serendah 3 milidetik.
Teknologi Jaringan Optik Pasif (PON) 50G, yang mendukung jaringan 10G, meningkatkan transmisi data melalui infrastruktur serat optik yang ada. Pemanfaatan teknologi ini pada bandwidth tinggi meliputi komputasi awan, realitas virtual dan tertambah, streaming video 8K, dan integrasi perangkat rumah pintar.
Misalnya, mengunduh film 4K berdurasi penuh (berukuran sekitar 20 GB) biasanya membutuhkan waktu sekitar 7-10 menit dengan koneksi 1 Gbps. Dengan jaringan pita lebar 10G yang baru, film 4K yang sama dapat diunduh dalam waktu kurang dari 20 detik.
Hal ini menempatkan China di garda terdepan dalam teknologi internet broadband global, melampaui kecepatan pita lebar komersial saat ini di negara-negara seperti UEA dan Qatar.
Implementasi internet broadband 10G diharapkan dapat memfasilitasi kemajuan di berbagai sektor, termasuk kesehatan, pendidikan, dan pertanian, dengan memungkinkan transmisi data yang lebih cepat dan lebih andal.
Melansir The Economic Time pada Selasa(30/9), perusahaan-perusahaan di balik 10G adalah Huawei yang didirikan pada tahun 1987 dan berkantor pusat di Shenzhen. Huawei merupakan pemimpin global dalam peralatan telekomunikasi dan solusi jaringan. Perusahaan ini telah memainkan peran kunci dalam memajukan teknologi pita lebar optik dan 5G.
Di sisi lain, China Unicom adalah salah satu dari tiga operator telekomunikasi milik negara terbesar di Tiongkok. Perusahaan ini menyediakan layanan pita lebar, seluler, dan perusahaan secara nasional. (ina/bfn)













