KARANGASEM, Balifactualnews.com – Di sebuah rumah sederhana di Banjar Dinas Tihingan Kauh, Desa Bebandem, Kabupaten Karangasem, dua bocah lelaki menyambut hari dengan senyum yang tampak biasa. Tapi di balik senyum itu mereka sedang menjalani hari-hari yang tak biasa, hari-hari yang dipenuhi jarum suntik, pemeriksaan rumah sakit, dan doa panjang orang tua yang tak putus-putus.
Gede Agus Sukmawan(13) dan adiknya Kadek Junartawan(9) adalah dua bersaudara yang tengah bertarung dengan diabetes tipe 1, penyakit yang biasanya datang di usia senja, namun kini justru merenggut masa kecil mereka yang seharusnya penuh warna.
Baca Juga : Bupati Gus Par Beri Harapan Baru Pasutri Nelayan Miskin Kusambi
Tak pernah terlintas dalam benak pasangan Ni Luh Sukani (42) dan I Wayan Manis (44) bahwa kedua anak mereka akan mengalami penyakit kronis yang begitu berat. Keluarga mereka tidak punya riwayat diabetes. Namun, kenyataan berkata lain.
Awal mula perubahan itu tampak pada Kadek Junartawan. Tubuhnya tiba-tiba menyusut drastis, matanya sayu, hingga satu hari ia tak sadarkan diri. Dilarikan ke rumah sakit, awalnya sempat diduga terkena penyakit umum anak-anak, seperti cacar atau infeksi biasa. Namun hasil tes darah membuat semua terdiam, kadar gula dalam darahnya mencapai lebih dari 1000 mg/dL, jauh di atas batas normal.
Beberapa bulan berselang, giliran sang kakak, Gede Agus, yang menunjukkan gejala serupa. Setelah diperiksa, hasilnya pun mengejutkan, kadar gula dalam darahnya mencapai 500 mg/dL. Kini, ia juga menghadapi risiko glaukoma, gangguan pada mata akibat komplikasi diabetes, dan harus menjalani perawatan rutin ke RS Bali Mandara.
“Penglihatan saya sekarang kabur, walaupun pakai kacamata tetap sulit membaca,” ucap Gede Agus lirih kepada media ini saat ditemui di rumahnya pada Sabtu(14/6/2025).
Baca Juga : Dari Drone Bernilai Miliaran Hingga Drone DJI Mavic jadi Senjata Tempur di Perang Rusia-Ukraina
Diceritakan ayahnya, sejak dua tahun lalu, kedua anak ini bergantung pada insulin lima kali sehari untuk bisa bertahan hidup. Sebuah rutinitas yang mungkin terdengar klinis di dunia medis, namun sangat menakutkan bagi anak-anak yang masih ingin bermain, menari, dan berlari bebas bersama teman-teman.
“Dulu mereka aktif ikut latihan tari, sekarang lebih sering di rumah,” tutur sang ibu, Ni Luh Sukani, yang setiap harinya bekerja sebagai buruh ikut sang suami. Pendapatan mereka tak menentu, namun pengeluaran rutin untuk transportasi dan kebutuhan medis tak bisa ditunda.
Perjalanan ke rumah sakit pun bukan perkara mudah. Jarak yang jauh dan tak memiliki kendaraan pribadi membuat mereka harus bergantung pada belas kasihan tetangga dan saudara yang rela meminjamkan sepeda motor atau mobil.
“Saya tidak tahu kenapa bisa begini. Kami orang tuanya tidak ada riwayat diabetes,” imbuh Luh Sukani dengan mata berkaca-kaca. Namun ia mengakui, anak-anaknya dulu memang gemar mengonsumsi jajanan kemasan dan minuman manis yang begitu mudah dijangkau.
Kisah Gede Agus dan Kadek Junartawan adalah cermin yang memantulkan realitas pahit, bahwa pola makan dan gaya hidup di usia dini bisa membawa dampak jangka panjang. Dan bahwa penyakit tidak pernah memandang usia, apalagi kesiapan.
Baca Juga : Presiden Prabowo Tegaskan Komitmen Pembangunan Proyek Strategis Giant Sea Wall Pantai Utara Jawa
Kini, dua bocah yang seharusnya berlarian di lapangan sekolah, harus menari di atas luka yang tak terlihat, luka yang datang dari dalam tubuh mereka sendiri. Namun, mereka tetap tersenyum, tetap belajar, dan tetap berharap, bahwa suatu hari nanti akan ada keajaiban.
Mereka tak meminta banyak, hanya kesempatan untuk tumbuh tanpa rasa sakit yang menusuk lima kali sehari. Dan mungkin, lewat cerita mereka, orang tua di luar sana akan lebih waspada, lebih peduli, dan lebih mencintai masa depan anak-anaknya, dimulai dari apa yang mereka makan dan minum hari ini. (ger/bfn)
