Jejak Pengabdian Dandim Widarta di Karangasem, Pembangunan Berbasis Kebutuhan Warga dari Koperasi hingga Sumur Bor

jejak-pengabdian-dandim-widarta-di-karangasem-pembangunan-berbasis-kebutuhan-warga-dari-koperasi-hingga-sumur-bor
Komandan Kodim (Dandim) 1623/Karangasem, Letkol Inf. I Putu Gede Widarta

KARANGASEM, Balifactualnews.com – Komandan Kodim (Dandim) 1623/Karangasem Letkol Inf. I Putu Gede Widarta mendorong sejumlah program yang menyentuh langsung kebutuhan masyarakat, mulai dari penguatan ekonomi desa melalui Gerai Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP), dari pembangunan jembatan, hingga penyediaan akses air bersih melalui sumur bor.

Pembangunan tidak selalu dimulai dari proyek besar. Terkadang, ia berawal dari keluhan sederhana: anak sekolah yang kesulitan menyeberangi sungai, petani yang kekurangan air, atau warga desa yang harus membeli kebutuhan pokok dengan harga mahal.

Bagi Dandim Widarta, kehadiran TNI di tengah masyarakat bukan sekadar menjaga keamanan dan stabilitas wilayah. Lebih dari itu, TNI harus mampu hadir ketika masyarakat membutuhkan, membangun sinergi dengan pemerintah daerah, sekaligus menjadi bagian dari solusi atas persoalan yang dihadapi warga.

Salah satu yang kini menjadi perhatian adalah penguatan ekonomi masyarakat melalui pembangunan fisik Gerai Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP).

“Ada sembilan KDKMP yang sudah 100 persen siap operasi. Sisanya masih dalam proses pembangunan,” kata Putu Gede Widarta, Minggu (9/8).

Kehadiran koperasi tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai tempat transaksi ekonomi. KDKMP diproyeksikan menjadi bagian dari mata rantai ekonomi desa, terutama dalam memastikan kebutuhan pokok masyarakat tetap tersedia.

Kelangkaan minyak goreng, LPG, pupuk hingga fluktuasi harga beras menjadi persoalan yang selama ini dirasakan masyarakat. Karena itu, koperasi diharapkan mampu memperpendek rantai pasok dan memastikan kebutuhan masyarakat dapat menjangkau pelosok desa.

“Kehadiran Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih diharapkan menjadi infrastruktur negara untuk menjamin pasokan kebutuhan pokok masyarakat sampai ke pedesaan,” ungkapnya.

Namun, koperasi tidak hanya diproyeksikan sebagai tempat warga membeli kebutuhan sehari-hari. KDKMP juga diharapkan menjadi pintu bagi hasil pertanian dan perikanan masyarakat untuk masuk ke pasar.

Petani dan nelayan tidak lagi hanya menjadi produsen yang kemudian kehilangan posisi tawar ketika menjual hasil produksinya. Melalui koperasi, hasil pertanian dan perikanan diharapkan dapat diserap dengan mekanisme yang lebih menguntungkan.

Bahkan, ke depan KDKMP diproyeksikan memiliki unit usaha simpan pinjam. Layanan tersebut diharapkan dapat menjadi alternatif pembiayaan bagi masyarakat desa yang membutuhkan modal usaha.

“Keberadaan layanan pembiayaan melalui KDKMP diharapkan menjadi solusi bagi masyarakat di tengah banyaknya pinjaman online dan rentenir dengan bunga yang membebani masyarakat,” jelasnya.

Di sisi lain, pembangunan infrastruktur dasar menjadi bagian lain dari perhatian Kodim 1623/Karangasem.

Salah satunya pembangunan Jembatan Garuda yang menghubungkan akses masyarakat di sejumlah wilayah. Jembatan bukan sekadar konstruksi beton dan besi. Bagi warga, keberadaannya menyangkut akses sekolah, pekerjaan, pertanian hingga aktivitas ekonomi sehari-hari.

Kisah anak-anak sekolah yang harus menempuh perjalanan lebih jauh karena tidak memiliki akses penghubung yang memadai menjadi salah satu alasan pembangunan jembatan tersebut didorong.

“Ketika melihat anak-anak harus menempuh perjalanan jauh untuk bersekolah karena tidak ada jembatan, tentu kita merasa tersentuh. Dari situ kami memahami bahwa pembangunan jembatan ini merupakan tugas mulia. Mempermudah mobilitas petani, pedagang dan warga dalam menjalankan aktivitas sehari-hari,” tutur Widarta.

Satu per satu akses kemudian dibangun. Jembatan Garuda di Desa Manggis telah diselesaikan, sementara pembangunan lainnya masih berlangsung di tiga desa.

Bagi TNI, pembangunan itu bukan sekadar mengejar target fisik. Ada harapan yang ingin dibuka dari sebuah jembatan: anak-anak lebih mudah menuju sekolah, petani lebih cepat membawa hasil kebun, pedagang lebih lancar bergerak, dan aktivitas warga tidak lagi terhambat oleh keterbatasan akses.

Persoalan lain yang tidak kalah mendasar adalah air bersih. Di sejumlah wilayah Karangasem, seperti Kubu, Selat dan Karangasem, keterbatasan air masih menjadi persoalan yang harus dihadapi masyarakat. Bahkan, untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, warga harus membeli air dengan harga yang tidak sedikit.

“Bermula dari kesulitan warga di desa yang mengeluhkan ketersediaan air. Kadang warga harus membeli air Rp300 ribu per tangki. Kalau dekat mungkin Rp150 ribu per tangki. Dari situ kemudian kami melapor ke pimpinan untuk membangun sumur bor,” kata Widarta.

Kini, sekitar 10 titik sumur bor tengah dikerjakan Kodim 1623/Karangasem di sejumlah desa. Setiap titik diharapkan mampu memberikan manfaat bagi puluhan hingga sekitar 100 kepala keluarga.

Air yang dihasilkan pun tidak hanya untuk kebutuhan rumah tangga. Warga dapat memanfaatkannya untuk pertanian, peternakan dan kegiatan ekonomi lainnya.

“Keberadaan satu titik sumur bor diharapkan mampu memberi dampak yang luas terhadap kehidupan dan aktivitas ekonomi masyarakat. Air sumur bor bukan untuk kebutuhan rumah tangga saja, tetapi juga dimanfaatkan untuk pertanian, peternakan dan kegiatan ekonomi warga lainnya,” ujarnya.

Bagi masyarakat yang selama ini harus mengeluarkan uang ratusan ribu rupiah hanya untuk mendapatkan satu tangki air, sebuah sumur bor tentu memiliki arti yang jauh lebih besar daripada sekadar fasilitas fisik.

Ia adalah sumber kehidupan sekaligus modal untuk menggerakkan ekonomi warga.
TNI Hadir, Rakyat Ikut Menjaga

Namun, Widarta menyadari bahwa pembangunan tidak akan bertahan jika hanya mengandalkan satu pihak.

Setelah fasilitas selesai dibangun, masyarakat diharapkan ikut menjaga dan merawatnya. Mesin sumur bor, misalnya, harus dirawat secara berkala. Jika terjadi kerusakan, semangat gotong royong diharapkan kembali menjadi kekuatan untuk memperbaikinya.

“Berbagai program pembangunan tidak dapat berjalan tanpa kolaborasi antara TNI, pemerintah daerah, pemerintah desa dan masyarakat. Semua pihak memiliki peran dan kekuatan,” tegasnya.

Menurutnya, TNI memiliki sumber daya dan jaringan yang dapat membantu mempercepat pembangunan. Sementara pemerintah daerah, pemerintah desa dan masyarakat memiliki peran penting dalam memberikan dukungan sekaligus memastikan hasil pembangunan tetap berkelanjutan.

Dari koperasi, jembatan hingga sumur bor, benang merahnya tetap sama: bagaimana pembangunan benar-benar dirasakan masyarakat.

Dan di balik pembangunan fisik tersebut, ada pesan yang terus ditekankan Widiarta, yakni pentingnya menjaga persatuan.

Kepada generasi muda Karangasem, Widiarta berpesan agar tidak hanya mengejar kecerdasan akademik, tetapi juga membangun karakter, daya juang dan kepedulian terhadap lingkungan sekitar.

“Generasi muda adalah masa depan bangsa dan negara. Tugas kalian saat ini adalah belajar dengan rajin, membangun karakter yang hebat, memiliki semangat dan cita-cita tinggi, serta menjadi generasi yang bermanfaat bagi masyarakat,” tuturnya.

Sementara kepada seluruh masyarakat Karangasem, ia mengajak agar tradisi kebersamaan dan gotong royong tidak luntur di tengah perubahan zaman. Sebab, menurutnya, persoalan yang berat akan terasa lebih ringan ketika dikerjakan bersama.

“Kalau kita bergotong royong, yang awalnya lemah akan menjadi kuat. Kita juga akan memiliki rasa memiliki bersama dan keinginan untuk merawat hasil pembangunan bersama-sama,” katanya.

Ia pun mengingatkan agar setiap persoalan yang muncul di masyarakat diselesaikan dengan mengutamakan kepentingan bersama.

“Mari kita jaga perdamaian, kerukunan, serta tetap bersatu. Jika ada konflik, segera selesaikan. Jangan mewariskan konflik kepada generasi muda. Rendahkan ego dan pilih persatuan,” pungkasnya.

Pembangunan bukan hanya tentang jembatan yang berdiri, sumur bor yang mengalir, atau koperasi yang membuka pintu. Pembangunan adalah tentang harapan yang tumbuh ketika masyarakat merasa tidak berjalan sendirian.Dan di tengah denyut kehidupan desa Karangasem, TNI bersama pemerintah dan masyarakat berusaha memastikan harapan itu tetap menyala. (tio/bfn)

Exit mobile version