MANGUPURA, Balifactualnews.com – Predikat membanggakan dengan Pujian (Cumlaude) Program Doktor Ilmu Lingkungan diraih oleh Dr. Ir. I Made Agus Aryawan, ST., M.T, Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kabupaten Badung. Predikat diterima setelah melalui Ujian Terbuka, di Aula Pascasarjana, Universitas Udayana (Unud), Selasa (15/8/2023).
Kepala DPMPTSP Badung, yang akrab disapa Agus Aryawan mendapat ijin belajar dari Bupati Badung untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang Doktor dan dapat diselesaikan tempat waktu. Sidang Ujian Terbuka terdiri dari 9 guru besar dan 5 undangan akademik tersebut berlangsung selama 2,5 jam dan berjalan lancar.
Adapun tim penyanggah ketika itu yakni Prof. Ir. I Wayan Arthana, MS, PhD. (Ketua/Penyanggah) Prof. Dr. Ir. Syamsul Alam Paturusi, M.SP. (Promotor/Peyanggah), Prof. Dr. Ir. I Wayan Nuarsa, M.Si (Ko Promotor 1/Peyanggah), Prof. Dr. Drs. I Wayan Budiarsa Suyasa, MS (Ko Promotor 2/Peyanggah), Prof. Dr. Ir. I Wayan Sandi Adnyana, MS (Peyanggah), Prof. Ir. I Gusti Bagus Sila Dharma, MT, PhD. (Peyanggah), Prof. Dr. Ir. I Wayan Suarna, MS. (Peyanggah), Prof. Dr. Ir. I Nyoman Rai, M.S. (Peyanggah) dan Prof. Dr. Ir. I Made Adhika, MSP. (Peyanggah). Sementar penguji dari undangan akedemik terdiri dari Dr. I Wayan Suambara, SH., MM (Kepala Brida Kabupaten Badung), Dr. Ir. I Made Sudarma, M,S (Unud), Dr. Ir. I Wayan Diara, M.S (Unud), Dr. Drs. I Made Sara Wijana, M.Si (Unud), dan Abd. Rahman As-syakur, SP, MSi, PhD (Unud).
Untuk diketahui, disertasi yang disusun oleh Agus Aryawan dengan judul ‘Ekologi Bentanglahan Sebagai Basis Pengembangan Sistem Perwilayahan Kabupaten Badung’ manawarkan solusi atas kelemahan-kelemahan kebijakan dan strategi sistem perwilayahan di Kabupaten Badung. Yang mana terbagi menjadi 3 wilayah pengembangan, yaitu Badung Utara, Badung Tengah dan Badung Selatan, dengan pendekatan administrasi yang menyebabkan disparitas spasial, dikotomi utara-selatan, perubahan penggunaan lahan, alih fungsi lahan, simpangan pemanfaatan ruang dan berbagai tekanan terhadap lingkungan hidup.
Atas fenomena yang terjadi tersebut maka ditawarkan kebaharuan (novelty) berupa perubahan dari pendekatan administrasi (diskrit) menjadi pendekatan ekologi bentanglahan (kontinum) sebagai instrumen dalam mewujudkan prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan. Terdapat 4 rumusan zona ekologi yang ditawarkan sebagai tinjauan kembali atas kelemahan dari sistem sistem perwilayahan yang ditetapkan dalam RTRW Kabupaten Badung, yaitu dengan menetapkan Zona Ekologi Sangat Tinggi, Zona Ekologi Tinggi, Zona Ekologi Sedang, dan Zona Ekologi Rendah.
Dengan demikian diharapkan tidak lagi terjadi dikotomi utara-selatan dan kesenjangan spasial yang direspon oleh perkembangan pembangunan berupa perubahan penggunaan lahan dan simpangan-simpangan pemanfaatan ruang, sehingga berpengaruh terhadap perubahan struktur bentanglahan Kabupaten Badung.
Sidang terbuka yang dihadiri pihak keluarga Agus Aryawan dan disaksikan oleh undangan dari Perangkat Daerah tersebut banjir penghargaan dan apresiasi atas capaian yang sangat membanggakan. Apalagi sebagai pejabat di Pemerintah Kabupaten Badung yang bisa menyelesaikan studi tepat waktu dengan predikat pujian. Hal tersebut sekaligus menjadi motivasi bagi yang lainnya, dimana pejabat selevel kepala dinas dapat membagi waktu dan menyusun disertasi dengan serius dan selesai tepat waktu.
Diwawancara usai pelaksanaan sidang ujian terbuka, Agus Aryawan menyatakan sangat berterima kasih kepada Promotor, Kopromotor dan semua penguji serta dukungan keluarga besar dan pegawai DPMTPSP Badung yang memotivasi pihaknya untuk dapat menuntaskan studi. Untuk mengimplementasikan hasil riset tersebut, maka temuan yang menurut Penguji sangat baik, akan dilaporkan secara resmi kepada pimpinan sebagai pedoman dalam pengambilan kebijakan khususnya dalam pengembangan wilayah yang berorientasi pada keberlanjutan lingkungan. “Diperlukan dukungan pemegang kebijakan dan dukungan politik agar temuan ini dapat diwujudkan dan diimplementasikan di Kabupaten Badung agar daya dukung lingkungan hidup tidak terus menurun,” ungkap Agus Aryawan. (yan/ger/bfn)
