KARANGASEM, Balifactualnews.com – Tangis pecah di rumah duka Banjar Dinas Susut, Desa Muncan, Kecamatan Selat, Karangasem, Sabtu (3/10/2026). Sekitar pukul 11.00 Wita, jenazah I Gede Selamet (21) dikeluarkan dari freezer untuk menjalani prosesi pemandian sebelum diantarkan menuju peristirahatan terakhir.
Sejak pagi, rumah duka dipenuhi keluarga, kerabat, tetangga hingga rekan sesama sopir truk. Mereka mengenang Gede Selamet sebagai pemuda sederhana, polos dan pendiam, namun mudah bergaul serta tidak pernah membuat masalah.
“Dia orangnya polos, pendiam orangnya, tidak pernah buat masalah di sini,” ujar Sugiana, salah seorang rekannya.
Di balik sosok pendiam itu, Gede Selamet dikenal sebagai pemuda yang senang berkumpul dan bermain voli. Sebagai sopir truk, ia juga ikut menopang keluarganya. Orang tuanya telah lanjut usia, sementara adiknya masih duduk di bangku SMP dan telah putus sekolah.
Sekitar pukul 13.00 Wita, jenazah diusung menuju Setra Desa Adat Muncan, berjarak sekitar 1,5 kilometer dari rumah duka. Ratusan warga berjalan kaki mengiringi. Puluhan rekan sesama sopir truk dan teman semasa sekolah turut mengantar.
Suasana haru mengiringi perjalanan terakhir itu. Sesampainya di setra, para sahabat berkumpul dan melakukan penghormatan terakhir dengan bersulang dan minum bersama. Cara sederhana untuk mengenang seorang kawan sebelum berpisah untuk selamanya.
Gede Selamet pergi setelah berjuang melawan luka bakar hingga 68 persen. Ia sempat menjalani perawatan intensif di RSUP Prof Ngoerah Denpasar sebelum akhirnya meninggal dunia.
Bagi keluarga, penderitaan itu tidak boleh berhenti sebagai kisah duka. Mereka berharap proses hukum terhadap I Putu Cahyadi Putra (37), tersangka dalam perkara tersebut, berjalan maksimal dan menghasilkan hukuman setimpal.
“Kami berharap proses hukumnya seberat-beratnya dan setimpal. Gede Selamet mengalami luka bakar sangat parah sampai akhirnya meninggal dunia,” kata Wayan Sudarta, keluarga korban.
Menurut Sudarta, persoalan yang melatarbelakangi kejadian berkaitan dengan uang setoran. Namun, persoalan tersebut semestinya dapat diselesaikan melalui pembicaraan, bukan kekerasan.
“Kalau masalah uang, sebenarnya masih bisa dibicarakan dan diselesaikan. Jangan sampai persoalan uang berujung seperti ini, sampai nyawa melayang,” ujarnya.
Kini, keluarga bukan hanya kehilangan seorang anak dan saudara, tetapi juga sosok yang selama ini ikut menopang kehidupan keluarga. Mereka berharap proses hukum, termasuk rekonstruksi nantinya, mampu mengungkap terang seluruh rangkaian peristiwa yang menyebabkan Gede Selamet terluka parah hingga meninggal dunia.
Rumah duka akan kembali sepi. Para sahabat akan kembali menjalani kehidupan masing-masing. Namun bagi keluarga, kehilangan itu tidak akan selesai bersama pemakaman.
Gede Selamet telah sampai pada perjalanan terakhirnya. Ia diantar ratusan langkah sahabat, dilepas dengan air mata dan doa. Kini, satu harapan dititipkan keluarga kepada hukum: agar kematiannya tidak sekadar menjadi angka dalam sebuah perkara.
“Semoga hukumannya setimpal dengan apa yang dialami Gede Selamet. Kami hanya ingin keadilan untuk Gede Selamet dan keluarga,” tegas Sudarta.(Ketut Parwata)
