KARANGASEM, Balifactualnews.com – Di sebuah kamar kos sederhana di Lingkungan Dangin Sema 1, Kelurahan Karangasem, Syukron Hamdani dan Nuryani menjalani hari-hari penuh keterbatasan. Perhatian mereka tercurah kepada Muhammad Ghaazi Mumtaz, 3,5 tahun, anak mereka yang menderita hidrosefalus sejak lahir.
Ghaazi belum mampu duduk. Penglihatannya juga telah hilang setelah mengalami kejang hebat saat berusia sekitar satu tahun. Setiap tiga jam, orang tuanya harus memberikan minum, sementara makanannya masih berupa bubur.
Syukron menjadi tumpuan keluarga dengan berjualan jajan pasar secara keliling. Penghasilannya tak menentu. Dengan sewa kamar Rp300.000 per bulan, kebutuhan keluarga sekaligus perawatan Ghaazi menjadi perjuangan tersendiri.
Ghaazi sebelumnya menjalani operasi di RSUP Prof. Ngoerah saat berusia 10 bulan. Ia juga sempat menjalani perawatan dan fisioterapi selama sekitar 10 bulan. Namun, keterbatasan biaya membuat keluarga kembali ke Karangasem.
Senin (12/10), perhatian datang menyapa keluarga tersebut. Ketua TP Posyandu Kabupaten Karangasem, Ny. Mas Parwata, mengunjungi Ghaazi dan menyerahkan kursi roda, selimut, handuk, ember dan gayung. Bantuan uang tunai juga diberikan secara pribadi.
Bagi keluarga Syukron, bantuan itu bukan sekadar barang. Ada perhatian dan harapan yang hadir di tengah perjuangan panjang mereka.
Lurah Karangasem Putu Eka Yuda Agustin Long mengatakan keluarga tersebut rutin mendapatkan layanan Posyandu dan telah diusulkan untuk memperoleh bantuan melalui Dinas Sosial Karangasem.
Kepala Bidang Rehabilitasi Sosial dan Penanganan Bencana Dinas Sosial Karangasem, I Gusti Agung Bagus, mengatakan seluruh anggota keluarga telah memiliki BPJS Kesehatan aktif yang dibiayai APBD. Namun, keluarga belum menerima PKH karena posisi desil kesejahteraannya masih tergolong tinggi.
Data keluarga kini telah didalami dan diusulkan untuk penyesuaian desil. Dinas Sosial akan kembali berkoordinasi agar bantuan dapat diberikan apabila memenuhi ketentuan.
Ny. Mas Parwata mengatakan kunjungan ke masyarakat bukan sekadar menyerahkan bantuan, tetapi untuk melihat langsung kondisi warga dan mendengar kebutuhan mereka.
“Kunjungan langsung tidak hanya menyerahkan bantuan, tetapi juga melihat kondisi riil warga, mendengarkan kebutuhan mereka, serta memastikan program pemerintah dan bantuan kesejahteraan sosial menjangkau masyarakat yang membutuhkan,” katanya.
Di kamar kos sederhana itu, perjuangan Syukron dan Nuryani masih panjang. Namun hari itu, mereka tidak sendiri. Sebuah kursi roda, bantuan yang datang, dan perhatian yang diberikan menjadi secercah harapan bagi Ghaazi dan kedua orang tuanya. (tio/bfn)
