Daerah  

Mengikuti Jejak Sukses I Dewa Gede Meranggi Darmawijaya (5-Habis)

 

*Kejar Magister Perkuat SDM Perbankan , Juga Penggiat Sosial

________________________________________________________________________________

JABATAN sebagai direktur utama tidak cukup untuk memahami ilmu dan seni manajemen SDM (Sumber Daya Manusia), karenanya dalam usia mendekati lima puluh tahun, pada 2013 De Meranggi kembali datang ke kampus (Warmadewa), kali ini untuk melanjutkan belajar dan menyelesaikan studi S2 pada program studi Magister manajemen dengan konsentrasi manajemen SDM.

“Saya sendiri tidak percaya bisa melanjutkan studi S2 seperti beberapa saudara dan kerabat yang lain. Sejatinya kuliah ditengah-tengah kebutuhan ekonomi dan tanggungan yang banyak tidaklah mudah, tetapi astungkara atas ijin Tuhan semua jadi mengalir,” ucap I Dewa Gede Meranggi Darmawijaya, mengenang kisahnya mengejar gelar Magister manajemen SDM bekas kampusnya dulu Warmadewa.

Menurut pria yang sering menjadi narasumber sebuah radio di Bali itu, berbekal manajemen SDM akan banyak membantu tugas-tugas saya di BPR. Semangat tinggi, tekun, dengan berbekal komitmen belajar akhirnya program studi S2 dapat ditempuhnya dalam waktu 1 tahun 7 bulan. Dia juga tercatat sebagai wisudawan dengan prestasi terbaik dan tercepat.

“Saya di yudisium 12 September 2015, dengan waktu studi tercepat sekaligus dengan IP tertinggi 4,0 (summa cum laude),” jelas Pria asal Dusun Selatnyuhan, Desa Pengiangan, Kecamatan Susut, Bangli ini.

Ijazah Magister manajemen SDM yang didapatkan itu, kini didedikasikan penuh dalam mendukung pekerjaan di BPR, namun sebelum diwisuda pada 17 September 2015, De Meranggi ditawari untuk menjadi dosen di FEB (Fakultas Ekonomi dan Bisnis) Universitas Warmadewa. Pelan tapi pasti.. hutang cita-citanya untuk menjadi guru saat masih SD terlunasi.

“Tugas saya menjadi dosen tidak begitu lama, karena saya berkeinginan untuk tetap focus mengembangkan BPR Sri Jaya Sedana yang sudah membesarkan saya sampai sekarang,” jelasnya. Ada alasan lain, De Meranggi tidak mau berlama-lama menjadi dosen di Warmadewa, selain karena focus pada BPR yang dipimpinnya, juga karena tahun 2010 lalu dia mendirikan Yayasan Padma Bhakti Pertiwi, bergerak dalam bidang sosial dan lingkungan.

“Di yayasan, saya jadi ketua dewan pembinanya. Ternyata tidak mudah. Sampai saat ini kegiatan yayasan belum banyak maksimal, hanya sesekali setahun, itupun harus bersinergi dengan berbagai pihak,” terang suami Ayu Suryaningsih ini.

Seiring perjalanan, dengan visi yayasan yang dimiliki dari tidak ada menjadi ada (from nothing to everything) itu menjadi kenyataan.

“Astungkara atas izin Tuhan, juga support dari berbagai pihak, program yayasan akhirnya berjalan sesuai visi yang ada,” katanya, seraya menambahkan, hidup sekali harus dimaknai. Artinya, jadikan hidup ini diperhitungkan orang lain pada setiap komunitas.

“sukses itu bukan karena dimana kita berada, tetapi bagaimana kita disana,” ucap De Meranggi Darmawijaya, mengakhiri obrolannya dengan tim balifactualnews.com. (tio)

Exit mobile version