Daerah  

Prediksi Kinerja Ekonomi Bali 2020 Meningkat


DENPASAR, Balifactualnews.com Pada tahun 2020, kinerja ekonomi Bali diperkirakan akan menunjukkan peningkatan yang akan tumbuh dalam kisaran sebesar 5,70 persen hingga 6,10 persen dari tahun ke tahun (yoy), karena didorong pertumbuhan semua jenis lapangan usaha utama.

Hal itu diungkapkan Kepala KPw Bank Indonesia Provinsi Bali Trisno Nugroho, di sela-sela acara Simakrama “Menyambut Tahun Baru 2020” yang berlangsung di Denpasar, Rabu (8/1/20) yang mengatakan, beberapa faktor pendorong peningkatan kinerja ekonomi bersumber sektor terkait pariwisata seiring dengan meningkatnya kapasitas pelabuhan Benoa yang mendorong peningkatan jumlah kapal cruise ke Bali (quality tourism).

“Peningkatan kinerja juga berasal dari pengerjaan beberapa proyek konstruksi baik yang merpakan kelanjutan dari tahun 2019 maupun yang dimulai di tahun 2020,” ucap Trisno dimana acara simakrama juga dihadiri Gubernur Wayan Koster, Kepala OJK Bali Nusra Elyanus Pongsoda, Kepala BPS serta sejumlah instansi terkait.

Sementara itu faktor lain adalah prakiraan membaiknya kinerja ekonomi negara mitra dagang utama, penambahan direct fight serta pengembangan pasar wisman alternatif yaitu antara lain wisatawan dari negara-negara Eropa Timur.

Ia megatakan, Sektor pertanian masih memegang peranan penting dalam perekonomian Bali. Pertanian memberi kontribusi sekitar 13 persen dan 60 persen warga terjun di sektor ini.

“Jadi melihat peran penting sektor pertanian maka harus ditunjang teknologi yang memadai sehingga bisa meningkatkan kualitas dan produksinya,” jelasnya

Trisno juga menyebut ke depan komoditi pertanian ini semakin penting. Selain banyak produk pertanian yang diekspor sehingga dapat meningkatkan pendapatan petani dan devisa negara juga kebutuhan masyarakat akan produk ini terus meningkat.

Apalagi Bali sebagai daerah yang banyak dikunjungi wisatawan yang sudah tentu membutuhkan makanan yang sangat besar. “Komoditi pertanian seperti cabai, bawang dan beras juga berperan dalam menjaga stabilitas inflasi serta bisa membawa dampak pada kemiskinan,” tambah Trisno. Karena itu upaya-upaya untuk meningkatkan produksi ini perlu dilakukan di antaranya penerapan teknologi baik produksi maupun pengolahannya.

Di sisi lain Trisno memaparkan inerja ekonomi Bali pada tahun 2019, menghadapi tantangan yang cukup besar. Selain melambatnya kinerja ekonomi global, juga disebabkan melambatnya jumlah kunjungan wisatawan mancanegara dan wisatawan nusantara. Kondisi ini berdampak pada tertahannya kinerja ekonomi Bali pada tahun 2019 yang diprakirakan hanya tumbuh sebesar 5,40%-5,80% (yoy), lebih rendah dibanding tahun 2018 yang tumbuh 6,35% (yoy).

Terkait inflasi, pada tahun 2019 menunjukkan capaian yang menggembirakan, tercermin oleh nilai inflasi yang rendah sebesar 2,38% (yoy), lebih rendah dibanding tahun 2018 sebesar 3,13% (yoy). “Capaian ini merupakan buah dari hasil kerja sama antara TPID Provinsi Bali dan Kabupaten/Kota serta stakeholder terkait lainnya,” jelasnya.

Inflasi Bali pada tahun 2020 diprediksi cukup stabil, meski masih menghadapi beberapa tantangan terkait dengan rencana kenaikan cukai rokok sebesar 23%, rencana kenaikan iuran BPJS kesehatan, peningkatan kunjungan wisatawan yang membawa konsekuensi peningkatan permintaan serta peningkatan biaya pendidikan.

Berdasarkan hasil Survei Pemantauan Harga (SPH) pada minggu pertama Januari 2020, inflasi Bali mencapai 0,22%, seiring dengan terjadinya kenaikan harga beberapa komoditas seperti telur ayam, udang dan bumbu- bumbuan.

“Inflasi Bali pada Januari 2020 diprakirakan akan melandai dalam kisaran 0,20%-0,60% (mtm), yang tertahan oleh penurunan tarif angkutan udara, penurunan harga bahan bakar minyak (pertamax) dan penurunan permintaan di masa low season pariwisata,” ujar Trisno.(rus/ger)

Exit mobile version