Daerah  

Rayakan Hari Idul Fitri, Warga Banjar Saren Jawa Laksanakan Tradisi Megibung

________________________________________________________________________________

KARANGASEM — Di Bali, megibung (makan bersama dalam wadah) biasanya dilakukan warga yang beragama Hindu setiap ada kegiatan adat, namun beda halnya dengan di Karangasem. Tradisi makan bersama yang dibalut nuansa keagamaan juga dilakukan umat Muslim.


Megibung sudah menjadi tradisi khusus krama umat Muslim Banjar Saren Jawa, Desa Budakeling, Bebandem, setiap merayakan Hari Raya Idul Fitri, yang datang setiap satu tahun sekali. Seperti Hari Idul Fitri 1440 H tahun ini, ratusan krama muslim Saren Jawa (laki-perempuan Red) duduk melingkar di pelataran Masjid setempat. Mereka megibung dan menyntap makanan yang dibawa dari rumah masing-masing bersama krama muslim lainnya. Tak Layaknya megibung krma Hindu, krama Muslim Saren Jawa juga melenkapi menu megibunya dengan sate lilit khas Bali,

“Tradisi megibung, sudah ada sejak kampung ini ada,” tutur salah satu pemuka masyarakat, Komang Asmuni. Ia menuturkan, kendati masyarakat Saren Jawa beragama Islam, namun segala bentuk tradisi di dalamnya, masih berpedoman ,dengan tradisi masyarakat Bali setempat. “Bahasa pengantar kami di Masjid juga Bahasa Bali Halus,” tutur Asmuni.


Ia menuturkan, terkait megibung, yang paling khas harus ada adalah sate lilitnya. ” Ini terbuat dari daging Sapi, dengan sambal rempah khas Bali, istimewanya di tambah Gula Aren, sehingga rasanya khas,” tuturnya. Tak sekadar menciptakan rasa, sate lilit khas Saren Jawa ini, memiliki filosofi, ungkapan suka cita warga , pada segala limpahan Allah.

Asmuni menuturkan, usai sholat Ied para warga akan mempersiapkan, senampan nasi, lengkap dengan beberapa lauk dan sate lilit. Ditutup dengan Saab (tutup sesajen khas Bali,red), ketika jam sudah menunjukkan pukul 11.00 WITA, secara berbondong warga akan datang ke Masjid. “Kami tidak memilih mana makanan yang kami bawa. Tapi apa yang ada di hadapan, entar punya siapa, kita akan nikmati bersama,” ungkap Asmuni.

Lanjut, menuturkan usai megibung  jika ada sisa setiap keluarga wajib membawanya pulang, untuk disantap di rumah. “Sisa makanan inilah yang disebut berkat, bentuk syukur, atas segala limpahan, sehingga harus di bawa pulang,” tutur Asmuni. (sak/tio)

Exit mobile version