DENPASAR, Balifactualnews.com – Gelombang aksi demonstrasi yang meluas ke berbagai daerah Indonesia kini juga terjadi di Bali. Ribuan orang dari berbagai latar belakang memadati kawasan Markas Polda Bali, Sabtu (30/8/2025).
Mereka menamakan diri sebagai Aliansi Bali Tidak Diam, yang terdiri dari pengemudi ojek online, mahasiswa, buruh, aktivis, hingga kelompok massa lainnya. Demonstran memulai titik kumpul sejak pukul 10.00 WITA. Gelombang demonstrasi tersebut merupakan bentuk solidaritas terhadap peristiwa di Jakarta pada 28 Agustus 2025 lalu, di mana seorang pengemudi ojek online Affan Kurniawan yang tewas setelah tertabrak kendaraan taktis Brimob.
Baca Juga : Demo DPR/MPR Memanas, Seorang Driver Ojol Tewas, Massa dan Tokoh Bereaksi
Ardi selaku Humas Aliansi Bali Tidak Diam, di tengah aksi mengatakan, pihaknya menyuarakan penolakan terhadap kenaikan tunjangan DPR RI serta menyerukan reformasi menyeluruh di tubuh kepolisian.
“Perjuangan ini tidak akan berhenti sebelum seluruh tuntutan kami didengar,” tegas Ardi kepada awak media.

Aliansi menyatakan ada 33 tuntutan utama yang mereka ajukan. Beberapa di antaranya mencakup:
- Pembubaran DPR RI.
- Reformasi total Polri dengan membentuk badan pengawas independen.
- Pemakzulan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.
- Penghentian anggaran tunjangan DPR dan Polri untuk dialihkan kepada rakyat.
- Penegakan hukum terhadap aparat yang melakukan kekerasan hingga mengakibatkan korban jiwa.
- Pembebasan tahanan politik dan demonstran yang dikriminalisasi.
- Pengesahan RUU Perampasan Aset serta pengembalian independensi KPK.
- Pencabutan UU Cipta Kerja, UU TNI, hingga RKUHAP yang dianggap merugikan rakyat.
- Penolakan privatisasi pendidikan, penghapusan pasal karet UU ITE, serta penghentian proyek pembangunan yang dinilai tidak partisipatif.
- Pembentukan sistem manajemen sampah di Bali yang lebih kondusif.
Ia menegaskan bahwa aksi yang digelar bukan hanya soal menyampaikan aspirasi, tetapi juga mencerminkan kepatuhan terhadap aturan dan kepedulian terhadap lingkungan. Untuk itu, panitia membentuk tim khusus yang bertugas menjaga kebersihan sepanjang jalannya aksi.
“Kami ingin menunjukkan bahwa suara rakyat bisa disampaikan dengan cara yang beradab. Aspirasi tidak harus identik dengan kerusakan atau sampah berserakan. Karena itu, sejak awal kami memastikan tim kebersihan terus berkeliling agar area sekitar aksi tetap bersih,” ujar Ardi.
Menurutnya, tim sampah tersebut dilengkapi dengan kantong besar dan berkeliling memungut sampah yang ditinggalkan peserta. Langkah itu, kata Ardi, merupakan bentuk kesadaran kolektif bahwa masyarakat Bali dikenal beretika, termasuk dalam menjaga lingkungan.
“Kami tidak ingin membebani orang lain. Sampah yang kami hasilkan adalah tanggung jawab kami. Inilah cara kami membuktikan bahwa aksi ini bisa berjalan tertib, damai, dan tetap menghormati lingkungan,” tandasnya. (ims/bfn)











