KARANGASEM, Balifactualnews.com – Sistem Agroforestri Salak di Desa Adat Sibetan, Kecamatan Bebandem, Kabupaten Karangasem resmi ditetapkan sebagai situs Warisan Sistem Pertanian Penting Global atau Globally Important Agricultural Heritage Systems (GIAHS) oleh Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO), pada 19 September 2024. Penetapan ini menjadi yang pertama untuk Indonesia dan menjadikan Salak Sibetan sebagai situs ke-89 di tingkat global.
Sekretaris Daerah Kabupaten Karangasem, I Ketut Sedana Merta, menyampaikan apresiasi dan rasa bangganya atas pengakuan internasional ini serta sejumlah pandangan dan komitmen Pemerintah Daerah dalam wawancara khusus bersama Channel NewsAsia (CNA), media internasional asal Singapura, Sabtu (19/4) lalu.
Koresponden CNA, Chandni Trilok Vatvani yang memimpin jalannya wawancara,juga menanyakan secara mendalam tentang keunggulan sistem agroforestri salak, peran masyarakat adat Sibetan, hingga dampaknya terhadap ketahanan pangan dan ekosistem air di wilayah Karangasem.
Sedana Merta, menegaskan, capaian tersebut merupakan hasil kolaborasi seluruh pihak, mulai dari pemerintah pusat, provinsi, kabupaten, hingga masyarakat Desa Adat Sibetan. “Ini bukan hanya pencapaian masyarakat Desa Adat Sibetan, tapi juga bukti bahwa kearifan lokal dan praktik pertanian tradisional kita diakui dunia. Pengakuan ini sekaligus menjadi tantangan bagi kita untuk terus menjaga kelestarian sistem agroforestri ini secara berkelanjutan,” ujar Sedana Merta.
Dia juga mengungkapkan, bahwa kawasan agroforestri salak di Sibetan mencakup sekitar 763,4 hektare dengan keterlibatan langsung 1.375 petani lokal. Sistem ini bukan hanya mempertahankan keanekaragaman hayati lokal, tetapi juga menjadi sumber penghidupan utama masyarakat setempat.
Selain itu, Sekda Sedana Merta juga menegaskan bahwa Bupati I Gusti Putu Parwata dan Wabup Pandu Prapanca Lagosa bersama jajaran Pemerintah Daerah Karangasem siap mengawal implementasi rencana aksi yang telah disusun, serta mendorong penguatan kelembagaan, promosi pariwisata pertanian, dan peningkatan kapasitas petani melalui berbagai pelatihan.
“Ini momentum strategis untuk menjadikan Salak Sibetan sebagai ikon pertanian berkelanjutan Karangasem. Sesuai arahan Bapak Bupati I Gusti Putu Parwata meminta agar terus menyinergikan potensi lokal dengan dukungan kebijakan nasional dan internasional,” tambahnya.
Ke depan, penetapan ini diharapkan tidak hanya meningkatkan kesejahteraan petani, tetapi juga memperkuat posisi Bali dan Indonesia di mata dunia dalam pengelolaan pertanian berbasis budaya dan keberlanjutan. (tio/bfn)
