Daerah  

Warga Selat Mulai Buat Dodol, Begini Proses Pembuatannya

Membuat Dodol sudah menjadi tradisi bagi warga Desa Selat, Kecamatan Selat, Karangasem, menjelang Usaba Dalem

KARANGASEM-Usaba Dalem yang dilaksanakan warga Kecamatan Selat, Karangasem, Bali, Rabu (6/3/2019) mendatang identik dengan Usaba Dodol. Ini tak terlepas dari sesaji (benten Red) yang dipersembahkan sarana utamanya jajanan (kue) dodol. Proses pembuatannya tergolong unik. Seperti apa?
Membuat Dodol sudah menjadi tradisi bagi warga masyarakat Selat Selat Duda, Karangasem menjelang usaba ( piodalan Ren ) di Pura Dalem setempat. Ini juga dilakukan Ni Wayan Selamet, warga asal Duda Utara, Selat Karangasem.

Menurut Selamet membuat Dodol tidak semudah yang dibayangkan. Harus menunggu proses panjang, karena tidak semua warga memiliki wajan khusus (kuali besar berbahan besi ) untuk tempat mengolah adonan dodol.
“ Agar bisa membuat dodol kita mesti antri menunggu giliran dapat meminjam wajan dari tetangga,” ucap Selamet
Wajan sudah didapat, kata Selamet , barulah mulai menyiapkan beberapa bahan utama pembuatan dodol, mulai dari buah kelapa tua, ketan dan gula merah. Sedangkan memenuhi kebutuhan upakara yang akan dipergunakan, biasanya dalam sekali adonan dodol, menggunakan 15 biji buah kelapa tua, dua kilogram tepung ketan dan 2,5 kilogram gula merah

“Buah kelapa untuk bahan santan, nanti air santan ini akan dicampur dengan gula merah yang sudah dicairkan kemudian dituangkan ke dalam wajan dan dimasak selama 5 jam. Dalam tahapan ini, santan tidak boleh dimasak menggunakan api yang terlalu besar dan tidak boleh diaduk,” terang Selamet.

Dalam waktu 5 Jam, lanjut Selamet, santan yang sudah masak itu lantas di dinginkan dan dicampur merata dengan tepung ketan. Sementara sisa santan yang masih didalam wajan kembali di masak. Setelah mendidih, secara perlahan adonan santan yang dicampur dengan tepung ketan dituang sedikit demi sedikit hingga habis.
Pada tahapan ini, adonan kembali dimasak selama 5 jam dengan nyala api sedang, dan adonan harus diaduk tanpa henti.

“Kalau adukan adonannya putus-putus, nanti dodolnya akan tidak bagus hasilnya,” jelas Selamet
Berselang beberapa jam, kata Selamet, adonan akan mulai mengental, adukan juga harus semakin kencang. Ini dilakukan untuk menghindari endapan di bawah wajan. Setelah 3 jam dimasak maka akan timbul gelembung gelembung besar serta warna adonan menjadi kecoklatan.

“Dodol yang sudah matang kemudian di simpan ke dalam tempat khusus dan didiamkan selama 48 jam. Proses pembungkusan dilakukan sesuai dengan keperluan upacara. Tapi sebelum dibungkus, dodol biasanya di diamkan selama dua hari,” terang Selamet. (Art)

Exit mobile version