Aura Magis Ter-Teran Desa Adat Jasri, Ritual Nyomya Buthakala

aura-magis-terteran-desa-adat-jasri-ritual-nyomya-buthakala
Pelaksanaan tradisi Ter-teran di Desa Adat Jasri Karangasem, Sabtu(29/3/2025)

KARANGASEM, Balifactualnews.com — Suasana hening ditengah kegelapan menyatu dengan aura magis dan kesakralan sangat terasa menjelang pelaksanaan Tradisi Ter-Teran di Desa Adat Jasri di Kelurahan Subagan, Karangasem. Ter-teran atau ritual perang api adalah  serangkaian dari Usaba Muu Muu atau Usaba Dalem  dilaksanakan oleh masyarakat Desa setempat yang digelar setiap dua tahun sekali, yang jatuh pada bilangan ganjil.

Tradisi Ter-Teran ini dilaksanakan sehari menjelang Perayaan Hari Nyepi atau saat hari pengerupakan. Selain untuk memohon keselamatan, tradisi ini juga bertujuan untuk mengusir roh jahat agar tercapai kedamaian dan ketentraman di Bhuana Agung dan Bhuana Alit.

Baca Juga : Bupati Gus Par Apresiasi Pelaksanaan Pawai Ogoh-Ogoh TK dan PAUD

Diawali dengan mempersembahkan Pecaruan Agung (Pecaruan Besar) yang dirangkaikan dengan upacara tawur kesanga yang dipusatkan di Catuspata, Tugu Patung Salak Desa Adat Jasri tepatnya saat hari sandikala atau senja menjelang petang dan juga menggelar Caru di pesisi atau pantai Desa Jasri sebagai rangkaian dari Usaba Muu Muu ini.

Jero Mangku Purwa, Pemangku Desa Pura Puseh Desa Adat jasri menjelaskan, setelah menggelar pecaruan, Jro Mangku dan para pengerembat caru Wong Bedolot mulai ngenjit sundih menyalahkan obor sambil bersorak dengan krama pemendak atau penyambut untuk “Ngeterin” para pengerembat caru.

Ketika para pengerembat caru Wong Bedolot sampai di gerbang desa, mereka (para pengerembat caru Wong Bedolot-Red) akan disambut dengan kulkul (kentongan) dan para krama pun bersorak sambil mengacungkan-acungkan obor atau sundih prakpak yang mereka bawa.

Baca Juga : Bupati Adi Arnawa Sampaikan LKPJ 2024

“Para pengerembat caru Wong Bedolot ini akan disoraki, namun mereka terus maju mendekati para pemendak atau penyambut itu disambut oleh lemparan sundih dari para krama Desa Adat Jasri. Para pengerembat caru tidak boleh melawan hanya boleh untuk menghidar atau menangkis dengan obor yang telah mereka bawa. Meski dilempar obor atau sundih prakpak yang menyala dengan bara api, mereka tidak ada yang terluka oleh api, tidak merasa panas didekat api yang menyala ditangan mereka. dIni pertanda ada kekuatan lain yang menyertai para pengerembat caru Wong Bedolot itu kebal dengan api.,” ujarnya pada Sabtu(29/3/2025).

Sementara itu, Kelian Desa Adat Jasri I Ketut Sanur menjelaskan, sebelum dimulainya Ter-Teran atau “Ngeterin” atau Nyundihin, banten caru yang telah dipersiapkan di Pura Wong Bedolot diminta agar para penyungsung bersiap-siap menunggu hari sandikala atau sore menjelang malam Kemudian para Jro Mangku Desa berjalan berbusana kain putih, memakai saput poleng (hitam putih) dan menggunakan tekes atau sesuatu yang diikatkan di kepala yang terbuat dari anyaman ambu berisi bunga pucuk merah sambil membawa keris di kedua tangannya menuju Pura Bale Agung Kajanan dan melaksanakan persembahyangan.

Baca Juga : Iswanto Pucat Test Urine Positif Narkoba

“Pelaksanaan upacara Ter-teran dilaksanakan oleh Jro Mangku Desa Dalem dengan menghaturkan pecaruan sebagai yadnya kehadapan sesuhunan Ida Betare Dalem. Disini kami memohon agar Ida Sasuhunan melindungi desa dan warga kami dari segala marabahaya dan mengusir roh jahat yang berada di wewidangan atau wilayah Desa Adat jasri, upacara ini sejatinya bertujuan untuk nyomya buthakala” terangnya.

Selain itu lanjut Ketut Sanur, Ter-teran merupakan tradisi suci yang mengajarkan tentang nilai kesantunan, sportivitas, persaudaraan dan keikhlasan. Karena itu setiap peserta wajib hukumnya menjaga tradisi ini bisa berjalan dengan sakral dan khidmat. Tradisi juga memiliki makna peleburan hawa atau sifat negatif dengan media berupa api, iklas dalam beryadanya dan tidak ada dendam baik saat melakukan ter-teran atau sesudahnya.

“Ada juga yang mengartikan ‘meter-teran’ itu berasal dari kata ‘teer’ yang artinya memperlihatkan. Dalam artian, inilah saatnya bagi kaum laki-laki di Desa Adat Jasri untuk memperlihatkan kemampuan, ketangguhannya dalam menghadapi segala tantangan kehidupan,” lanjut Sanur.

Baca Juga : Serangkaian Hut Kota Singaraja, R-Joss24 Gelar Lomba Mancing dengan Total Hadiah 10 Juta

Dalam pelaksanaan terteran, kaum lelaki dibagi menjadi dua kutub yang berseberangan, yaitu kutub utara dan selatan, depan balai masyarakat. Selama melaksanakan ritual ini masyarakat diwajibkan memakai pakaian adat dan mengikuti aturan yang berlaku. Mereka tidak diperbolehkan berkata jorok dan kasar, dan tidak boleh membawa unsur dengki atau permusuhan.

Dengan menggunakan sarana prakpak yang dibakar, api itu melambangkan semangat yang harus dikobarkan di masing-masing masyarakat dalam melaksanakan yadnya kehadapan Ida Sasuhunan. Sebelum menggelar ter-teran, sebagian krama berkeliling di sekitar Desa Jasri ngiring  Ida Bhatara. Setelahnya, seluruh warga langsung mengelar upacara pecaruan di Pantai Jasri Saat pulang dari upacara pecaruan sebagian pemedek yang datang dari arah selatan (Pantai Jasri) ditunggu krama yang telah berkumpul di sebelah utara. Tiba dipertigaan, rombongan pengiring yang datang dari pantai sontak dilempar bara api daun kelapa. Perang dilakukan tiga sesi dengan tujuan agar sifat-sifat bhuta kala tidak kembali ke desa.

“Tradisi terteran juga digelar untuk memohon keselamatan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Dulu diceritakan, rumah warga sering diketuk oleh makhluk halus. Setelah upacara Ter-teran digelar warga merasa nyaman, karena mahluk halus itu tidak mengganggu warga lagi. Tradisi ini sudah menjadi kepercayaan kami,” tutur Ketut Sanur. (ger/bfn)