Kisah Inspiratif I Wayan Tumpek

Penyandang Tuna Netra yang Berhasil Buat Keset Sabut Kelapa Berkualitas

Wayan Tumpek Penjual Keset di Karangasem
I Wayan Tumpek dan Tumpukan Keset Sabut kelapa buatannya.

KARANGASEM, Balifactualnews.com – Di tengah keterbatasan fisik, I Wayan Tumpek, seorang penyandang tuna netra asal Banjar Telengan, Desa Gegelang, Kecamatan Manggis, menunjukkan semangat juang yang luar biasa. Dengan kreativitas dan ketekunan, ia berhasil menciptakan keset sabut kelapa yang berkualitas dan diminati. Bagaimana kisahnya?

SAAT dikunjungi di rumahnya yang sederhana, Selasa (1/7) siang, I Wayan Tumpek langsung menyambut dengan gembira. Ia berjalan perlahan menuju tempat keset buatannya disimpan, menunjukkan antusiasme dan kebanggaan atas hasil karyanya.

“Belum ada pembeli untuk keset ini, jadi saya belum membuat lagi,” kata Wayan Tumpek dengan nada lembut, mengawali percakapannya dengan BALI FACTUAL NEWS, saat berkunjung ke rumahnya.

Tumpek tidak putus asa meskipun penjualannya sedang sepi. Ia tetap sabar dan menunggu pembeli datang. Ia percaya bahwa dengan kesabaran dan ketekunan, keset buatannya akan laku dan dapat meningkatkan pendapatan keluarganya.

Selain menjual langsung di rumah, Wayan Tumpek juga memperluas jangkauan pasarnya dengan menitipkan keset di beberapa warung sekitar. Harga jual keset yang kompetitif, yaitu Rp20 ribu per lembar, membuatnya tetap diminati oleh pelanggan.

Pria yang kini sudah berusia 60 tahun itu, merupakan contoh nyata bahwa keterbatasan tidak menjadi penghalang untuk hidup produktif. Meskipun telah menjadi tuna netra sejak usia 7 tahun, ia tidak menyerah dan terus berusaha mencari peluang untuk meningkatkan kualitas hidupnya. Salah satu cara yang ia tempuh adalah dengan membuat keset serabut kelapa.
Keset-keset yang belum terjual ditumpuk di dekat kamar tidurnya. Dengan sentuhan tangan yang lembut, Wayan Tumpek meraba-raba keset-keset tersebut, sambil berusaha memperkirakan jumlah keset yang masih menumpuk.

“Saya sudah lebih dari setahun membuat keset dan menjualnya langsung di rumah, pembeli datang ke sini untuk membeli,” kata Wayan Tumpek sambil menunjukkan keset buatannya.
Membuat satu keset, Tumpek membutuhkan waktu sekitar seminggu. Ia memulai dari proses pengolahan serabut kelapa hingga menjadi keset yang siap dijual. Meskipun prosesnya memakan waktu lama, Tumpek menjamin bahwa keset yang ia buat memiliki kualitas baik dan awet.

Sulung dari empat bersaudara ini menceritakan kisah hidupnya yang penuh tantangan. Sejak usia 7 tahun, ia telah mengalami kehilangan penglihatan akibat sakit mata yang tidak diketahui penyebab pastinya. Penglihatannya perlahan menghilang, meninggalkan jejak kenangan yang tak terlupakan.

“Adik saya yang membeli sabut kelapa, kemudian saya yang mengolahnya dari awal sampai menjadi keset yang berkualitas,” kata Wayan Tumpek

Kisah I Wayan Tumpek adalah inspirasi. Meskipun memiliki keterbatasan fisik, ia tidak menyerah dan terus berusaha untuk hidup produktif. Kreativitas dan ketekunan yang ia miliki membuatnya dapat menciptakan keset serabut kelapa yang berkualitas dan diminati. Semoga kisahnya dapat menjadi motivasi bagi kita semua untuk terus berusaha dan tidak menyerah dalam menghadapi tantangan hidup. (ger/bfn)