Oleh: Ketut Parwata
BALI sedang mengalami sesuatu yang seharusnya tidak boleh terjadi. Bukan perang, bukan bencana alam, bukan pula kilang minyak terbakar. Namun selama berhari-hari, masyarakat harus berburu BBM dari satu SPBU ke SPBU lain. Antrean mengular, waktu terbuang, aktivitas ekonomi terganggu, bahkan ada warga yang jatuh pingsan.
Inilah horor BBM di Pulau Dewata. Pertanyaannya sederhana, mengapa Bali bisa sampai seperti ini? Bali bukan daerah biasa. Bali adalah etalase pariwisata Indonesia. Ketika wisatawan, sopir, ojol, pelaku UMKM, pedagang hingga masyarakat umum harus mengantre berjam-jam untuk mendapatkan BBM, yang terganggu bukan sekadar urusan mengisi tangki. Yang tersendat adalah denyut ekonomi.
Pertamina menyebut gangguan bongkar muat kapal tanker dan distribusi sebagai penyebab, sekaligus menyiapkan tambahan pasokan BBM untuk Bali. Penjelasan ini penting, tetapi belum cukup.
Publik berhak tahu: mengapa gangguan teknis bisa berkembang menjadi krisis berhari-hari? Mengapa sistem distribusi tidak memiliki cadangan dan antisipasi yang memadai?
Dan pertanyaan yang lebih sensitif adalah apakah ini murni persoalan teknis, atau ada faktor lain yang belum terungkap?
Pertanyaan tersebut tentu tidak boleh dijawab dengan tuduhan tanpa bukti. Tetapi juga tidak boleh ditutup. Ketika masyarakat melihat daerah lain relatif lebih lancar sementara Bali mengalami antrean panjang, kecurigaan publik adalah konsekuensi yang sulit dihindari.
Sebab Bali hidup dari mobilitas. Hotel membutuhkan transportasi. Restoran membutuhkan distribusi. Wisatawan membutuhkan kendaraan. Sopir mencari nafkah dari BBM. UMKM membutuhkan kendaraan untuk bergerak.
Karena itu, krisis BBM bukan sekadar persoalan SPBU. Ini persoalan ketahanan ekonomi Bali.
Negara harus menjelaskan persoalan ini dari hulu hingga hilir: di mana titik gangguannya, mengapa antisipasi gagal, berapa cadangan aman BBM Bali, dan apakah sistem distribusinya benar-benar siap menghadapi kondisi darurat.
Bukan untuk mencari kambing hitam. Tetapi agar horor ini tidak berulang.
Jika murni persoalan teknis, buka semuanya secara transparan. Jika ada kelemahan sistem, perbaiki. Jika ditemukan unsur kesengajaan yang mengganggu distribusi dan perekonomian Bali, bongkar sampai ke akar.
Bali tidak boleh menjadi pulau yang kaya wisatawan tetapi rapuh dalam urusan energi.
Sebab yang dipertaruhkan bukan hanya BBM di tangki kendaraan. Yang dipertaruhkan adalah denyut ekonomi Bali, wajah pariwisata Indonesia, dan kepercayaan masyarakat kepada negara.*



