Dipilih Inspiratif, Diuji Setelahnya

Oleh: I Ketut Parwata/Ketua PWI Karangasem

PENGHARGAAN boleh menjadi panggung, tetapi perubahan birokrasi tidak boleh berhenti sebagai pertunjukan.

Predikat ASN Inspiratif memang membanggakan. Ada penghargaan, tepuk tangan, dan nama yang diumumkan. Namun, setelah seremoni usai, ASN kembali ke meja kerja, sementara masyarakat tetap menunggu pelayanan yang lebih baik.

Di situlah ujian sesungguhnya dimulai. Birokrasi tidak otomatis berubah karena seseorang dinobatkan inspiratif. Pelayanan tidak serta-merta lebih cepat, pekerjaan lebih efisien, atau persoalan masyarakat lebih mudah diselesaikan. Semua bergantung pada apakah gagasan benar-benar dijalankan atau sekadar berhenti di atas kertas.

Dari lima kandidat ASN Inspiratif Karangasem 2026, tiga nama meraih skor tertinggi. I Gusti Agung Ayu Satwikha Dewi, S.Tr.Kes., M.Kes., dari UPTD Laboratorium Kesehatan memperoleh 94,58; I Kadek Dodi Andika Pratama, S.Tr.I.P., dari Inspektorat Daerah 85,83; dan Gede Nanda Dharmastya Utama, S.STP., M.A.P., dari BKPSDM 79,17. Sementara Dini Febriana, S.Pd., meraih 78,33 dan Putu Nityantari, S.Hum., 77,92.

Kelima kandidat menjalani wawancara tahap II di hadapan Bupati Karangasem I Gusti Putu Parwata dan Sekda I Ketut Sedana Merta, Senin (2/11).

Namun, di balik angka penilaian itu, ada pertanyaan yang lebih penting, apakah inovasi mereka tetap hidup setelah seleksi berakhir?

Jangan sampai gagasan hanya berumur panjang selama proses penilaian. Ketika lomba selesai, semangat ikut mengendur. Piagam terpajang, tetapi inovasi kembali masuk laci. Birokrasi terlalu sering melahirkan program menjanjikan di atas kertas, tetapi kehilangan tenaga ketika berhadapan dengan rutinitas.

Di sinilah Gus Par dan Sekda Sedana Merta perlu mengambil peran. ASN Inspiratif jangan sekadar diberi penghargaan, tetapi juga ruang untuk mengembangkan dan menularkan inovasi. Gagasan yang terbukti bermanfaat semestinya direplikasi, bahkan menjadi standar baru pelayanan.

Sebab, inovasi kerap bukan kalah oleh kurangnya kemampuan, melainkan tersandung birokrasi yang terlalu nyaman dengan cara lama. Prosedur berbelit, koordinasi lambat, dan budaya menunggu perintah bisa mematikan inisiatif.

Karangasem tidak kekurangan ASN yang punya gagasan. Yang dibutuhkan adalah keberanian organisasi memberi ruang, dukungan, dan kesempatan agar gagasan itu menghasilkan perubahan nyata.

ASN inspiratif bukan mereka yang paling sering disebut di panggung penghargaan, melainkan mereka yang tetap bekerja dengan gagasan meski kamera dan tepuk tangan telah pergi.
Dipilih menjadi inspiratif adalah kehormatan. Mempertahankan inspiratif adalah tanggungjawab. Tetapi membjat masyarakat merasakan manfaatnya, itulah pembuktian sesungguhnya**