Ada Indikasi Pembiaran, Dibalik Maraknya Peredaran Arak Gula di Karangasem

 


KARANGASEM,Balifactuanews.com—Arak fermentasi gula tebu menyerang produksi arak tradisional di Karangasem. Kondisi ini tidak saja memantik perbincangan hangat dikalangan petani arak tradisional, juga menjadi bahan diskusi  serius di grup media sosial. Salah satunya WAG Karangasem Jangan Dilupakan.

Grup yang beranggotakan 134 orang itu, berasal dari berbagai kalangan profesi, diantaranya pensiunan prajurit TNI, wartawan, pebisnis, anggota polisi, dan masyarakat umum. Dari diskusi berkaitan arak fermentasi gula itu, dapat disimpulkan aparat sengaja membiarkan produksi arak fermentasi gula tebu tersebut.

Mangku  Mika misalnya, pensiunan prajurit TNI, dengan tegas menyatakan, betapa parahnya peredaran arak  fermentasi gula tebu di Karangasem. Dia mencontohkan Desa Datah, Kecamatan Abang. Menurut Mangku Mika, peredaran arak  fermentasi gula tebu di kampung halamannya sangat masif dan sulit untuk dibendung.

Bahkan dalam chat nya di WAG Karangasem Jangan Dilupakan, Sabtu 29 Mei 2021, dia seperti mau bersurat dengan Kadis Perindustrian dan Perdagangan Karangasem terhadap maraknya produksi arak fermentasi gula tebu tersebut.

“Kep kadis perindag kalau bpk mau cek di desa datah di br asah di sana semua arak berasal dari air di campur gula dan di permetasi selma 10 hari .setelah itu baru di olah di jadikan arak…..Semua masy di sana  sm pembuatan araknya …silahkan di cek kesana …krn jik bpk lihat dari jalan ada tempat air itulah untuk arak …bisa bpk buktikan kesana,” tulis Mangku Mika dalam  Chat di WAG  itu.

Mangku Mika menambahkan, dari Banjar Asah sampai ke daerah Batu Belah sebagian masyarakatnya membuat arak fermentasi gula tebu. Kondisi ini membuat arak asli  berbahan dasar tuak susah laku.

“Arak permentasi lebih murah dan enak…padahal itu bahaya …pokoknya dalam satu rumah bisa 10 biji tempat penampungan air yg isinya 600 liter ..pengasilannya juga pantantis per 10 hari kalah dng kep 0PD pengasilannya,” imbuh Mangku Mika.

Arak fermentasi berbahan gula tebu yang di produksi di Desa Datah, kata Mangku Mika sudah hampir 10 tahun berjalan  dan seperti ada pembiaran, karena sampai sekarang tidak disentuh aparat. “Sekarang tergantung pada petugas, mau dibiarkan begitu atau ditindak,” sambungnya lagi.

Pernyataan Mangku Mika, dibenarkan oleh Ramdes.  Pria yang berprofesi sebagai Driver Ojol ini malah menegaskan, bahwa   petani arak di Datah hampir semuanya memproduksi arak bukan hasil sulingan dari tuak. “jek betul sekali…hampir dilingkungan datah, semua membuat arak bukan dari tuak,” sahut Ramdes dalam Chatnya, seraya mempertanyakan sikap aparat  yang membisu menyikapi persoalan tersebut.

Tidak hanya di Datah, dalam diskusi WAG Karangasem Jangan Dilupakan, mengungkap, bahwa arak berbahan dasar gula tebu juga marak di wilayah Sidemen.  Bahkan  yang dulunya bukan petani arak kini mendadak menjadi petani yang sama dengan hasil produksi yang digunakan non tradisional.

Plt Kadis Perindag Karangasem  I Wayan Sutrisna,  mengakui  bahwa arak fermentasi gula tebu semakin marak di Karangasem. Produksinya  sangat besar dan bukan lagi menjadi industri rumahan.   Selain di wilayah Datah, produksi arak  fermentasi gula tebu  ini juga marak di wilayah Sidemen.

Menyikapi kondisi tersebut, pihaknya sudah  melakukan penyisiran dengan tim yang melibatkan  pihak Bea Cukai dan Kepolisian.  “Arak fermentasi gula tebu sangat berisiko terhadap kesehatan, dan ini  akan kita tertibkan karena  tidak sejalan dengan isi Pergub 01 tahun  2020, tentang  tata kelola minuman khas tradisional Bali,”  tegas Sutrisna.

Tahap awal, lanjut dia,  penindakan terhadap perajin arak gula dilakukan melalui pembinaan agar mereka tidak lagi memproduksi arak yang mengandung zat kimia itu. “Tahap awal kita berikan edukasi dulu,  tapi kalau tetap memengkung yang terpaksa kita lakukan tindakan tegas,” pungkasnya. (ger/tio/bfn)

Exit mobile version