KARANGASEM, Balifactualnews.com – Malam itu, Sabtu (30/5/2026) angin berembus pelan di Taman Kota Jagatkarana. Lampu-lampu kota memantulkan cahaya hangat, sementara ratusan pasang mata tertuju ke panggung Karangasem Akhir Pekan (KAP). Di tengah suasana yang sederhana namun penuh keakraban, sebuah lagu mengalun untuk pertama kalinya.
Judulnya Mentari Timur Menari. Bagi sebagian orang, itu mungkin hanya sebuah lagu festival. Namun bagi mereka yang mendengarkannya malam itu, lagu tersebut terasa seperti sebuah pesan yang sengaja dititipkan untuk Karangasem. Pesan tentang harapan. Tentang persatuan. Tentang mimpi besar yang hanya bisa diwujudkan jika semua berjalan bersama.
Mentari Timur Menari (Karangasem Festival)
Nada demi nada mengalir lembut. Liriknya sederhana, mudah diingat, tetapi menyimpan makna yang dalam. Ia berbicara tentang Karangasem yang terus melangkah, tentang masyarakat yang saling menguatkan, dan tentang keyakinan bahwa masa depan yang lebih baik tidak pernah lahir dari langkah yang sendiri-sendiri.
Lagu ciptaan I Gusti Gede Subagiartha atau Gus Ode itu seakan menjadi cermin dari semangat yang ingin dibangun di Bumi Lahar. Sebuah semangat yang tidak bertumpu pada satu orang, melainkan tumbuh dari kebersamaan seluruh masyarakat.
Pesan itu semakin hidup ketika dibawakan oleh penyanyi muda asal Budakeling, Bebandem, Ida Ayu Ketut Utari. Dengan warna vokalnya yang kuat dan penuh penghayatan, Utari tidak hanya menyanyikan lagu tersebut. Ia seperti menghidupkan setiap kata menjadi rasa.
Gus Ode mengatakan lagu itu lahir dari keyakinan sederhana bahwa tidak ada cita-cita besar yang bisa diwujudkan tanpa persatuan. Sebab pembangunan bukan hanya soal program dan kebijakan, tetapi juga tentang bagaimana masyarakat mampu menjaga semangat untuk saling mendukung.
“Lagu ini membawa pesan bahwa dalam kebersamaan kita percaya, yang sulit akan menjadi mungkin. Karena tidak ada perjuangan besar yang bisa berhasil tanpa dukungan bersama,” ujarnya.
Di tengah berbagai perbedaan pandangan yang kerap muncul dalam kehidupan bermasyarakat, Gus Ode mengajak masyarakat untuk tidak kehilangan arah. Perbedaan, menurutnya, adalah sesuatu yang wajar. Namun jangan sampai perbedaan membuat sesama anak daerah saling menjauh.
Karena pada akhirnya, Karangasem yang maju tidak dibangun oleh mereka yang paling kuat berjalan sendiri, melainkan oleh mereka yang memilih berjalan bersama.
Mungkin itulah sebabnya lagu Mentari Timur Menari terasa berbeda. Ia tidak hanya mengajak orang bernyanyi. Ia mengajak orang mengingat kembali bahwa setiap kemajuan selalu berawal dari kebersamaan.
Dan ketika malam semakin larut, lagu itu mungkin telah selesai dimainkan. Namun pesan yang dibawanya masih menggema di antara lampu-lampu kota Amlapura: bahwa Karangasem Agung tidak akan lahir dari perpecahan, melainkan dari hati-hati yang tetap memilih bersatu untuk masa depan yang sama. (tio/bfn)
