KARANGASEM, Balifactualnews.com – Sistem kekebalan tubuh balita dan anak-anak di bawah usia 10 tahun yang masih rentan membuat mereka lebih berisiko terkena penyakit campak. Penyakit ini disebabkan oleh virus rubeola yang dapat menyebabkan gejala seperti demam, batuk, dan ruam pada kulit.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Karangasem, dr. I Gusti Bagus Putra Pertama, menjelaskan bahwa campak pada anak-anak dapat dikenali dari gejala awal seperti demam, batuk, dan ruam kulit yang muncul di hampir seluruh tubuh.
“Dalam kebanyakan kasus, campak bukanlah penyakit yang berbahaya dan dapat sembuh dengan sendirinya dalam waktu sekitar 5-7 hari,” dr Bagus Putra Pertama kepada wartawan, Senin (25/8).
Meski campak dapat sembuh dengan sendirinya, dr. Bagus Putra Pertama menyoroti bahaya penyebaran penyakit ini yang sangat cepat melalui udara dan droplet. Terkait hal ini, Pemkab Karangasem melalui Dinas Kesehatan gencar melakukan vaksinasi campak di berbagai wilayah, termasuk banjar dan sekolah, untuk mencegah penyebaran lebih lanjut.
“Saat ini, kita sudah mencapai 70-80 persen cakupan vaksinasi campak, dan ini melampaui target yang kita tetapkan sebelumnya,” ungkapnya.
Dinas Kesehatan berharap agar para orang tua semakin meningkatkan kesadaran dan pemahaman tentang pentingnya imunisasi dasar lengkap (IDL) dan imunisasi balita lengkap (IBL) sebagai upaya melindungi anak-anak dari penyakit yang dapat dicegah dengan vaksinasi.
“Dengan semakin meningkatnya kesadaran masyarakat, kita berharap dapat meningkatkan cakupan vaksinasi dan memberikan perlindungan yang lebih luas bagi anak-anak,” kata dr Bagus Putra pertama.
Menurut Putra Pertama, semakin banyak anak yang divaksinasi campak, maka risiko penularan penyakit ini dapat diminimalkan. Pihak Dinas Kesehatan berharap agar vaksinasi campak dapat menjadi bagian dari imunisasi dasar lengkap (IDL) yang diterima oleh setiap balita.
“Harapannya, para orang tua dapat menyadari pentingnya imunisasi dasar lengkap (IDL) dan imunisasi balita lengkap (IBL) bagi anak-anak mereka. Dengan cakupan 80 persen saja, kita dapat melindungi lebih banyak anak dari penyakit yang dapat dicegah,” katanya. (tio/bfn)
.













