JAKARTA, Balifactualnews.com – Sejak kudeta militer pada Februari 2021, Myanmar terperosok dalam perang saudara berkepanjangan yang kini telah mengorbankan ribuan nyawa dan menggulingkan stabilitas sosial secara drastis. Konflik berskala nasional ini melibatkan militer rezim (Tatmadaw), kelompok-kelompok etnis bersenjata, serta pasukan perlawanan sipil, yang semuanya saling berebut wilayah dan pengaruh politik.
Pada 2025, rezim militer intensif melancarkan serangan udara serta serangan artileri secara masif termasuk bom dan serangan udara terhadap sasaran sipil di berbagai daerah. Sekolah, rumah ibadah, rumah sakit, bahkan kamp pengungsi menjadi sasaran reguler, menambah penderitaan rakyat yang telah tersebar akibat konflik.
Melansir dari berbagai sumber menyebut, Sebelum dan selama gencatan senjata sesaat usai gempa April 2025, militer justru memperbesar serangan udara mereka, menyerang zona gempa dan menewaskan banyak warga sipil termasuk anak-anak dan perempuan di Yae Htwet, Mandalay.
Pada 12 Mei 2025, sebuah sekolah pro-demokrasi di Tabayin, Sagaing, dibom saat para siswa masih berada di dalam kelas, mengakibatkan tewasnya hingga 22 orang (20 siswa dan 2 guru) serta melukai lebih dari 100 lainnya.
Yang juga meresahkan adalah insiden di Bhamo Town, kota di Negara Bagian Kachin. Pada akhir April 2025, tentara junta membakar habis Thiri Yadana Morning Market, pasar rakyat utama, dalam upaya represif terhadap perlawanan yang semakin kuat dari Kachin Independence Army (KIA). Ribuan rumah hancur, banyak warga mengungsi, dan suasana ekonomi lokal luluh lantak.
Kemampuan militer untuk menaklukkan kembali wilayah-wilayah strategis seperti Demoso di Kayah State semakin kuat, menjelang pemilu nasional yang direncanakan pada Desember 2025. Serangan udara yang menarget fasilitas sipil juga meningkat misalnya rumah sakit di Mawchi (32 tewas), dan kota Mogok yang terkenal akan pertambangan permata (21 tewas).
Pemilu yang diatur junta dianggap banyak pihak sebagai alat untuk “melestarikan kekuasaan” berlangsung dalam situasi yang tidak kondusif, oposisi terus disingkirkan, media dikekang, dan pemilu tidak mencerminkan prinsip demokrasi sejati.
Perang saudara di Myanmar terus berlanjut, dengan militer menggunakan bom dan serangan udara secara besar-besaran terhadap warga sipil dan infrastruktur penting. Pasar rakyat seperti Thiri Yadana Morning Market dibakar, memperparah krisis kemanusiaan dan ekonomi.
Sementara serangan udara yang dilakukan bahkan tak pandang bulu berlangsung bahkan saat gencatan senjata semu, termasuk di sekolah dan area gempa.
Konflik mencapai titik kritis menjelang pemilihan nasional, dengan militer berusaha menjaga kontrol sekaligus menggambarkan legitimasi terhadap cengkeraman kekuasaan mereka. (ina/bfn)
