DENPASAR, Balifactualnews.com – Sebuah pernyataan mengejutkan datang dari pendiri Facebook sekaligus CEO Meta, Mark Zuckerberg. Dalam kesaksiannya baru-baru ini, Zuckerberg menyatakan bahwa era media sosial tradisional telah berakhir. Ucapan ini menjadi titik balik penting dalam cara kita memahami transformasi dunia digital—khususnya bagaimana manusia berinteraksi di ranah virtual.
Baca Juga : Perayaan Hari Waisak Nasional 2025, Ribuan Lampion Terangi Langit Borobudur
Media sosial, sejak kelahirannya, dibangun atas dasar menghubungkan orang: teman, keluarga, rekan kerja. Facebook, yang menjadi pionir, dahulu adalah ruang untuk berbagi momen pribadi, saling menyapa, dan mempererat hubungan sosial. Namun, menurut Zuckerberg, fungsi ini telah berubah secara drastis. Kini, platform seperti Facebook dan Instagram lebih mirip platform hiburan berbasis algoritma ketimbang ruang interaksi sosial yang intim.
Data internal Meta mendukung pernyataan tersebut: hanya sekitar 10–20% konten yang dilihat pengguna berasal dari teman atau keluarga mereka. Sisanya? Dominasi dari kreator konten, selebritas, dan video-video viral yang dirancang untuk konsumsi massal dan monetisasi.
Baca Juga : Pesaing Starlink Mengudara, Amazon Luncurkan Satelit Internet Pertama
Hal ini menandai pergeseran besar: dari “media sosial” menjadi “media hiburan”. Platform kini tak lagi mendorong percakapan personal, tapi justru bersaing untuk menyajikan konten paling menarik, paling cepat viral, dan paling menguntungkan secara algoritmik.
“Di jejaring Facebook, saya perkirakan jumlah teman baru yang ditambahkan orang-orang telah menurun, namun jumalh pastinya saya kurang tahu” kata Zuckerberg, saraya menambahkan, Berbagi dengan teman dan keluarga menurun drastis dari waktu ke waktu. Jika strateginya menargetkan teman dan keluarga, ini akan berpengaruh terhadap pendapatan. Terlebih saat ini TikTok masih lebih besar daripada Facebook atau Instagram, dan saya tidak suka jika pesaing kami lebih baik dari,” sebut Zuck seperti dikutip dari Ars Technica.
Baca Juga : Rumah Disambar Petir, Tinggalkan Kepanikan Mendalam Warga di Karangasem
Pernyataan Zuckerberg ini bisa dibaca sebagai pengakuan, bahwa persaingan dengan platform seperti TikTok telah memaksa Meta untuk bertransformasi. Fokus bukan lagi pada mempererat hubungan sosial, melainkan pada mempertahankan perhatian pengguna di tengah banjir konten visual cepat dan emosional.
Namun, ini juga membuka pertanyaan penting, jika media sosial tidak lagi sosial, apa yang tersisa dari janji awal internet sebagai penghubung manusia. Apakah kita masih punya ruang untuk koneksi yang autentik di dunia digital. Era media sosial mungkin telah berakhir, namun apa yang datang setelahnya, masih menjadi pertarungan antara nilai, teknologi, dan arah masa depan interaksi manusia. (ina/bfn)













