Penuh Kegaiban, Perairan Kawasan Gili Tepekong Berpenghuni Wanita Berselendang Panjang

penuh-kegaiban-perairan-kawasan-gili-tepekong-berpenghuni-wanita-berselendang-panjang
Penuh Kegaiban, Perairan Kawasan Gili Tepekong di kawasan perairan Desa Adat Bugbug, berpenghuni Wanita Berselendang Panjang

KARANGASEM, Balifactualnews.com – Penuh Kegaiban, begitulah aura yang terpancar dari kawasan Gili Biyaha/Tepekong yang terletak di perairan Desa Adat Bugbug, Kecamatan Kabupaten Karangasem. Menurut salah satu penekun spiritual, yang juga sebagai pengempon sekaligus keluarga dari pemangku di Pura Gili Biyaha, Jero Mangku Wayan Budiana menuturkan, berdasarkan Lontar Kutarakanda Purana Dewa Bangsul Pura Sada disebutkan bahwa, Pura Gumang berasal dari Pura Bukit Biyaha yang terletak di sebuah gili yang disebut Biyaha atau yang biasa disebut Gili Tepekong.

Disebutkan pula dalam lontar tersebut, yang berstana di Pura Gili Biyaha adalah Ida Bhatara Manik Andrawang yang ditemani dengan permaisurinya bernama Ida Bhatari Ayu Mas Sinamburat. Menurutnya, sejatinya di perairan kawasan Gili Biyaha dan sekitarnya adalah kawasan suci. Keterkaitan kawasan suci tak lain karena adanya Pura Gumang dan Pura Biyaha.

Baca juga : Operasi Pencarian Penyelam Peneliti Pola Gerak Hiu yang Hilang di Gili Tepekong Dihentikan

Lebih jauh dijelaskannya, selain dirinya sendiri dan istri, beberapa orang yang melihat langsung kegaiban kegaiban di sekitar perairan tersebut. Seseorang dari desa Ngis yang pernah mekemit (bermalam) di area Pura Biyaha yang terletak diatas Gili Biyaha/Tepekong melihat pada malam hari itu ada telaga dan sempat membasuh wajah disana. Dan pada keesokan harinya ketika ingin mencuci wajah lagi, ia sama sekali tak melihat lagi telaga itu.

“Saya sendiri dan istri saat mekemit disana juga mendengar lantunan mantram suci yang dilantunkan sayup sayup. Dan salah seorang kerabat saya yang saat itu bersama berada di Bukit Biyaha melihat seorang wanita berjalan diatas laut berkeliling dengan selendang nya yang sangat panjang, beliau tak lain adalah perwujudan lain Bhatari Ayu Mas Sinamburat. Dia kerabat saya adalah saksi hidup atas kegaiban kegaiban kawasan suci itu,” tutur Jro Mangku Budiana pada media ini, beberapa waktu lalu.

Selain itu penglingsir penglingsir jaman dulu menceritakan, Jika ada orang yang ingin mencari kekuatan ilmu kebhatinan di area Pura tersebut dan memperoleh apa yang diinginkan, maka orang tersebut bisa melihat bunga ajaib yang bernama Bunga Sinamburat, yang tak lain adalah nama yang diambil dari Ida Bhatari Ayu Mas Sinamburat yang berstana disana. Namun sampai saat ini tak seorangpun bisa mendapatkannya.

Menurut cerita orang yang pernah melihat, bunga Sinamburat tersebut layaknya seperti bentuk bunga Kertas (Bougenvile) namun bersinar berkilau dan kalau terlihat biasanya letaknya di sisi Tenggara kawasan Gili Biyaha/Tepekong.

Baca juga : SE Gubernur Bali No. 2021 Tahun 2020 Adalah Jalan Tengah, Amankan Bali dari Sebaran Covid-19 dan Kesiapan Dibukanya Pariwisata Internasional

Sebagai tempat wisata bawah laut yang elok dan juga sebagai kawasan suci, hendaknya menurut jro mangku menambahkan, sebaiknya sebelum melakukan aktifitas di sekitar perairan tersebut tidak ada salahnya jika kita memohon keselamatan dengan berdoa atau menghaturkan canang sebagai ungkapan rasa bhakti terhadap beliau yang berstana dan menguasai areal itu.

“Dan agar para pemancing hendaknya ikut menjaga kebersihan agar tak membuang sampah plastik di areal bukit tersebut, karena sering saya menemukan sampah sampah plastik bekas makanan,” jelasnya.

Vibrasi taksu yang sangat kuat di kawasan perairan Gili Biyaha atau Gili Tepekong adalah keterkaitan antara Pura Dalem Ped, Pura Uluwatu, Pura Gumang. Piodalan atau upacara di Pura Gili Biyaha dilaksanakan setahun sekali. Dalam upacara atau piodalan tersebut dilaksanakan selain implementasi Atma Kertih juga dilaksanakan Pakelem/Melarung sebagai implementasi Samudra Kertih, sesuai dengan Program Gubernur Bali, Nangun Sat Kerthi Loka Bali, menjaga kesucian dan keharmonisan alam Bali beserta isinya, untuk mewujudkan kehidupan Krama Bali yang sejahtera dan bahagia, Sakala-Niskala . (ger/bfn)