KARANGASEM,balifactualnews.com – Rumah duka di Desa Kubu, Kecamatan Kubu, Karangasem, Jumat (14/8), tak lagi menyisakan riuh seorang remaja. Yang terdengar hanya doa, isak tangis, dan suara pelayat yang datang silih berganti.Di tengah suasana duka itu, I Nyoman Wira Karmana duduk dengan tatapan kosong. Sesekali matanya tertuju pada jenazah putranya, I Gede Abdi Cahyanta Wiguna. Remaja berusia 17 tahun itu kini terbujur kaku, setelah langkahnya dalam gerak jalan 17 kilometer berakhir untuk selamanya.
Tidak ada yang menyangka. Siang itu Abdi berangkat dengan semangat seorang anak muda. Ia ingin mengikuti lomba, mewakili sekolahnya, SMA Negeri 2 Amlapura. Ia berangkat dalam kondisi yang menurut keluarganya sehat. Namun, takdir berkata lain. “Anak saya meninggal dunia saat mengikuti gerak jalan 17 kilometer. Tepat usianya baru 17 tahun. Prosesi pemakaman nanti dilakukan dalam prosesi mekingsan di gni pada 17 Agustus, bertepatan dengan Hari Kemerdekaan,” tutur Wira Karmana lirih.
Bagi seorang ayah, kehilangan anak di usia yang begitu muda bukanlah sesuatu yang mudah diterima. Apalagi, beberapa jam sebelumnya, Abdi masih menjadi remaja yang penuh tenaga, penuh semangat, dan punya banyak impian. Abdi dikenal aktif berolahraga. Sepak bola dan futsal menjadi bagian dari kesehariannya. Karena itu pula, tidak ada kekhawatiran berlebihan ketika ia meminta izin mengikuti gerak jalan 17 kilometer.
“Saya mengizinkan anak saya ikut lomba gerak jalan 17 kilometer karena kondisinya memang sehat. Tidak ada diare seperti postingan di banyak media sosial,” tegas Wira Karmana.
Ada satu kalimat Abdi yang kini menjadi kenangan paling dalam bagi keluarga dan gurunya. Kalimat itu terucap ketika tubuhnya mulai terlihat kelelahan di tengah perjalanan. Seorang guru yang mengawasi peserta sempat melihat kondisi Abdi mulai sempoyongan. Ia kemudian ditarik keluar dari barisan dan dinaikkan ke mobil untuk beristirahat. Namun Abdi tidak ingin menyerah. Ia kembali bangkit. Turun dari mobil dan kembali bergabung dengan barisan. Kepada gurunya, Abdi mengatakan, “Saya ingin jadi pejuang.” Tidak ada yang tahu, kalimat sederhana itu kelak menjadi pesan terakhir seorang anak kepada dunia.
Abdi kembali melangkah. Ia memilih meneruskan perjalanan, meski tubuhnya mulai menunjukkan tanda-tanda kelelahan. Langkah demi langkah ia jalani. Hingga akhirnya, di jalan tanjakan Lingkungan Galiran, Kelurahan Subagan, tubuh Abdi tak lagi mampu bertahan. Ia tumbang. Dalam kondisi kritis, Abdi dilarikan ke RSUD Karangasem sebelum akhirnya dirujuk ke RSUP Prof. Ngoerah Denpasar.
Namun perjuangan itu berakhir. Abdi menghembuskan napas terakhir setelah berusaha menuntaskan perjalanan yang sejak awal begitu ingin dijalaninya. Abdi bukan sekadar seorang siswa. Ia dikenal sebagai anak yang aktif, bersemangat, dan memiliki prestasi di bidang non akademik, terutama olahraga.
Kepala SMA Negeri 2 Amlapura, I Wayan Puja Astawa, mengatakan Abdi memiliki ketertarikan besar terhadap sepak bola dan futsal.“Selama ini almarhum memang anak yang berprestasi di bidang non akademik, khususnya olahraga sepak bola dan futsal. Secara fisik kami melihat dia juga cukup bagus,” ujar Puja Astawa, Kamis (13/8).
Sebelum mengikuti gerak jalan, pihak sekolah juga tidak menerima informasi mengenai riwayat penyakit maupun keluhan kesehatan yang dialami Abdi. Kepergian Abdi pun menjadi pukulan sekaligus pembelajaran bagi sekolah. “Ini menjadi pembelajaran bagi kami. Walaupun anak secara aktivitas olahraga bagus dan tidak ada riwayat penyakit yang disampaikan, tentu ke depan kami harus lebih memperketat lagi dari sisi pemeriksaan kesehatan,” katanya.
Sekolah berencana menggandeng Dinas Kesehatan untuk melakukan pemeriksaan kesehatan sebelum siswa mengikuti kegiatan olahraga maupun perlombaan yang membutuhkan aktivitas fisik berat. Komunikasi dengan orang tua mengenai riwayat kesehatan dan kondisi fisik siswa juga akan diperkuat.
Kini, di rumah duka, tidak ada lagi suara langkah kaki Abdi. Tidak ada lagi suara sepatu yang berlari mengejar barisan. Tidak ada lagi semangat seorang anak yang ingin menjadi pejuang. Yang tersisa hanyalah kenangan. Seragam sekolah. Sepatu olahraga. Foto-foto masa remaja. Dan sebuah kalimat sederhana yang kini memiliki makna begitu dalam. Abdi memang tidak pernah sampai ke garis akhir gerak jalan 17 kilometer itu. Namun bagi keluarganya, Abdi telah menyelesaikan perjuangannya dengan caranya sendiri. Ia berangkat sebagai seorang pelajar. Ia melangkah sebagai seorang anak yang ingin membanggakan sekolahnya.
Dan ia pulang sebagai seorang putra yang akan dikenang selamanya. Pada 17 Agustus nanti, ketika bendera Merah Putih berkibar memperingati Hari Kemerdekaan, keluarga Abdi justru akan melepas putra mereka dalam prosesi mekingsan di gni. Di hari ketika bangsa ini mengenang para pejuang kemerdekaan, sebuah keluarga di Desa Kubu akan mengenang pejuang kecil mereka sendiri. Seorang anak berusia 17 tahun yang pernah berkata ingin menjadi pejuang. Dan langkah terakhirnya, meski tak pernah sampai garis finis, akan selamanya tinggal di hati orang-orang yang mencintainya. (Ketut Parwata)













