DENPASAR, Balifactualnews.com – Wastra dan karya fesyen daerah kembali mendapat ruang di panggung bergengsi Dekranasda Bali Fashion Day (DBFD) yang digelar di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Provinsi Bali, Denpasar, Selasa (22/9)
Ketua Dekranasda Kabupaten Karangasem, Ny. Mas Parwata, bersama jajaran anggota Dekranasda Karangasem turut hadir menyaksikan perhelatan yang menjadi bagian dari upaya memperkuat eksistensi produk kerajinan dan fesyen berbasis budaya Bali tersebut.
Ajang ini disaksikan langsung Ketua Dekranasda Provinsi Bali, Ny. Putri Koster, serta dihadiri para Ketua Dekranasda kabupaten/kota se-Bali atau yang mewakili.
DBFD tidak sekadar menjadi panggung peragaan busana. Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi ruang untuk memperkenalkan kekayaan wastra Bali sekaligus mendorong kreativitas pelaku industri fesyen agar mampu mengolah warisan budaya menjadi karya yang relevan dengan perkembangan zaman.
Ny. Mas Parwata mengatakan, keikutsertaan Dekranasda Karangasem menjadi bagian dari komitmen untuk terus mendorong pengembangan potensi kerajinan dan wastra lokal.
“Kami ingin wastra dan kerajinan Karangasem tidak hanya menjadi warisan budaya, tetapi juga terus berkembang menjadi karya yang memiliki nilai ekonomi dan mampu bersaing,” ujar Ny. Mas Parwata,dikonfirmasi, Rabu (23/9).
Menurutnya, kolaborasi antardaerah melalui kegiatan seperti DBFD penting untuk membuka ruang promosi sekaligus memperluas apresiasi masyarakat terhadap produk kerajinan lokal.
“Panggung seperti ini memberikan kesempatan bagi para perajin dan pelaku fesyen untuk menunjukkan kreativitasnya. Harapannya, semakin banyak generasi muda yang tertarik melanjutkan dan mengembangkan warisan budaya kita,” katanya.
Sebelumnya, Ketua Dekranasda Provinsi Bali, Ny. Putri Koster, menekankan pentingnya menjaga keberadaan wastra Bali di tengah perkembangan industri fesyen yang semakin dinamis.
“Wastra Bali adalah bagian dari identitas dan warisan budaya kita. Karena itu, harus terus dirawat, dikembangkan dan diberikan ruang agar tetap hidup di tengah perubahan zaman,” ujar Ny. Putri Koster.
Ia juga mendorong agar pengembangan wastra tidak berhenti pada aspek pelestarian, tetapi mampu memberikan manfaat nyata bagi para perajin dan pelaku ekonomi kreatif.
“Kita ingin wastra Bali tidak hanya dikenakan dalam kegiatan adat atau upacara, tetapi juga dapat dikembangkan menjadi produk fesyen yang kreatif, bernilai ekonomi dan memiliki daya saing,” tambahnya. (bfn)













