KARANGASEM, Balifactualnews.com – Tangis, kepanikan, dan rasa pasrah bercampur menjadi satu ketika kobaran api melanda KMP Putri Yasmin di perairan Selat Lombok, Rabu (12/8). Di tengah kepanikan itu, 35 penumpang akhirnya berhasil dievakuasi dan tiba dengan selamat di Pelabuhan Padangbai, Karangasem.
Bagi Salmi Wati (24), perjalanan menuju Lombok untuk pulang kampung berubah menjadi pengalaman yang tak mudah dilupakan. Saat kebakaran terjadi, Salmi bersama anaknya yang masih balita sedang tertidur pulas di dalam kapal.
Ia terbangun bukan karena suara alarm, melainkan teriakan penumpang yang mendadak memenuhi kapal. Ketika membuka mata, asap tebal sudah mengepul di dalam kapal.
“Saat itu saya benar-benar panik, saya langsung gendong anak dan memakai pelampung. Anak saya juga saya pakaikan pelampung,” tutur Salmi saat ditemui di Pelabuhan Padangbai, Rabu (12/8).
Situasi semakin mencekam ketika api membesar. Para penumpang kemudian diminta meninggalkan kapal dan terjun ke laut untuk menyelamatkan diri. Tak banyak pilihan yang tersedia selain mempertaruhkan keselamatan di tengah gelapnya perairan.
Salmi mengaku hanya bisa pasrah sembari memeluk erat buah hatinya.
“Saat terjun ke laut saya sudah pasrah dan hanya bisa berdoa saja. Saya pegang erat anak saya saat itu,” ujarnya.
Beberapa menit berada di tengah laut menjadi masa paling menegangkan bagi Salmi. Harapan muncul ketika sebuah kapal datang mendekat dan melakukan evakuasi terhadap para penumpang yang tercebur ke laut.
Mereka kemudian dibawa menuju Pelabuhan Padangbai. Setibanya di darat, rasa lega bercampur trauma masih terlihat dari wajah para penumpang.
Salmi bahkan mengaku untuk sementara waktu tidak ingin kembali menaiki kapal. Rencana perjalanan menuju Lombok pun dibatalkan.
“Saya trauma dan nggak mau lagi naik kapal saat ini. Jadi saya berencana akan kembali ke Denpasar,” katanya.
Dalam insiden tersebut, sejumlah barang miliknya juga hilang. Handphone dan beberapa pakaian yang dibawa dalam perjalanan tidak lagi ditemukan setelah dirinya harus menyelamatkan diri.
Pengalaman serupa dirasakan penumpang lainnya, Komang Tri. Ia mengaku kepanikan membuat dirinya hanya bisa pasrah ketika harus turun ke laut.
“Saat nyebur ke laut, saya sudah pasrah. Syukur ada kapal yang datang untuk melakukan evakuasi,” ujar Tri.
Setelah tiba di Padangbai, para penumpang tidak langsung melanjutkan perjalanan. Mereka terlebih dahulu mendapatkan pemeriksaan kesehatan. Suasana di pelabuhan pun berubah menjadi tempat beristirahat sementara bagi para korban selamat.
Ada penumpang yang memilih tidur untuk memulihkan tenaga. Sebagian lainnya menjalani pemeriksaan kesehatan, duduk termenung, hingga menghubungi keluarga. Di tengah suasana tersebut, beberapa anak kecil dan balita tampak bermain bersama orang tuanya.
Plt Kepala KSOP Pelabuhan Padangbai, Heri Wiyanto, mengatakan sebanyak 35 penumpang yang dievakuasi ke Padangbai telah menjalani pemeriksaan kesehatan.
“Kami dari KSOP saat ini masih fokus terkait evakuasi. Untuk yang dievakuasi ke Pelabuhan Padangbai ada 35 orang. Setelah kami evakuasi, langsung dilakukan cek kesehatan,” kata Heri.
Hasil pemeriksaan menunjukkan seluruh penumpang dalam kondisi sehat. Setelah dipastikan aman, sekitar pukul 12.00 Wita KSOP memfasilitasi kepulangan para penumpang, termasuk mereka yang masih harus melanjutkan perjalanan menuju Nusa Tenggara Barat.
Sementara penyebab kebakaran KMP Putri Yasmin hingga kini masih dalam penyelidikan. KSOP belum dapat memastikan sumber api maupun faktor yang menyebabkan kapal tersebut terbakar.
“Untuk penyebab kebakaran, kami masih investigasi. Fokus kami saat ini evakuasi terlebih dahulu,” tegas Heri.
Berdasarkan data manifest, KMP Putri Yasmin mengangkut 114 penumpang dan 17 orang kru saat insiden terjadi. Dari perjalanan yang semula diharapkan membawa mereka sampai ke tujuan, sebagian penumpang justru harus menghadapi detik-detik menegangkan, bahkan mempertaruhkan nyawa di tengah laut.
Bagi Salmi, keselamatan dirinya dan sang anak menjadi satu-satunya hal yang penting. Lombok mungkin belum sempat dituju, tetapi ia telah membawa pulang satu hal yang jauh lebih berharga: kesempatan untuk kembali memeluk anaknya dalam keadaan selamat. (tio/bfn)













