DENPASAR, Balifactualnews.com Baiknya pelayanan publik tidak bisa dikatakan dilakukan oleh salah satu pihak penyeneggara saja, dalam hal ini pemerintah baik pusat, provinsi maupun kabupaten/kota. Namun masyarakat sebagai pengguna layanan itulah yang menentukannya. Bagaimana kebutuhan pelayanan publik dan bagaimana pelayanannya berlangsung.
Karenanya, pemerintah memiliki kewajiban menyiapkan penyelenggaraan pelayanan publik yang baik. Demikian penegasan yang disampaikan Sekretaris Daerah Provinsi Bali Dewa Made Indra saat menghadiri kegiatan diskusi dan penyampaian hasil akhir kajian mengenai Kedudukan Desa Adat dan Desa Dinas Dalam Perspektif Pelayanan Publik di Kota Denpasar, studi kasus Pelayanan Publik Pengurusan Administrasi Kependudukan oleh Ombudsman RI Perwakilan Provinsi Bali di Hotel Inna Heritage, Denpasar, Kamis (31/10/19).
“Sekali lagi saya tegaskan Pelayanan Publik yang baik merupakan hak setiap masyarakat, oleh karena itu kita pemerintah sebagai penyelenggara berkewajiban menyiapkannya dengan baik,” cetus Sekda Dewa Indra.
Sekda Dewa Indra juga mengapresiasi usaha Ombudsman RI Perwakilan Provinsi Bali yang terus berkomitmen mengawal seluruh pemerintah kabupaten/kota di Bali dalam membangun pelayanan publik yang semakin baik kepada masyarakat di seluruh wilayah di Bali. Begitu pula terkait kajian yang dilaksanakan Ombudsman terkait pelayanan publik di bidang Administrasi Kependudun, mendapat dukungan dari Sekda Dewa Indra yang diharapkan bisa menjadi gambaran permasalahan yang terjadi di Bali terkait administrasi kependudukan dan solusi yang bisa dilaksanakan guna meminimalisir permasalahan yang terjadi.
“Ternyata Ombudsman tidak hanya melaksanakan fungsi pengawasan, memastikan masyarakat mendapat hak pelayanan publik dan apakah pelayanan yang didapat sudah baik apa belum, tetapi juga melaksanakan kajian-kajian permasalahan yang terjadi seperti yang akan dibahas saat ini. Kajian yang dilaksanakan merupakan progress yang sangat bagus, karena bisa memberikan gambaran permasalahan pelayanan publik yang terjadi, walaupun belum tentu sama 100% di setiap Kabupaten/Kota,” ujar Dewa Indra.
“Pemilihan Kota Denpasar sebagai lokasi kajian pun menurut saya sangat ideal, karena seperti yang kita ketahui kota Denpasar memiliki permasalahan yang komplek dari segi administrasi kependudukan. Jika kita bisa menemukan permasalahan ditengah daerah yang komplek tentu permasalahan tersebut bisa mewakili yang dihadapi daerah lainnya, dan kita pun bisa mencari solusi yang tepat,” imbuhnya.
Terkait keberadaan desa adat dan desa dinas di Bali yang sama-sama memiliki kewenangan dalam mengatur warganya, khususnya dalam hal pelayanan administrasi kependudukan menurut Dewa Indra tidak perlu dipertentangkan, sepatutnya dibangun kesepakatan dengan batasan-batasan menuju pelayanan yang mapan.
