KARANGASEM, Balifactualnews.com – Tubuh I Gede Selamet (20) mungkin tak lagi bisa bergerak bebas seperti sebelum peristiwa itu. Luka bakar sekitar 40 persen kini menjadi bagian dari perjuangan hidupnya. Di ruang perawatan RS Prof Ngoerah Denpasar, pemuda asal Banjar Dinas Susut, Desa Muncan, Kecamatan Selat, Karangasem, itu masih harus menjalani serangkaian tindakan medis untuk mengembalikan harapan kesembuhan.
Sementara Selamet bertahan melawan rasa sakit, keluarganya berjuang melawan persoalan lain yang tak kalah berat terkait biaya pengobatan.
Uluran tangan masyarakat memang mulai berdatangan. Namun hingga Rabu (23/9), dana yang terkumpul baru sekitar Rp24,5 juta. Jumlah tersebut masih jauh dari kebutuhan operasi dan perawatan Selamet yang diperkirakan mencapai puluhan hingga ratusan juta rupiah.
Satu kali operasi diperkirakan membutuhkan biaya sekitar Rp20 juta. Sementara tindakan operasi disebut dapat dilakukan hingga empat sampai lima kali. Dengan hitungan tersebut, kebutuhan operasi saja bisa mencapai sekitar Rp100 juta, belum termasuk obat-obatan, perawatan dan kebutuhan medis lainnya.
Di tengah kondisi itu, keluarga Selamet nyaris tak memiliki ruang untuk bernapas. Kedua orang tuanya yang sehari-hari bekerja sebagai buruh harian kini tidak bisa bekerja karena harus mendampingi putra mereka. Selamet sendiri sebelumnya bekerja sebagai sopir truk untuk membantu menopang kehidupan keluarga.
Perbekel Desa Muncan, I Wayan Tunas, mengatakan bantuan masyarakat sangat berarti bagi keluarga Selamet. Namun, perjuangan untuk memenuhi kebutuhan pengobatan masih panjang.
“Kami sangat berterima kasih kepada masyarakat dan pihak-pihak yang sudah membantu. Sampai saat ini donasi yang terkumpul sekitar Rp24,5 juta. Bantuan ini sangat berarti bagi keluarga korban, tetapi kebutuhan pengobatannya masih cukup besar,” ujar Tunas.
Penggalangan dana pun masih terus dilakukan. Tunas berharap semakin banyak masyarakat dan pihak lain yang tergerak membantu.
“Kami masih berusaha menggalang bantuan. Mudah-mudahan ada masyarakat maupun pihak lainnya yang ikut membantu, sehingga biaya pengobatan Gede Selamet bisa terpenuhi dan keluarga tidak semakin terbebani,” harapnya.
Beban keluarga bahkan mulai terasa pada kondisi fisik mereka. Kedua orang tua Selamet disebut mulai menurun kesehatannya karena kelelahan setelah berulang kali mendampingi dan bolak-balik ke rumah sakit di Denpasar.
Sang nenek yang menyaksikan langsung peristiwa tersebut juga jatuh sakit. Pikiran dan kecemasan melihat kondisi cucunya membuat keluarga kini sama-sama berada dalam situasi yang berat.
Selamet sebelumnya menjadi korban dugaan pembakaran oleh bosnya sendiri setelah keduanya terlibat cekcok terkait persoalan setoran truk. Korban diduga disiram pertalite kemudian dibakar hingga mengalami luka bakar sekitar 40 persen.
Dalam kondisi tubuh terbakar, Selamet masih berusaha keluar dari kamar untuk meminta pertolongan. Warga kemudian mengevakuasinya ke Puskesmas Selat sebelum akhirnya dirujuk ke RS Prof Ngoerah Denpasar.
Kasus tersebut kini telah ditangani kepolisian dan pelaku telah ditetapkan sebagai tersangka.
Namun bagi keluarga Selamet, proses hukum bukan satu-satunya perjuangan. Ada perjuangan lain yang berlangsung setiap hari—menjaga Selamet tetap bertahan, memenuhi kebutuhan pengobatan, dan menunggu hari ketika pemuda itu bisa kembali pulang ke rumah.
Kini Selamet sedang berjuang untuk sembuh. Dan keluarganya sedang berjuang agar harapan itu tidak padam karena keterbatasan biaya. (tio/bfn)













